Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
#Perjuangan


__ADS_3

Segerombolan orang-orang terlihat mengelilingi Asdam dan juga Sekertaris Rein. Para orang-orang suruhan sudah siap untuk menerima perintah dari tuan mereka.


Sudah semalam Asdam kehilangan sang istri, Asdam semakin menggila karena ketakutan. Ia sangat takut jika orang misterius yang menculik istrinya berbuat jahat dan mencelakai Chana.


Asdam sudah mengecek cctv-nya, namun ia tidak menemukan apapun yang dapat mengarah ke seseorang yang berpakaian tertutup serba hitam yang sudah menyekap Chana.


"Saya membayar kalian dengan mahal, tapi dengan syarat, cari dengan jeli di mana istri saya berada, temukan dia dan juga orang yang sudah berani menculiknya!" Asdam memerintah dengan semua urat yang telah mengeras.


Mata memerah merasa tidak sabaran untuk ingin segera menemukan istrinya.


"SIAP!" sahut para bawahan dengan kompak dan lalu membubarkan diri masing-masing.


20 ketua Intel Asdam sewa berharap jika istrinya bisa segera di temukan.


Sekertaris Rein terlihat sangat sigap karena ia juga sebenarnya merasa sangat bersalah.


"Tuan, saya akan membantu sebisa saya untuk mencari Nona Chana." ujar Sekertaris Rein.


Namun Asdam hanya diam dan menatap lurus ke tembok tanpa mengalihkan matanya pada lawan bicara.


Melihat tuannya masih tidak ingin berbicara padanya, Sekertaris Rein pun langsung pamit begitu saja.


Asdam pun merasakan jantungnya tidak berdetak dengan baik. Rasanya sangat kesal namun ia tidak berdaya. Asdam ingin sekali meninju dan memukul seseorang. Namun ia sudah berjanji kepada Chana, jika ia tidak boleh lagi menggunakan kekerasan.


"Shii..it!' umpat Asdam kesal. "di mana kamu, Chana? apakah kamu baik-baik saja?" gumam Asdam terlihat sangat gusar.


Alden yang mengetahui jika kakak iparnya menghilang pun langsung membuka komputernya dan mencoba untuk membajak rekaman di mana awak Chana di sekap.


Kemampuan Alden terlatih begitu saja karena hobinya yang selalu berada di kamar sambil belajar membajak dokumentasi.


Namun Alden tidak memberi tahu siapapun tentang keahliannya ini, jika dia memberi tahu keluarganya, maka kemungkinan besar dia akan di manfaatkan, dan peluang untuk menjadi pemain piano profesional akan gugur.


Alden menyimak banyak rekaman. Tetapi, sepertinya penculik ini bukan orang sembarangan. Dia selalu tepat menghindari kamera cctv-nya.


Alden yang tidak menemukan petunjuk penting pun hanya bisa marah pada dirinya sendiri.


"Aisht! sial, aku tidak akan menyerah begitu saja, sialan, aku akan menemukan mu!" umpat Alden terlihat uring-uringan sendiri.


Di sisi lain, terlihat Misha yang akan menjalani operasi ingin menelpon seseorang terlebih dahulu, yaitu Ziga.

__ADS_1


Misha ingin Ziga datang setelah usai bekerja. Tetapi, yang Misha tidak tahu, saat ini Ziga sudah tidak ada lagi di Korea, melainkan kini Ziga sudah berada di negara asalnya dan kini sedang menyekap adiknya.


Beberapa kali Misha mencoba menelpon, nomor Ziga tidak juga bisa di hubungi, atau tidak aktif.


"Kemana sih orang dia ini, sudah beberapa hari gak bisa di hubungi terus? apa dia marah kepadaku ya?" gumam Misha heran.


Seorang perawat pria datang menghampiri Misha.


(Menggunakan bahasa inggris. Translate)


"Hay, apakah sudah siap untuk jam 4 nanti?" perawat pria tinggi dan tampan ini mampu selalu membuat Misha merasa tenang.


"Siap dong, Hae. Kamu tahu, merasa sangat takut sekali. Setelah sekian lama, akhirnya aku di kalahkan juga dengan penyakit ini," ujar Misha bercurhat.


Perawat yang memiliki nama Hae Jun Ki yang biasa menemani Misha itu terlihat sudah akrab dengan Misha. Terlebih, saat ini Misha sudah mau berbaur dengan para perawat-perawat.


"Percayalah, meskipun sekarang kau di kalahkan, tetapi pada akhirnya kaulah yang akan menjadi pemenangnya," ujar Hae memberi support.


"Baiklah, kita akan bertaruh, bagaimana? jika beneran menang, maka aku akan memberimu hadiah apapun yang kamu inginkan. Tetapi, jika aku kalah, kamu harus datang ke acara pemakaman ku di rumahku," ujar Misha dengan antusias. Meskipun Misha tersenyum, namun jauh di lubuk hatinya, ia juga merasa sangat sakit sekali.


"Em.. baiklah, sepertinya seru. Tapi benar, kau akan memberikan apapun yang aku mau?" tanya Perawat Hae.


