
"Chana, apakah kamu tahu, selama 4 bulan ini, Asdam sama sekali tidak perduli padamu. Semuanya tidak ada yang peduli padamu. Aku sering keluar ke kota untuk membeli kebutuhan kita. Tetapi aku tidak pernah mendengar dan menemukan surat kabar hilangnya seseorang. Kamu tidak pernah di kabarkan hilang oleh suamimu.
Aku dengar jika Misha kini telah sembuh dan kembali ke rumah. Bisa jadi, mereka rujuk kembali dan membiarkan kamu hilang begitu saja."
ujar Ziga memberi tahu yang sebenarnya tentang pengamatannya selama ini. Karena memang sebelumnya Asdam tidak pernah mempublikasikan hilangnya Chana.
Chana yang mendengar itu pun langsung merasa kecewa seketika. Ia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Ziga.
"Itu tidak mungkin. Asdam sangat mencintai ku meskipun awalnya sangat sulit. Tetapi kami bisa melewati semuanya. Aku tidak percaya denganmu, Ziga!" ujar Chana terlihat kesal kepada Ziga.
"Chana, untuk apa aku berbohong. Lelaki yang tulus mencintai kamu hanyalah aku, apakah kamu tahu itu!?" ujar Ziga.
"Tidak! kamu tidak mencintai ku dengan tulus. Kamu hanya berambisi dengan sesuatu yang memang tidak di takdirkan untuk mu!" sahut Chana.
"Chana, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" Ziga terlihat sangat kecewa.
"Ziga, biarkan aku melihat dengan mata kepala ku sendiri jika memang Asdam dan Misha balikan. Jika memang benar begitu, aku dengan suka rela tinggal di sini bersamamu selamanya." ujar Chana mencoba untuk menjebak Ziga dengan kata-kata.
Ziga terdiam sesaat. "kamu tidak perlu kemana pun. Kamu akan tetap berada di sini bersama ku selamanya." jawab Ziga dengan serius.
"Ziga, aku tidak bisa bersamamu!" sahut Chana memuncak.
"Kita pasti bisa!" sahut Ziga dengan menahan kesal dan langsung menarik Chana masuk ke dalam kamar dan kembali memborgolnya.
"Jangan Ziga, aku mohon jangan! maafkan aku, aku janji aku tidak akan-" Chana berderai air mata memohon agar Ziga tidak lagi memborgolnya di kamar.
__ADS_1
"Sayang, aku akan pergi sebentar. Kamu istirahat di sini ya." Ziga dengan santainya mencium kening Chana dan meninggalkan Chana seorang diri.
"Zigaaaaa!" teriak Chana histeris. Namun Ziga tidak mendengarkan Chana dan langsung mengambil kunci mobil dan langsung meninggalkan vila.
Chana hanya bisa menangis tidak berdaya. Rasanya seperti tercekik setiap saat ketika sedang berada di sisi Ziga. Rasanya ia sudah sangat rindu dengan suami dan juga keluarganya.
Ketika Chana sedang meratapi nasibnya, tidak sengaja matanya melihat kunci borgol berada di atas meja. Tetapi kunci itu berada di sebelah sebrang sisi kasur.
Melihat ada kesempatan emas, Chana pun langsung mencoba untuk mengambil kunci tersebut menggunakan kakinya yang panjang.
Tetapi sayang, sedikit lagi kunci itu akan sampai dalam genggamannya namun kakinya kurang panjang satu jengkal lagi.
Tidak hilang akal, Chan pun langsung menggunakan bando yang ia gunakan untuk meraih kunci itu.
Setelah rasa sakit dan perjuangan yang pasti, akhirnya Chana berhasil mencantolkan kunci ke bandonya.
Setelah borgol di lepas, Chana pun langsung bergegas mencari kunci motor. Setelah menemukan kunci motor, Chana pun langsung berlari ke menuju gudang di mana Ziga menyimpan motornya.
Sialnya, itu adalah motor koplingan. Chana tidak pernah membawa motor koplingan seumur hidupnya.
"Oh Shitttt!" umpat Chana kesal sekali. "Sial, gimana aku bisa membawa motor ini!?" tukasnya bingung.
"Oke, aku akan mencobanya." yakin Chana sambil memejamkan matanya.
pertama-tama Chana mengingat-ingat ketika dia di bonceng oleh Ziga ketika sedan pacaran dulu. Chana mengingat pergerakan Ziga ketika akan mengegas motornya.
__ADS_1
Konsentrasi Chana mengingat-ingat hal itu sangat tajam. Meskipun ia ragu-ragu, tetapi hasilnya Chana berhasil menjalankan motor itu dengan susah dan payah.
Meskipun gigi satu Chana hajar, ia tidak peduli yang penting motornya bisa jalan.
Jalanan yang licin, banyak pohon dan sempit membuat Chana sedikit kewalahan untuk kabur.
Ayo Chana, kamu pasti bisa!
Gumam Chana meyakinkan dirinya sendiri.
Meskipun jalan berlubang dan akar pohon membuatnya kesulitan, Chana tetap menerjang semua itu sampai perutnya terasa nyeri. Tetapi, karena kurangnya ke ahlian Chana membawa motor koplingan, ia pun akhirnya...
BRUAK!
......................
Di sisi lain, Misha, Asdam dan Nyonya Beckham sudah sampai di desa di mana ibunya Ziga tinggal.
Terlihat Misha mencoba menanyakan kepada orang-orang sekitar tempat tinggal ibunya Ziga.
Ketika sudah mendapatkan informasi, mereka pun akhirnya di arahkan pada sebuah rumah kayu tradisional yang dijaga unik dan berkelas.
"Apakah ini rumah ibunya Ziga?" tanya Nyonya Beckham.
"Katanya orang-orang sih, Tante." jawab Misha.
__ADS_1
Asdam dan Sekertaris Rein memperhatikan sekitar. Diam-diam, sekertaris Rein meletakan sebuah kamera mini untuk memantau perumahan ibunya Ziga.