Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 12 Sedikit perhatian.


__ADS_3

Malam ini suasana terasa sangat canggung. Asdam dan Chana untuk pertama kali berada di dalam kamar dengan pikiran yang jernih, membuat segalanya terasa rikuh.


Asdam bersandar pada dipan kasur dan Chana sendiri sedang duduk kursi rias. Chana dengan hati-hati membersihkan wajahnya dengan tisu basah sebab, ia sendiri belum bisa mencuci wajahnya dengan air.


Asdam yang terlihat cuek, tetapi sesekali ia mencuri pandangan ke Chana, entah apa yang Asdam pikirkan kali ini.


Chana sendiri membeku sesaat dirinya usai membersihkan wajahnya. Ia sendiri bingung harus tidur di mana kali ini, sebab ranjang sudah di kuasai oleh Asdam.


"Emm, aku akan tidur di sofa malam ini," ujar Chana membuyarkan keheningan.


"Silahkan," ujar Asdam dingin.


Chana pun hanya menghembuskan nafasnya pasrah, mau bagaimana lagi, ini memang sudah menjadi tindakan yang paling tepat dari pada ia harus tidur sekasur dengan Asdam.


Asdam sendiri tidak perduli dengan Chana dan ia langsung merebahkan tubuh dan menarik selimut lalu membelakangi Chana.


Chana pun enggan untuk berlama-lama menatap keangkuhan Asdam, "Aduh, aku lupa belum menyelesaikan pekerjaan ku, mana besok harus segera di garap lagi," gumam Chana teringat dengan pekerjaanya.


Meskipun Nyonya Beckham telah melarangnya untuk bekerja, namun Chana harus menyelesaikan pekerjaannya yang sudah terlanjur ia tangani.


...****************...


Di tengah malam, tepatnya pukul 2 malam, Chana baru saja menyelesaikan pekerjaannya membuat pola dan juga desain.


"Huft, akhirnya selesai juga. Aku akan kirim ini ke Nomnom sekarang. Hmm, Nomnom masih marah gak ya sama aku? harusnya aku menceritakan segalanya padanya," gumam Chana merasa sedikit menyesal.


Chana pun meregangkan otot pada pundak dan lehernya lalu matanya tidak sengaja menatap sosok yang terbaring rapih di kasur.


Tatapan Chana pun sangat sinis, rasanya sangat kesal dengan pria yang kini sudah berstatus menjadi suaminya.


"Huft! memikirkannya membuat kepalaku semakin sakit," gumam Chana seorang diri. "Aku haus sekali," lanjutnya sambil berdiri dan berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Ketika Chana berjalan di lantai dua, dia melewati beberapa kamar kosong dan akhirnya dia melewati kamar Alden, adik iparnya..


Chana melihat pada celah pintu jika lampu kamar Alden masih menyala. "Apakah dia belum tidur?" batin Chana.


Ketika Chana menghentikan langkah kakinya, tiba-tiba saja pintu kamar Alden terbuka membuat Chana sangat terkejut.


Dua orang sama-sama mendelik karena kaget, namun terlihat mereka juga cukup tenang.


"Adik ipar, kamu belum tidur?" tanya Chana.


"Mengapa kau menatap kamarku?" tanya Alden.


"Oh, aku mau ke dapur untuk ambil air minum, aku tidak sengaja melihat lampu kamar mu masih menyala, aku hanya berfikir mengapa sudah larut malam tapi kamu belum tidur?" tanya Chana.


"Bukan urusan anda!" jawab Alden yang langsung melewati Chana begitu saja dan berjalan menuruni anak tangga.


Chana lagi-lagi hanya bisa menghela nafas.


Ketika berada di dapur, Chana melihat Alden yang mencari bahan untuk membuat Mie instan. Sepertinya Alden akan membuat Mie instan biasa menjadi istimewa, terlihat dari bahan-bahan yang ia ambil dari kulkas.


"Hem!" jawab Alden sambil memotong kol tanpa menoleh.