"Sekali uangku cukup, maka aku akan mewujudkannya." sahut Misha dengan yakin.


"Benarkah, ketika aku jatuh koma, saat aku bangun, aku selalu merasa jika aku sudah tidak memiliki kecantikan lagi," ujar Misha dengan tegar.


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu. Apakah kaca di rumahmu kurang besar? atau kurang jernih, aku akan membawakan kaca terbaik yang ada di Korea agar mau bisa mengaca, bagaimana cantiknya dirimu ini!" ujar Hae dengan antusias memuji Misha.


"Hahaha .. seperti aku memang harus membeli cermin baru dari Korea." sahut Misha benar-benar merespon gurauan Hae.


"Hae, sudah siap!" ujar seorang perawat lainnya memberi tahu.


Hae pun menatap Misha dengan tatapan memberi dukungan penuh.


"Apakah kamu siap!?" tanya Hae sekali lagi.


"Siaaap!" sahut Misha dengan antusias.


Ketika Misha masuk ke dalam ruang operasi, Hae terlihat sangat menyimpan rasa empati yang besar kepada Misha. Ini adalah operasi besar yang akan Misha jalani, namun tidak ada keluarganya yang datang untuk menemaninya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, Nyonya Tirana dan tuan Bea- sedang berada di jalan tetapi tiba-tiba saja mobil mereka mogok karena kehabisan bensin.


Tuan Bea- dan Nyonya Tirana baru saja menemui teman mereka yang berada di Korea namun beda kota.


Jadwal operasi di majukan membuat Tuan Bea- dan Nyonya Tirana tidak siap untuk itu.


Di sisi lain, terlihat Nyonya Tirana dan Tuan Bea- kebingungan karena mereka berada sebuah jalan sepi yang hampir jarang sekali mobil dan atau kendaraan lainnya lewat. Sepertinya jalan pintas yang mereka ambil ini tidak pernah di lewati lagi. pikir mereka.


"Pah, lagian kenapa papah lewat jalan pintas, sih? kalo kaya gini jadinya gimana donk!?" tanya Nyonya Tirana bingung. Mana di tempat itu tidak ada sinyal.


"Ya papah kan cuma ngikutin google maps, mah!" sahut tuan Bea-.


"Tau, ah! kesel deh mamah!" Mama Tirana pun ngambek dan duduk di tepi jalan yang menghadap ke arah daratan hutan, karena saat Meraka berada di jalan perbukitan.


Tuan Bea- pun ikut duduk samping Mama Tirana dan tersenyum. "Mah, lihatlah bintang bintang itu, banyak sekali ya?" ujar Tuan Bea menunjuk bintang yang bergemelap.


"Iya, pah, itu indah sekali," jawab Mama Tirana yang menikmati malam ini.


"Mah, andai Misha-"


"Mamah akan menerima keputusan tuhan, Pah. Tetapi, sebelum mamah akan benar-benar kehilangan, mamah akan berusaha dan berjuang sekuat mungkin untuk menyembuhkan Misha." ujar Mama Tirana dengan tegar, meksipun, jauh di lubuk hatinya, ia sama sekali tidak ikhlas dan tidak siap.


Seorang ibu mana yang mampu kehilangan anaknya. Andai bisa di tukar, bahkan orang tuan pun siap menggantikan posisi anaknya.


"Tapi papah yakin, Misha pasti akan sembuh. Sejauh ini, anak itu sudah bertahan dengan baik. Hanya saja, papah akui, jika papah kurang mendukung dia, dan bahkan, papah malah membuat ia semakin drop. papah benar-benar merasa sangat bersalah," ujar Tuan Bea- mengakui kesalahannya.


"Masih belum terlambat, pah. Misha adalah anak yang tegar dan memiliki keinginan yang kuat, dia pasti sudah dapat menerima kenyataan semua ini demi lapang dada."


Tuan Bea- merangkul istrinya dengan erat. Karena mama Tirana sudah tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Tuan Bea- hanya bisa memberikan kehangatan untuk menguatkan sang istri.


Tidak lama, ada sebuah truk yang melaju di jalan tersebut. Seperti sebuah keberuntungan, Tuan Bea pun langsung menghadang mobil tersebut.


Karena supir itu tidak bisa berbahasa Inggris, jadi Tuan Bea- hanya bisa memberi kode jika mobilnya kehabisan bensin.


Mengerti dengan maksud tuan Bea-, pak supir pun langsung mengambil sedikit bensin dari mobilnya.


Karena sangat berterima kasih, Tuan Bea pun memberikan uang tips untuk untuk pak supir tersebut.Namun, ternyata pak supir seperti adalah malaikat yang di kirim oleh tuhan, ia menolak halus yang yang di berikan oleh tuan Bea-.


"Makasih, makasih!" ujar Tuan Bea-memberikan kode.

__ADS_1


"Sama-sama!" seperti itu lah kurang lebih jawaban pak supir.


Karena takut ke sasar lagi, akhirnya Tuan Bea- pun mengikuti pak supir dari belakang sampai mereka berada di jalan utama.


__ADS_2