
Chana pun terlihat canggung ketika Asdam menatapnya dengan intens dan tajam, membuatnya sangat sulit untuk menggigit roti yang sudah ada di depan mulutnya.
"Apakah dia akan memarahiku karena tadi malam?" batin Chana risau karena hanya ada mereka berdua di sana.
"Chana, masalah biaya sekolah untuk Alden kau tidak perlu memikirkan itu. Bahkan, uang bulanan untukmu akan aku transfer. Mau bagaimana pun, kita sudah resmi menjadi suami istri, jadi biaya hidupmu adalah tanggung jawab ku," ujar Asdam dengan pelan menatap Chana untuk lebih meyakinkan Chana.
"Ya Tuhan, apakah semalam ia telah di sambar petir?" batin Chana tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ti-tidak perlu Asdam, aku memiliki usaha sendiri. Aku memiliki penghasilan sendiri," ujar Chana menolak halus.
"Aku heran, mengapa kamu membuka usaha sendiri? mengapa kamu tidak meneruskan perusahaan milik ayahmu?" tanya Asdam.
"Tidak, itu adalah milik Misha. Aku tidak ingin merebut apapun darinya," jawab Chana.
"Tapi kamu telah merebut aku darinya," sahut Asdam membuat Chana langsung merasa tidak terima.
"Tidak, aku di paksa oleh orang tua kita karena Misha tiba-tiba saja-" Chana pun langsung berhenti dan menutup mulutnya. Hampir saja keceplosan. batin Chana.
"Tiba-tiba saja kenapa?" tanya Asdam memperhatikan Chana dengan serius.
"Ya.... tiba-tiba saja Misha kabur dengan selingkuhnya!" lanjutnya.
"Apakah kamu tahu siapa selingkuhan Misha?" tanya Asdam yang sambil menyerahkan ponselnya yang berisi foto-foto Misha dengan seorang pria.
Chana pun mendelik ketika melihat foto-foto Misha dengan mantan kekasihnya, yaitu Ziga. Mereka memang sahabat dekat. Dulu mereka kuliah bersama dan pastinya mereka cukup dekat dan sering jalan-jalan bareng.
Tapi yang Chana tidak percaya adalah, orang tua dan mertuanya tega membawa Ziga ke dalam masalah ini. Chana sangat takut jika Asdam akan menargetkan Ziga sebagai incarannya.
"Ti-tidak, aku tidak mengenalnya. Dia cukup tampan, pantas saja Misha berpaling dari mu," ujar Chana dengan sedikit gugup.
"Bukankah mereka adalah teman sekelas waktu kuliah di Singapura?" tanya Asdam.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, karena saat Misha kuliah di Singapura, aku berada di Prancis untuk belajar desainer," jelas Chana. Padahal Chana sendiri sudah mengenal Ziga saat mereka masih duduk di bangku SMA. Tetapi memang selama ini Chana dan Ziga selalu menyembunyikan status hubungan mereka dari publik, hanya keluarganya saja yang tahu.
Asdam terdiam dan seolah-olah mempercayai perkataan Chana. Karena memang waktu perjodohan Misha dan Asdam 5 tahun yang lalu, Misha sedang kuliah di Singapura dan Chana sedang berada di Prancis.
Asdam sendiri tidak terlalu mengenal Chana karena mereka hampir tidak pernah bertemu setelah acara pertunangan Misha dan Asdam yang di lakukan 2 tahun yang lalu.
"Baiklah," ujar Asdam sembari mengambil segelas susu dan meminumnya sampai habis.
Chana pun menghela nafas lega. Entah sampai kapan Chana akan terus ikut adil menyembunyikan soal Misha ke pada Asdam. Belum juga perasaanya tenang, Chana harus menerima kenyataan jika Ziga di jadikan korban untuk sandiwara keluarga besar ini.
Setelah meneguk segelas susu, Asdam pun pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Chana yang terlihat mematung di kursinya.
Chana tidak perduli dengan kepergian Asdam yang begitu saja. Yang ia pikirkan saat ini, bagaimana dia harus bertemu dengan Ziga dan meminta untuk pergi sejauh mungkin agar Asdam tidak dapat menemukannya.
Chana pun mengambil ponselnya dan menelpon ibunya sambil berlari ke arah mobil.
Beberapa kali panggilan, akhirnya Tante Tirana mengangkat teleponnya.
"Ke Korea? dengan siapa mah? apakah papah setuju?" tanya Chana yang baru mengetahui jika Misha akan berobat ke Korea.
"Ziga akan menemaninya," jawab Mama Tirana.
Mendengar nama Ziga di sebutkan, Chana pun langsung merasakan sesak di dadanya.
