
Acara pesta berjalan dengan meriah.
Asdam dan Chana terlihat sedang berdansa di sebuah lingkaran khusus untuk pasangan yang sudah di daftar untuk ikut berdansa dengan sang pengantin.
Asdam memegang erat pinggul Chana dengan tatapan yang sangat penuh arti.
Chana juga menatap dan berpegang pada dada Asdam dengan lembut.
Segalanya kini penuh arti dan penuh makna.
Entah bagaimana jalannya dan bagaimana prosesnya, namun, kini mereka saling bersyukur satu sama lain karena kini mereka akhirnya saling melengkapi.
"Chana, aku berharap hanya kamulah satu-satunya wanita yang pernah melakukan janji suci denganku." ujar Asdam mencurahkan isi hatinya, betapa besarnya ia kini mencintai istrinya.
Chana tersenyum, "kamu harus ada penggantiku jika sampai aku lebih dulu tiada di bumi ini. Aku hanyalah sedikit wanita yang beruntung, tetapi ada banyak wanita yang lebih dari ku," ujar Chana.
"Tidak ada yang lebih baik jika obsesi yang menguasai hati. Aku telah belajar dari pengalamanku. Jika tidak di kendalikan, maka aku bisa mencintai banyak wanita," ucap Asdam.
"Kalo begitu, maka tidak akan sulit bagimu untuk mu melupakan ku?" tanya Chana.
"Aku tidak memiliki obsesi untuk mencintai banyak wanita, aku hanya berkomitmen pada satu titik. Jangan arahkan kemana hatiku akan berlabuh, karena aku akan mempertahankan apa yang aku inginkan dan apa yang aku miliki, sampai maut memisahkan."
Asdam melangkah kakinya sesuai instruksi dari pemandu dansa di acara pesta tersebut. Chana hampir kehabisan kata-kata untuk mengagumi betapa beruntungnya ia mendapatkan cinta sesungguhnya dari Asdam.
Acara dansa akhirnya sudah berakhir, Chana permisi kepada Asdam untuk ke kamar mandi.
Ketika berjalan ke kamar mandi, Chana terlihat mengedipkan mata kepada sekertaris Rein. Sepertinya mereka masih ingin melanjutkan rencana suprise untuk Asdam.
Tetapi, ketika akan ke kamar mandi, ada seseorang yang tiba-tiba saja membius Chana dari belakang.
__ADS_1
Sekertaris Rein mendekati Asdam dan membisikan sesuatu di telinganya.
Asdam pun berdiri dan mengikuti sekertaris Rein keluar dari gedung.
"Ada apa ini?" tanya Asdam dengan raut wajah memerah.
"Sebaiknya kita susul Nona Chana sekarang juga," ujar Sekertaris Rein semakin membuat Asdam tidak mengerti.
"Tidak, jelaskan dulu padaku, kemana Chana pergi dan dengan siapa?" tanya Asdam dengan marah. Entah kenapa, perasaan Asdam terasa sangat tidak enak sekali.
"Tuan, Nona Chana terlihat buru-buru keluar dari acara pesta, aku tidak tahu pasti," jawab Sekertaris Rein.
"Kalo kamu tidak tahu pasti, terus kamu tau dari mana kalo saat ini Chana berada di suatu tempat!?" tanya Asdam semakin bingung dengan Sekertaris Rein.
"Tuan, percaya padaku, kita harus gerak cepat!" ujar sekertaris Rein langsung masuk ke dalam mobil.
Tidak ada pilihan lain, Asdam pun langsung masuk ke dalam mobil, dari raut wajahnya, terlihat sangat panik sekali.
Terlihat tidak jauh, ada sebuah hiasan lilin dan meja estetik yang sudah di sediakan.
Asdam awalnya sangat terkejut karena ia mengira jika istrinya sedang memberinya kejutan.
"Tuan, selamat ulang tahun untuk anda," ujar Sekertaris Rein tersenyum.
"Oh, dari tadi kamu bikin saya jengkel, itu karena kalian ingin memberi saya kejutan ini?" ujar Asdam merasa konyol..
Sekertaris Rein pun hanya mengangguk dan tersenyum.
Ketika sampai di tempat, Asdam sama sekali tidak mendapati Chana berada di tempat.
__ADS_1
"Chana..? aku sudah datang, terima kasih karena sudah membuatkan ini untuk ku, sekarang keluarlah."
Setelah menunggu beberapa waktu, Chana tidak kunjung keluar, membuat Asdam merasa gelisah.
"Chana, ayolah, jangan bermain-main lagi!?" ujar Asdam sudah merasa tidak sabaran lagi.
Setelah beberapa saat menunggu, Asdam pun berlari ke parkiran dan menemui Sekertaris Rein.
"Rein, di mana Chana?" tanya Asdam.
"Loh, bukannya Nona Chana sudah ada di tempat?" tanya Sekertaris Rein.
"Tidak ada!" jawab Asdam. "Apakah kalian masih merencanakan hal lain?" tanya Asdam.
"Tidak, Tuan!" jawab Sekertaris Rein.
"Jangan macam-macam, Rein, sudah cukup permainan dan katakan padaku di mana Chana saat ini?" tegas Asdam.
"Sungguh aku tidak tahu, Tuan. Seharusnya Nona Chana sudah ada di sini. Dia juga tidak mengatakan padaku jika ada permainan lainnya!" sahut Sekertaris Rein yang juga bingung.
Tidak menunggu lama, Asdam dan sekertaris Rein pun langsung mendatangi pengurus yang ada di pantai itu.
"Tidak, Mas, belum ada siapapun yang datang ke sini. Bahkan Mbaknya juga belum datang, buktinya, kuenya masih saya simpan," ujar pengurus.
DEG!
Asdam dan sekertaris Rein pun akhirnya sadari jika mereka telah kehilangan Chana. Sontak, mereka pun langsung bergegas untuk menelponi Chana, namun nomor tidak aktif.
"Rein, jika sampai terjadi apapun kepada Chana, aku tidak akan mengampuni mu!" ujar Asdam memperingati Sekertaris Rein.
__ADS_1
Sekertaris Rein sepertinya langsung mengerti sesuatu, sehingga ia langsung mengajak Asdam untuk ke suatu tempat.
......................