Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 29, kepercayaan


__ADS_3

...


Kamu sudah membuatku mati meskipun aku masih hidup. Matilah bersamaku wahai adikku. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia selama hidupmu. Walaupun jasadku mati, namun akan aku pastikan jika raga mu akan mati meskipun jasad mu hidup. Seperti zombie, kamu akan hidup tanpa arah.


Di dalam kamar mandi Chana dengan gemetar melihat pesan dari Misha yang mengancamnya. Chana membalas pesan itu dengan cepat karena Asdam sudah mengetuk pintu.


Kamu adalah perebut dan pencuri kebahagiaan ku. Asdam sudah tahu jika akulah yang anak kecil yang bersamanya dulu. Aku memiliki bukti kalung yang dia berikan padaku. Kamu sengaja berpura-pura menjadi aku agar dapat mendekati Asdam.


Satu pesan dengan cepat Chana kirim. Tetapi setelah mengingat jika Misha sedang sakit parah, Chana pun kembali mengirimkan pesan.


Sudahlah, Misha, aku mohon padamu fokus saja untuk berobat. Jangan pulang dulu dan tetaplah di sana. Aku berharap jika kamu akan segera sembuh. Aku mohon, lupakan Asdam, karena dia sudah menemukan yang dia cari selama ini, yaitu aku.


Chana tanpa ragu mengirimkan pesan itu kepada Misha.


"Chana, apakah kau masih lama?" tanya Asdam mengetuk pintu.


"Bentar!" sahut Chana dengan cepat menghapus pesan-pesannya dari Misha. Chana takut jika Asdam akan memeriksa handphonenya.


Tidak lama Chana pun keluar dari kamar mandi.


Chana pun terkejut ketika melihat Asdam yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Astaga! kamu mengagetkan aku saja," ucap Chana mengelus dada.


"Ada apa? kau seperti terlihat pencuri sedang ketahuan. Kamu membawa ponsel ke kamar mandi? siapa?" tanya Asdam dengan serius. Kini, Asdam semakin penasaran. Dari semalam Asdam memikirkan siapa yang mengirimkan pesan malam-malam kepada Chana. Dan paginya, Chana diam-diam ke kamar mandi dan membawa ponselnya.


"Tidak, ini hanya mamah saja," ucap Chana berniat untuk menghindari Asdam..


Tetapi tentu Asdam tidak percaya begitu saja. Asdam pun menghalangi Chana dan mengunci pergerakannya. Asdam memepetkan Chana ke tembok dan kedua tangannya menghalangi sisi kanan dan kiri.


Chana pun tidak berkutik. Hembusan nafas Asdam membuatnya gemetar. Chana, ia tidak tahu apa yang harus dia katakan.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak percaya padaku?" tanya Asdam menatap mata Chana dengan tajam..


"Bu-bukan begitu Asdam, aku tidak sungguh tidak berbohong. Mamah tadi malam chat aku, tanya apakah aku sudah tidur apa belum, karena mamah tahu aku sedang begadang," ucap Chana menjelaskan dengan cepat.


Namun hanya omong kosong siapa yang akan percaya dengan gelagat Chana yang terlihat jelas jika ia sangat panik..


Asdam hanya diam dan terus menatap Chana. Asdam tidak terus terang untuk ingin memeriksa handphonenya. Namun Asdam hanya ingin kepekaan Chana-lah yang menyerahkan handphone itu tanpa ia minta.


Chana yang masih kurang sinkron pun awalnya bingung mengapa Asdam bersikap seperti ini kepadanya.


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Chana menatap mata Asdam.


"Kamu yang tidak percaya padaku," sahut Asdam masih dengan menatap mata Chana dengan lekat.


"Kamu mau memeriksanya?" Chana akhirnya memberikan ponselnya ke Asdam.


Melihat Chana melepaskan ponselnya, Asdam pun tersenyum. "Tidak, aku percaya padamu," jawab Asdam merasa sangat senang kali ini. Tidak perlu bener-benar memeriksa handphonenya, hanya dengan Chana mau menyerahkan ponselnya, itu saja sudah cukup bagi Asdam untuk percaya dengan Chana.


