Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 52. Tak layak dimaafkan


__ADS_3

"Papaaaah... bagaimana ini bisa terjadi, maafkan putrimu yang terlambat menyelamatkan mu, huaaa...aaa..aaa!"


Nyonya Beckham terlihat menangis di depan peti mati ayahnya, kakek Marquez.


Tuan Paulo nampak mencoba untuk menenangkan istrinya.


"Sayang, tabahkan hatimu, biarkan papah beristirahat dengan tenang." tuan Paulo memeluk sang istri, meskipun ia juga merasa kehilangan sang ayah mertua terbaik.


Nyonya Tirana yang mendapatkan kabar dari sang suami jika kakek ke meninggal dunia, ia langsung bergegas dari apartemen Misha ke villa kakek.


"Pah, bagaimana bisa kakek Marquez meninggal?" tanya Nyonya Tirana kepada tuan Bea-, berbisik.


"Gara-gara Asdam," bisik tuan Bea-.


"Mereka berdua sudah sangat keterlaluan. Mamah sudah memaksa Misha untuk pindah berobat ke keluar negeri lagi. Mamah sangat menyesal sudah mengizinkannya pulang!" geram Nyonya Tirana.


"Ini lah yang aku takutkan, tetapi mau bagaimana lagi. Sekarang biarkan mereka yang mengambil keputusan. Keputusan ada di tangan Asdam," ujarnya.


"Pah, apakah sudah kabar dari Chana?" tanya Nyonya Tirana.


"Belum ada, papah percaya jika Chana akan kembali. Dia adalah anak yang kuat dan hebat. Papah percaya dengan putri, papah." ujar Tuan Bealonza..


Nyonya Tirana pun hanya mengangguk mengerti. Mereka pun masuk ke dalam dan menemani besan untuk menyapa para tamu yang hadir.


Di sisi lain, Asdam terlihat masuk kerumahnya dan berjalan cepat. Asdam juga terlupa jika dari kemarin dia mengunci adiknya di dalam kamar.


Asdam melihat jika beberapa body guard masih menjaga pintu kamar Alden.


"Apakah dia keluar kamar?" tanya Asdam.


"Tidak, Tuan!"


"Apakah dia makan dengan baik?" tanya Asdam lagi.


"Tuan muda Alden nampak tidak mau memakan makanan yang di antar oleh pelayan," jawab body guard.


"Minggirlah," ujar Asdam yang bergegas masuk ke dalam kamar Alden.


Rasa bersalah menghantui dirinya. Asdam tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai Alden kenapa-kenapa.


Ketika Asdam masuk ke kamar Alden, Asdam tidak melihat keberadaan adiknya. Asdam pun terlihat panik dan memeriksa kamar Alden dari segala penjuru sudut.


Asdam membuka pintu kamar mandi, balkon, lemari, ruangan salin, namun semuanya tidak ada keberadaan Alden.


Sampai akhirnya, Asdam memeriksa di bawah kasur. Betapa terkejutnya Asdam mengetahui jika adiknya bersembunyi di bawah kasur.


"Alden, apa yang kamu lakukan di sana?".tanya Asdam melihat adiknya bermain ponsel di bawah kasur.

__ADS_1


Namun Alden tidak mendengar apapun karena ia menggunakan handset.


Asdam pun dengan terpaksa ikut masuk ke bawah kolong kasur dan merebahkan tubuhnya di samping Alden.


Sontak Alden pun terkejut dengan kehadiran kakaknya yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


Alden melepaskan handsetnya dan menoleh ke arah Asdam, "kak, apa yang kamu lakukan di sini!?" tanya Alden.


Asdam menatap bawah kasur dengan perasaan penuh guncangan. Tatapannya kosong dan ia merasa sulit bernafas saat ini.


"Alden, maafkan Kakak, ya? aku sadar, aku salah." jawab Asdam.


"Oh, iya gak papa, kalian tanpa kakak mengunci pintu kamar ku, aku juga udah biasa menguncinya sendiri berhari-hari, jadi tidak masalah," jawab Alden dengan sangat sembari memasangkan handset di telinganya.


"Alden, apakah kamu tidak merasa jenuh dengan kegiatan mu yang seperti ini di rumah?" tanya Asdam.


"Tidak, aku sudah terbiasa. Aku sudah menghabiskan setengah waktu di sekolah, sisanya di rumah."


