Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 11 Ketidak berdayaan


__ADS_3

Setelah menempuh waktu hampir 30 menit, akhirnya Asdam dan Chana sampai di sebuah villa dengan model bangunan tradisional. Nampak asri namun elegan. Villa ini berada di sisi bukit yang nampak indah.


"Gunakan kembali perban untuk menutupi lukamu, jangan sampai mereka melihat luka jahitan yang mengerikan itu. Aku tidak ingin mereka salah faham dan malah akan membunuhku," ujar Asdam mengambil kotak obat untuk Chana.


Chana pun enggan untuk membalas ucapan Asdam yang setiap saat hanya ingin mengajaknya berdebat.


Chana pun menatap kotak obat itu dan sesekali menatap Asdam yang terlihat acuh.


"Kenapa? Ada apa? Apa kamu berharap aku akan memakaikan perban untuk mu?" tanya Asdam mengejek Chana.


"Tidak!" sahut Chana cepat sambil tangannya mengambil kotak obat itu.


Setelah beberapa saat, akhirnya luka Chana tertutup dengan sempurna.


Chana pun sesekali melihat ke arah kaca untuk memastikan jika lukanya tertutup sempurna dan rambutnya sudah rapi kembali.


"Cepatlah, aku tidak ada waktu untuk menunggumu lebih lama," cetus Asdam yang langsung membuka pintu mobil..


Iiiiiiiissshht... pria itu benar-benar sangat menyebalkan sekali, sih! umpat Chana dalam hati.


Chana pun turun dari mobil dan mengikuti Asdam dari belakang. Sampai Chana tidak memperhatikan jika Asdam yang berada di depannya terhenti, dan akhirnya.


BRUK!


"AW!" Chana pun meringis karena luka j


jahitannya terbentur pundak Asdam.


"Ada apa lagi? kenapa berhenti mendadak?" tanya Chana kesal.


"Perhatikan jalanmu, di sini akan banyak orang menyambut kita dan menatap kita. Apa kamu akan terus mengekori ku seperti seorang pelayan!?" cetus Asdam.


Chana benar-benar sangat malas berdebat dengan Asdam sehingga ia pun langsung berdiri di samping Asdam.


"Pegang tanganku dan tunjukkan pada mereka jika kita baik-baik saja. Kakek sedang tidak kurang sehat, jangan sampai kesehatannya terganggu dengan sikapmu yang kurang baik," jelas Asdam.


"Apa katamu? sikapku tidak baik!? kamu benar-benar ahli dalam memutar balikkan fakta," cetus Chana yang sudah benar-benar di buat kesal oleh sikap Asdam.

__ADS_1


Meraka pun akhirnya masuk ke dalam Villa. Beberapa orang sudah siap untuk menyambut kedatangan Asdam dan Chana.


Kakek sangat menjaga tradisi yang melekat pada keluarganya. Penyatuan untuk menjaga keharmonisan pasangan dan juga untuk menjaga hoki dalam keluarga mereka.


Beberapa biksu membacakan mantra dan juga mencipratkan air bunga ke Asdam dan juga Chana yang sedang berlutut dan memejamkan mata dengan menyatukan ke dua tangan mereka.


Terlihat Asdam dan Chana khusyuk dalam berdoa sesuai dengan tuntunan dari biksu.


Acara demi acara akhirnya mereka pun mendapatkan berkat dari biksu dan juga kakek.


"Sayang, sesibuk apapun kami, kami akan tetap berusaha untuk menjalankan ritual ini dalam keluarga kita secepat mungkin. Dengan begini, semoga kalian terhindar dari mata-mata hitam di luar sana," ujar Nyonya Beckham yang ikut memberkati Chana dan Asdam.


"Terima kasih, mah. Senang akhirnya dapat bertemu mama lagi," ujar Chana memeluk Nyonya Beckham.


"Sudah mama katakan, kami akan jarang berada di rumah," jawab Nyonya Beckham membalaskan pelukan sang mantu.


"Chana!?" panggil kakek yang duduk di kursi khusus untuknya.


"Iya, kakek?" Chana pun mendekati sang kakek.


"Ini, ini adalah hadiah dari kakek, letakan jimat ini di atas tempat tidur kalian. Asdam selalu menolak hal-hal berbau mistis, jadi kakek serahkan ini kepadamu," ujar kakek.


"Baik, kek. terima kasih banyak. O iya, mengapa kakek tidak tinggal bersama kami di Mansion? Mengapa kakek memilih tinggal di sini sendirian?" tanya Chana mencoba mendekatkan diri kepada kakek. Karena usai menikah, Chana sendiri baru sekali melihat kakek waktu sarapan pagi kala itu.


Kakek pun tersenyum dan menjawab, "Rumah di sini udaranya sangat sejuk, sangat cocok untuk kakek yang sudah tidak sakit-sakitan ini. Lagi pula, kakek tidak sendirian di sini, ada banyak pelayan dan juga setiap hari selalu ada orang yang datang silih-berganti untuk menjenguk kakek, walaupun mereka ada maunya, hehehe," jelas kakek.


Chana pun hanya ikut tersenyum melihat kakek tersenyum.