"Mah, Chana akan ke rumah sakit sekarang!" ujar Chana yang langsung mematikan ponselnya dan menyetir dengan gila menuju rumah sakit.
Setelah sampai ke rumah sakit, Chana pun langsung mencari keberadaan Mamanya dan juga Ziga. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya Chana melihat Mama Tirana sedang berbicara dengan Ziga soal keberangkatan Misha di koridor rumah sakit.
"Mamah! Ziga?" panggil Chana yang langsung menghampiri Tante Tirana dan juga Ziga yang menoleh ke arahnya.
"Chana?" Ziga pun terkejut melihat kekasih pujaannya datang.
__ADS_1
"Mah, Chana ingin bertanya, mengapa mamah dan yang lainnya menuduh Ziga yang telah berselingkuh dengan Misha!? Apakah mamah tahu apa akibatnya jika sampai Asdam melihat Ziga!? Asdam bisa saja membunuh Ziga, Mah! Malam saat pernikahan ku saja Asdam berani menodongkan pistolnya ke kepalaku! Mah, apakah tidak puas mamah dan papah merebut kebahagiaan ku, hidup ku, dan kalian malah menjebak Ziga ikut adil dalam permasalahan kalian! Aku tidak akan terima ini, mah. Nyawa Ziga saat ini sedang bahaya," ujar Chana dengan emosi menatap Mama Tirana yang terlihat tak berdaya dengan amukan anaknya.
"Chana?" Ziga yang sudah tahu semuanya pun mencoba untuk menenangkan Chana.
Chana pun tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya saat Ziga memanggilnya dengan lembut.
"Hiks..hiks.. Ziga, aku mohon, menjauhlah sejauh mungkin. Biar soal Misha itu tanggung jawab orang tuaku. Aku mohon," ujar Chana menatap mata Ziga dengan derain air mata.
Namun Ziga menggelengkan kepalanya dan dengan lembut mengusap air mata Chana.
"Chana, Misha adalah sahabat ku. Aku akan membantunya semampuku. Aku tidak masalah berkorban nama atas ketentraman mu dan demi hidupmu. Misha sudah berkorban banyak dalam hidupnya, jadi aku akan menemaninya. Dan kau, kau juga sudah berkorban sejauh ini demi keluarga mu. Jangan kecewakan orang tuamu, ya? Tidak apa-apa Asdam mengira aku adalah selingkuhannya Misha, asal kau dan Asdam baik-baik saja. Aku akan sering-sering mengirim foto romantis ku dengan Misha agar Asdam percaya jika Misha sudah berpaling darinya. Aku sungguh tidak apa-apa. Yang terpenting saat ini, kau dan Asdam harus baik-baik saja dan kalian harus membina rumah tangga yang harmonis. Karena pernikahan itu sangat sakral meskipun dengan proses yang tidak wajar. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu," ujar Ziga dengan memegang kedua pipi Chana yang terus dengan basah karena air mata yang terus mengalir.
"Nyonya, helikopter telah siap!" seru seorang perawat memberi tahu.
"Baiklah, aku dan Misha pamit ya. Aku berangkat," ujar Ziga yang langsung pergi meninggalkan Chana yang terlihat lemas dan tidak berdaya. Rasanya sangat sakit sampai-sampai seperti tersayat -sayat oleh pisau.
Chana pun terjatuh dan terkulai lemas di lantai melihat kepergian Ziga.
Mama Tirana yang melihat kehancuran putri-putrinya hanya bisa ikut menangis dan memeluk Chana dengan erat.
Chana dan Mama Tirana hanya bisa melihat Ziga yang ikut mendorong ranjang Misha. Terlihat Misha sedang terlelap dengan beberapa alat yang menempel pada tubuhnya untuk membantunya tetap dalam keadaan stabil.
"Huuuu...uuu..uuuu... Mamaaah, ini sakit sekali maaah... bagaimana bisa mamah melakukan ini pada Ziga? dia tidak bersalah sama sekali. hiks...hiks... tidak puaskah mamah menyakiti ke dua putri mamah, lalu kenapa Ziga juga ikut adil dalam sandiwara ini..!?" Chana meracau sambil memukul dadanya sendiri. Sedangkan Mama Tirana hanya menundukkan kepalanya karena tidak berdaya.
Chana sangat takut jika sampai Asdam menemukan Ziga. Kesetiaan Ziga kepada keluarganya cukup besar, Chana yakin jika Ziga akan tutup mulut tentang penyakit Misha dan dia hanya akan mengakui jika Misha bener-benar selingkuh dengannya. Jika itu sampai terjadi, bisa saja Asdam tidak akan mengampuni Ziga dan membunuhnya.
Chana benar-benar tidak dapat membayangkan hal buruk itu terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
(Jangan lupa like dan komen ya:)
__ADS_1