"Malam-malam begini?" tanya Chana kembali.


"Apakah menurut mu ini siang?" ujar Alden cuek.


"Maksud aku, bolehkah tolong sekalian buat kan aku, aku tunggu di depan tv ya, byeee...!" ujar Chana yang langsung lari ke ruang tv sambil membawa sebotol jus di tangannya.


Chana sengaja menghindar dari jawaban Alden, makannya ia segera keluar dan menanti, apakah adik iparnya akan berbaik hati padanya.


Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Chana dapat mencium aroma yang sangat lezat. Sehabis pulang dari villa kakek, Chana sama sekali belum makan apapun membuatnya sangat kelaparan.

__ADS_1


Alden datang membawa satu mangkok di tangannya.


"Dia hanya membuat satu porsi? benar-benar terlalu sekali adik iparku ini. HM, baiklah, aku juga belajar tidak perduli dengan keluarga, kesalahan terbesar aku adalah, aku selalu menganggap jika semuanya akan baik-baik saja," gumam Chana dan hati.


Namun hal yang tidak terduga adalah, tiba-tiba saja Alden meletakkan mangkok yang ada di tangannya di depan Chana.


Chana pun syok tidak percaya dengan apa adik iparnya lakukan.


"I-ini?" Chana bertanya dengan gugup.


Alden tidak menjawab dan ia kembali berjalan ke dapur untuk mengambil bagiannya. Chana benar-benar sangat terharu dengan perbuatan Alden malam ini. Cuek namun ternyata sangat manis. Chana sedari awal sangat yakin jika adik iparnya ini adalah orang baik. Karena sejauh ini, ia juga membantu keluarganya untuk menyembunyikan rahasia besar dari Asdam..


"Sini! duduklah di sampingku," panggil Chana dengan semangat meminta Alden untuk duduk di sampingnya. Alden pun terlihat tidak menolak dan langsung duduk di samping Chana, membuat Chana benar-benar terpaku.


"Makanlah sebelum mie itu mengembang," ujar Alden kepada Chana yang terlihat bengong.


"Oh, hehehe, tentu! ini terlihat sangat lezat sekali," ujar Chana dengan semangat.


Ketika sedang asyik makan, diam-diam dari lantai dua Asdam memperhatikan Chana dan Alden. Asdam sangat terkejut karena adiknya bisa memasak untuk orang baru. Ini adalah hal baru bagi Asdam.


Namun Asdam terlihat tidak perduli, Asdam pun dengan dingin kembali masuk ke dalam kamarnya.


Di sisi lain, Chana nampak semangat menceritakan kisahnya yang belajar di Prancis. Hanya membahas soal makanan yang Chana suka dan tidak suka. Makanan yang ada di negara mereka dan yang tidak ada di Prancis. Meskipun Chana sangat bersemangat, namun ekspresi Alden tetap dingin sambil terus memakan makannya.


"Kamu tahu adik ipar, masakanmu sangat mirip dengan masakan seseorang. Aku sangat suka dengan cara masak mie instan biasa menjadi istimewa seperti ini. Aku juga sangat suka dengan udang ini, Umm, rasanya benar-benar menyatu dengan lidahku," puji Chana dengan semangat, namun Alden tetap diam.


"Adik ipar, bisakah kamu memasakan saya lagi? atau tidak, bisakah kamu mengajari saya cara, buatnya? jujur, aku tidak pandai masak," ujar Chana berterus terang.


"Ini hanyalah kelebihan yang saya buat, tidak perlu berlebihan menanggapinya. Tempat duduk ini adalah tempatku setiap aku makan malam. Aku duduk di sini bukan karena panggilan mu," ujar Alden yang langsung berdiri dan berjalan ke dapur meninggalkan Chana yang terlihat seperti orang linglung.


*Hmmm, terserah kalian aja lah, pusing-pusing amat mikirin. gumam Chana enggan ambil pusing dengan sikap adik iparnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(Jangan lupa like dan komen ya*;)


__ADS_2