"Apakah kamu tidak memiliki seorang teman?" tanya Asdam.


"Em, tidak!"


"Lalu, kenapa tagihan makanan di restoran selalu banyak. Apakah kamu makan sendiri?" tanya Asdam.


"Oh, itu aku hanya membayarkan anak-anak yang tidak mampu," jawab Alden santai.


"Biasalah, anak-anak jahil!" jawab Alden.


"Em, jadi benar kamu di bully di sekolahan?" tanya Asdam.


"Tidak! mereka hanya meminta di traktir dan aku pun mentraktirnya. Lagian, uang kakak berikan, tak pernah habis aku pakai. Yah, itung-itung mentraktir mereka bisa membuat aku tertawa." jawab Alden.


"Kamu tidak keberatan uang kamu di habiskan oleh mereka?" tanya Asdam.


"Tidak, Kak! justru aku sangat puas ketika melihat mereka makan dengan rakus. Mereka seperti babi yang tidak pernah makan selama bertahun-tahun." jawab Alden.


Asdam pun tersenyum puas mendengar jawaban sang Adik. Tidak di duga, jiwa mentalnya cukup tinggi juga meskipun Alden anak yang pendiam. Menaklukkan seseorang tidak harus dengan kekerasan, cukup memperlakukan musuh seperti gelandangan, itu cukup untuk memuaskan nilai kemenangan yang sesungguhnya.


"Kak, apakah kak Chana tidak akan kembali ke rumah ini?" tanya Alden tiba-tiba.


"Aku akan berusaha mencarinya," jawab Asdam.


"Aku melihat berita, mamah dan papah di tangkap?" tanya Alden yang masih belum tahu jika orang tuanya sudah bebas.


"Meraka sekarang sudah berada di rumah kakek," jawab Asdam.


"Oh, kakak mencabut tuntutan, atau kakak kalah?" tanya Alden dengan santai sambil melanjutkan memainkan gamenya.

__ADS_1


"Kamu benar, sudah resiko kita memiliki orang tua seperti mereka," jawab Asdam yang mengaku kalah dengan Alden, adiknya.


Alden yang belum tahu jika kakeknya meninggal hanya bisa menertawai kakaknya yang begitu naif.


"Alden, selain kepergian Chana dan juga masalah orang tua kita, ada masalah yang lebih besar lagi gara-gara kekacauan yang kakak perbuat," ujar Asdam jujur.


"Hmm..?" Alden terlihat acuh tak acuh.


"Alden, Sekertaris Rein koma gara-gara aku," jelas Alden.


"Jika sampai mati, aku sangat yakin kakak tidak akan menemukan orang seperti dia lagi," jawab Alden terlihat kaget namun masih bisa tenang.


"Kamu benar. Dan, juga, Kakek meninggal gara-gara kakak," ujar Asdam.


Kali ini Alden meletakkan ponselnya. Alden pun berusaha keluar dari kolong kasur.


Asdam pun ikut keluar dan melihat Alden yang menatapnya dengan tajam.


"Apa yang kamu katakan, ba jingan!" tukas Alden mencuak marah.


"Maafkan aku."


Asdam hanya bisa menunduk karena ia kini benar-benar merasa sangat bersalah.


"Apakah sekarang mamah dan papah sedang berada di villa kakek untuk pemakaman?" tanya Alden serius.


"Kamu benar." jawab Asdam.


"Shi it!" umpat Alden yang langsung keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga.


"Alden tunggu!?" Asdam mengejar.


Namun Alden tak mau lagi mendengarkan Asdam. Ia langsung berlari ke garasi mobil dan menyuruh supir untuk mengantarnya.


"Cepat bawa aku ke villa, kakek!" titah Alden..


"Baik, tuan Muda Alden!" jawab sang supir yang langsung masuk ke dalam mobil.


Karena supir selalu stand by depan pintu garasi.


"Alden, kakak ikut dengan mu, ya?" Asdam mencoba untuk membujuk Alden.


"Bawa mobilmu sendiri," jawab Alden dengan lirih tanpa menoleh ke wajah kakaknya.


"Pak, cepat!" titah Alden.


pak Supir pun menoleh ke arah Asdam untuk meminta persetujuan. Asdam pun memberi kode mengangguk dan membiarkan Alden pergi.

__ADS_1


Asdam, kini ia benar-benar sadar, jika perbuatannya tidak akan termaafkan.


__ADS_2