Ah, ternyata kakek adalah orang yang sangat berpengaruh di keluarga ini. gumam Chana dalam hati.


Asdam hanya diam sedari tadi ketika keluarga sangat menyayangi dan mencintai Chana. Entah mengapa, keperdulian keluarganya terhadap Chana membuat Asdam merasa tidak suka. Asdam masih belum menerima Chana dalam hidupnya, tidak mudah meluluhkan hati seorang Asdam yang sangat kaku. Misha sendiri butuh waktu 3 tahun untuk Asdam bersedia bertunangan dengannya usai perjodohan mereka.


"Asdam, Chana, Kakek harap kalian segera memberikan kakek seorang cicit. Kalian sama-sama sehat, seharunya kalian sudah bisa positif di akhir bulan depan," ujar kakek memprediksikan kesuburan Chana.


CEGLUK


Chana dan Asdam sama-sama menelan saliva mereka dengan sulit. Tidur bareng saja mereka belum pernah, apalagi ini, anak?

__ADS_1


"Mamah akan memanggil dokter spesialis kandungan untuk datang ke rumah. Chana, mamah harap kau tidak dulu bekerja, biarkan butik kamu di urus oleh orang-orang mamah. Mamah memiliki banyak kenalan untuk meramaikan butikmu. Kamu saat ini hanya harus fokus pada program kehamilan. Apakah kamu mengerti?" tanya Nyonya Beckham membuat Chana kali ini benar-benar sulit untuk tersenyum.


Ini sepertinya bukan pernyataan, ini lebih ke perintah. gumam Chana pasrah.


Meskipun Asdam adalah orang kaku dan keras, namun di depan keluarganya, ia pun tidak dapat berkutik sama sekali.


"Kolaborasi dua perusahaan akan lebih kuat jika penerus keluarga ini lahir. Jika bisa, pastikan kalian memiliki dua anak laki-laki dalam keluarga ini, sisanya anak perempuan mau sebanyak mungkin itu tidak masalah," ujar Tuan Paulo menambhakan.


Chana pun semakin lemas usai mendengarkan ucapan ayah mertuanya. Senyum manisnya seketika berubah menjadi palsu saat ini.


...****************...


Di sisi lain, terlihat salju turun dengan perlahan menyapa bumi. Setiap salju yang turun membuat seorang yang sedang duduk di kursi roda ikut menetaskan air matanya.


Misha meremas kuat selimut yang membalut tubuhnya. Sembari menatap Salju dari jendela rumah sakit, Misha bersumpah jika ia akan membalas dendam.


"Asdam, Chana, kalian harus menerima akibatnya karena sudah mengkhianati ku. Papah, kau harus membayar mahal dengan keputusan mu yang menggantikan ku dengan Chana. Andai papah menolak, maka pernikahan Chana dan Asdam tidak akan terganti, dengan begitu, papah akan adil dengan kedua putri papah. Tetapi, sepertinya keserakahan telah membuat hati papah mati."


Misha menahan sakit di hatinya dengan tekad di hatinya jika harus sembuh dan balas dendam.


Ziga pun tidak lama datang membawakan sebuah tutup kepala untuk menghangatkan kepala Misha.


"Hay, apakah kamu suka melihat salju?" tanya Ziga menyapa Misha.


"Ziga, terima kasih banyak. Aku tidak percaya, ketika aku membuka mata, aku melihat mu di samping ku, aku fikir-"


"Fikir apa? apakah kamu berfikir akan melihat malaikat maut ketika membuka mata?" ujar Ziga bergurau.


Misha pun tersenyum dan berkata, "Aku pun berharap begitu," jawabnya lesu.


"Misha, mengapa kau tidak pernah mengatakan soal penyakitmu ini kepada keluarga mu?" tanya Ziga yang juga sebenarnya menyayangkan keputusan Misha yang memilih untuk diam kala itu perihal penyakitnya.


Misha pun menghela nafas berat. "Aku takut, aku takut perjodohan itu di batalkan, dan aku takut Asdam akan meninggalkan aku. Tetapi pada akhirnya-"


"Sudahlah, aku mengerti apa maksud mu. Namun, satu hal yang harus kau ketahui, sekeras apapun kita berusaha, keputusan berada di tangan tuhan, saat ini, aku harap kau harus tenang dan fokus untuk penyembuhan, kamu harus sembuh," ujar Ziga mencoba untuk menyemangati Misha.


"Ziga, bagaimana bisa kamu sekuat ini? padahal kamu juga korban dari keserakahan mereka. Bukankah kamu dan Chana akan menikah? Tapi Chana sendiri malah berpaling dari mu," ujar Misha mencoba untuk memancing Ziga agar ikut menyalahkan Chana.

__ADS_1


Namun Ziga tahu semuanya. Jika ini bukanlah kemauan Chana. Chana sendiri terpaksa menikah dengan Asdam. Jadi Ziga tidak akan bisa membenci Chana meksipun ia merasa sakit hati.


Diam-diam Ziga justru kasihan pada Misha, karena sebenarnya Misha-lah yang tidak tahu apapun masalah yang sedang menimpa mereka.


__ADS_2