"Kamu yakin tidak mau memeriksanya?" tanya Chana yang masih heran dengan sikap Asdam. Awalnya terlihat marah, namun ketika disuruh periksa handphonenya, ia malah hanya tersenyum tanpa mau memegang handphonenya.


Mendengar kepercayaan besar yang Asdam berikan padanya, justru membuat beban di pundak Chana semakin berat. Chana sangat takut jika beban itu akan menimpanya.


"Mau mandi bersama?" tawar Asdam berbisik di telinga Chana sehingga menimbulkan rasa geli..


"Ah, geli!" Chana pun menjauhkan telinganya dari hembusan nafas Asdam yang terasa sangat berat.


Chana mengerti apa mau Asdam kali ini. Tetapi jam menunjukan pukul 9 pagi, ia hanya tidur 4 jam setengah semalaman bergadang, sehingga gairahnya belum timbul ke ubun-ubun.


Melihat penolakan Chana yang secara halus, Asdam pun langsung tertunduk lesu dan melepaskan pelukannya.


"Ya sudah, kau mandi duluan saja, aku akan menunggu mu di sini," ucap Asdam yang langsung berjalan menjauhi Chana.

__ADS_1


Chana pun merasa bersalah karena sudah menolaknya. Mau bagaimana pun, ia adalah suaminya, sudah tugasnya untuk melayaninya.


"Sayang?" panggilan baru dari Chana untuk Asdam mampu buatnya mendelik. Asdam menoleh dan tersenyum sumringah ketika melihat Chana yang memanggilnya dengan gaya sangat menggoda.


Chana melepaskan kancing bajunya satu persatu dan mengedipkan mata genit kepada Asdam. Asdam pun menggelengkan kepalanya dan berlari ke arah Chana..


"HAHAHAHA...!" Chana pun tertawa ketika Asdam menariknya dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah mengatur air hangat untuk mandi, muka Chana terlihat memerah ketika Asdam membantunya melepaskan setiap helai kain yang menempel pada tubuhnya.


Di bawah guyuran air shower yang hangat, dua insan bergulat mesra menikmati sensasi yang baru mereka lakukan.


Rasa ngantuk dan lelah, dan juga pikiran yang memenuhi otak Chana, kini hilang seketika. Hanya ada rasa nikmat yang ia rasakan saat ini. Bersama dengan Asdam, Chana pun melepaskan penat yang menganggu pikirannya.


Setiap sentuhan lembut yang Asdam berikan, Chana pun merasa jika kini adalah gilirannya. Chana membantu melepaskan pakaian Asdam yang sudah basah di guyur air shower.


Pagi-pagi, pergulatan di kamar mandi sangat pas. Karena setelah ehem-ehem, mereka akan langsung mandi dan menyegarkan diri, tidak rebahan dulu tidak tidur-tiduran dulu.


......................


Terlihat sebuah tangan menggenggam ponselnya dengan sangat erat. Urat-urat pada lehernya ikut mengeras. Matanya memerah penuh dengan kebencian. Misha sudah membaca balasan yang di kirim oleh Chana.


"Aku janji, aku tidak akan mati sia-sia. Tidak akan biarkan kamu hidup dengan bahagia di atas penderitaan ku!" geram Misha terlihat menahan gejolak panas hati di dalam jiwanya.


"Misha?" Mama Tirana masuk ke dalam kamar. Misha pun dengan buru-buru menghapus air matanya.


"Iya, mah?" jawab Misha tersenyum. Ia menyimpan dendamnya kepada Chana agar mamanya bersedia membawanya pulang hari ini.


"Apakah kamu yakin akan pulang? Mamah sudah bicara dengan dokter, dan dokter pun bertanya sekali lagi. Mereka masih berharap kamu tetap berada di sini," ucap Mama Tirana.


"Misha ingin pulang, Mah!" jawab Misha dengan kekeuh.

__ADS_1


"Baiklah, mamah akan persiapkan kepulangan mu. Kamu tunggu di sini ya, mama akan menemui dokter dulu," ujar Mama Tirana kembali meninggalkan Misha Seorang diri.


Misha pun tersenyum sarkas ketika mamanya pergi. Sepertinya, Misha sudah menyiapkannya bom yang cukup besar.


__ADS_2