Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 42, puncak amarah


__ADS_3

BRUAAAAK!


(Asdam membanting tv LED besar milik Misha)


"HUAAAAAAAAAAAAAAAAA!"


Asdam pun akhirnya berteriak sekuat tenaga untuk melepas api di bergejolak dalam jiwanya.


Misha sampai menutup telinga karena sangat kaget dan syok dengan apa yang Asdam lakukan.


Di sisi lain, Chana yang mendengar teriakan Asdam pun langsung buru-buru masuk ke dalam apartemen milik Misha.


Melihat Misha berada di lantai, tv yang pecah, dan aura mematikan yang Asdam pancarkan, Chana sangat tahu jika semuanya akhirnya berakhir.


Namun Chana berusaha untuk menjelaskan kepada Asdam dan Misha secara baik-baik, jadi Chana langsung mendekati Asdam yang terlihat sedang menutupi wajahnya dengan perasaan gusar.


"Asdam? tenangkan dirimu, aku bisa jelaskan semuanya," ucap Chana mencoba untuk menenangkan Asdam dan memegang tangan Asdam.


Namun yang terjadi, Asdam yang masih tersulut oleh api kekecewaan, ia langsung menghempaskan tangan Chana sekuat tenaga membuat Chana langsung terlempar ke lantai.


"AAAHK!" pekik Chana kesakitan.


"ASDAM!" Misha pun berteriak ketika melihat Asdam menghempas Chana sampai jatuh. Meskipun Misha sangat membenci Chana dan ingin membunuhnya, tetapi entah mengapa melihat dengan mata kepalanya sendiri jika adiknya di lukai, Misha pun merasa ikut sakit.


Namun Asdam seperti tidak mendengarkan Misha. Ia justru menatap Chana dengan tatapan sama di saat malam pertama pernikahan mereka.


Asdam kembali kepada sifatnya yang sangat bruntal ketika sedang dalam posisi marah sampai ke ubun-ubun.


"Kau, aku selama ini percaya jika kau adalah ratu ku, aku selama ini percaya jika kau adalah wanita suci yang tidak akan menodai lidah mu dengan perkataan dusta. Kau, sengaja membohongi ku jika Misha selingkuh dan kabur bersama selingkuhnya!" Asdam berjalan dengan perlahan mendekati Chana yang terlihat sudah menangis dan merangkak mundur untuk menghindari Asdam.


Chana sangat tahu jika Asdam marah, ia dapat lupa daratan, sedangkan dirinya sedang mengandung. Chana sangat takut jika sampai terjadi apa-apa kepada janinnya. Jadi Chana berusaha untuk menghindari Asdam.


Mendengar perkataan Asdam, Misha pun ikut terkejut ketika mengetahui jika keluarganya sudah membohongi dirinya. Mereka mengatakan jika Asdam tidak mau menikahi dirinya karena ia ketahuan memiliki penyakit.


Namun kenyataannya, ternyata Asdam tidak mengetahui apapun tentang penyakitnya. Ada rasa senang, namun ada juga rasa kecewa yang mendalam. Misha tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia hanya bisa melihat Asdam yang terus mendekati Chana dengan tatapan yang mematikan.


"A-asdam, aku dapat menjelaskan semuanya, aku mohon dengarkan aku, aku mohon!?" Chana terlihat memohon sambil menangis deras.

__ADS_1


Namun air mata itu tidak cukup untuk memadamkan api yang sudah membara di hati Asdam.


"CHANA ZEA-ALONZA!" Asdam dengan lantang menyebut nama Chana dengan lengkap. "Hanya karena ingin menikahi calon suami kakaknya, hanya karena di setubuhi oleh calon suami kakaknya, dia rela melakukan segala cara untuk mengelabui semua orang dengan cara yang menjijikan!" Asdam mengoceh dan mendelik tersenyum sarkas menatap Chana yang menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan apa yang Asdam katakan.


"HAHAHAHA....!" Asdam pun tertawa menggila.


PROK


PROK


PROK


Asdam bertepuk tangan untuk Chana. Akting yang sangat luar biasa.


"WAW! kamu mengatakan padaku jika Misha berselingkuh? Lalu, kamu mengatakan kepada Misha, jika aku adalah pria kejam yang dengan keji meninggalkan kekasihnya hanya karena kekasihnya penyakitan? WOW!" Asdam pun benar-benar dengan skenario yang sangat epik dan rapi ini.


Melihat Chana hanya menundukkan kepalanya dan menangis, Asdam pun merasa semakin hilang akal.


"KATAKAN!" teriak Asdam yang sambil menarik tangan Chana dengan kasar agar Chana berdiri dan menatap matanya.


"Aaaahk!" Chana pun hanya bisa berteriak kesakitan.


Sedangkan Chana, ia nampak sangat menyesali perbuatannya sendiri. "Maaf." hanya itu yang keluar dari bibir Chana kali ini dengan suara yang begitu lirih.


Asdam menatap mata wanita sudah ia cintai sepenuh hati itu dengan seksama. Bukannya merasa reda, ia justru semakin menggila karena tidak tahu bagaimana mengontrol dirinya sendiri agar dapat dengan tenang menghadapi masalah ini.


Tidak berlangsung lama, Sekertaris Rein dan Nomnom pun masuk ke dalam dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan.


Sekertaris Rein yang melihat Asdam hampir mencekik Chana pun langsung berusaha untuk menolong Chana.


"Tuan, Asdam!" teriak Sekertaris Rein yang langsung mendorong Asdam agar menjauh dari Chana.


Chana terlihat terbatuk-batuk ketika Asdam akhirnya melepaskan cengkramannya.


Nomnom yang melihat ini pun langsung mencoba untuk menolong Chana.


"Chana, kamu gak apa-apa?" tanya Nomnom membantu Chana berdiri.

__ADS_1


"Nom, bawa Nona Chana pergi sejauh mungkin!" ujar Sekertaris Rein sambil berusaha untuk menahan Asdam. Sekretaris Rein pun melempar kunci mobilnya ke pada Nomnom.


"REIN, LEPASKAN!" bentak Asdam berusaha untuk lepas dari Rein yang menahannya.


"Tuan, saya akan menjelaskan semuanya, Nona Chana tidak bersalah!" jelas Sekertaris Rein mencoba untuk menenangkan Asdam.


Tetapi sepertinya Asdam sudah lepas kendali, sehingga dia tidak dapat menerima masukan apapun dari orang-orang yang sudah membohongi dirinya.


"Chana, ayo kita pergi?" Nomnom pun langsung membantu Chana untuk segera keluar dari apartemen Misha.


Ketika akan keluar, Chana pun menoleh ke arah Misha yang masih bersimpuh di lantai dengan air mata yang sangat deras di pipinya.


Tatapan adik kakak terlihat sangat menyayat hati. Misha dan Chana saling menatap, tetapi juga sama-sama memancarkan kebencian yang tidak dapat di jelaskan.


Ketika Chana dan Nomnom keluar, Asdam pun dengan sekuat tenaga menendang dan menuju sekertaris Rein sampai babak lebur.


Sekertaris Rein pun tidak sempat untuk menahan atau pun membalas pukulan Asdam yang bertubi-tubi.


BUGH


BAGH


BUGH


Asdam dengan gila memukuli Sekertaris Rein sampai akhirnya sekertaris Rein pun terkapar tidak berdaya. Namun Sekertaris Rein masih tetap hidup dengan luka yang cukup parah.


"Katakan padaku, apakah semua tahu tentang ini kecuali aku?" tanya Asdam sambil menjambak rambut Sekertaris Rein.


Sekertaris Rein pun hanya bisa mengangguk pasrah.


"Apakah Alden juga tahu semua ini?" tanya Asdam memastikan jika memang hanya dirinyalah yang tidak mengetahui hal apapun.


"Semua orang tahu termasuk Ziga," jawab sekertaris Rein berterus terang. "Tapi, satu hal yang harus kau tahu, Nona Chana sama sekali tidak bersalah. Dia di paksa oleh orang tua kalian. Nona Chana juga berkorban banyak untuk orang-orang tua yang tamak itu!" jelas Sekertaris Rein sambil menahan sakit.


Misha pun semakin syok ketika mendengar penjelasan sekertaris Rein jika sebenarnya Ziga juga tahu yang sebenarnya. Jadi, selama ini yang tidak tahu kebenarannya hanyalah ia dan juga Asdam..


Karena tidak kuat menahan syok, Misha pun akhirnya pingsan. Asdam, yang awalnya ingin kembali bogeman kepada sekretaris Rein pun langsung mengurungkan niatnya ketika melihat Misha yang pingsan.

__ADS_1


"Misha!? Misha!?" Asdam pun mencoba untuk menyadarkan Misha, namun sia-sia. Tidak ingin terjadi apa-apa kepada Misha, Asdam pun langsung membawa Misha pergi kerumah sakit.


Sedangkan sekertaris Rein, ia nampak terkulai tidak berdaya. Bahkan ia sampai terbatuk-batuk darah segar.


__ADS_2