Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 26, kasih sayang tercurahkan kepada Chana


__ADS_3

"Mamah ....!"


Suara teriakan Misha terdengar melengking. Sepertinya ia menggunakan semua kekuatannya untuk memanggil sosok yang ia inginkan.


Ziga yang baru saja pulang dari kerjanya sebagai editing terkejut mendengar teriakan Misha dari dalam kamarnya.


Ziga pun berlari karena takut jika Misha sampai kenapa-kenapa. Apalagi Ziga baru ingat jika tante Tirana sedang tidak ada di rumah sakit. Tante Tirana izin untuk pergi ke suatu tempat.


Ketika Ziga sampai kamar, ia sangat terkejut melihat Misha yang terlihat berantakan dan menangis sesenggukan.


"Misha!? ada apa denganmu?" tanya Ziga panik. "apakah ada yang sakit? sebelah mana yang sakit? katakan padaku?"


"Ziga ... ini sakit sekali ... a-aku ingin mati saja. Cepat bunuh aku saja Ziga, aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Huu ...uuu...uuu...!" ucap Misha terdengar sangat putus asa.


Ziga pun melirik ponsel yang di pegang oleh Misha. Siaran Streaming masih menyala di sana. Ziga mengambil ponsel itu dan melihat sumber kehancuran Misha.


Awalnya Ziga pun sangat terkejut melihat kedekatan dan keromantisan Chana dan Asdam. Sebab, yang Ziga tahu Chana hanya terpaksa menikah dengan Asdam.


Meskipun Ziga selalu berkata baik dan menasehati Chana agar menjadi istri yang baik, namun jauh dari lubuk hatinya, ia berharap agar Chana dapat segera berpisah dengan Asdam. Karena dalam diam, Ziga sangat percaya dengan Chana. Jika Chana akan mencoba untuk lepas dari Asdam dan kembali padanya. Tidak di sangka-sangka jika Chana begitu cepat melupakan dirinya yang sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya.


Hanya melihat siaran romantis Asdam dan Chana, Ziga jadi mengerti jika mereka berdua sudah benar-benar menjadi suami istri yang saling mencintai. Ziga dapat melihat cinta di mata mereka berdua.


Ziga pun merasa ikut sakit hati seperti halnya Misha. Ziga memeluk Misha tanpa mengatakan apapun. Dalam diam, Ziga pun ikut menangis seperti yang Misha lakukan.


......................


Di kamar yang penuh dengan koleksi-koleksi khas pria, Alden dengan seksama mengikuti streaming Davis, seorang pianis terkenal yang sangat Alden idolakan.


Alden pun sama halnya seperti yang lainnya, tidak percaya jika Chana begitu dekat dengan Davis. Bahkan, sampai-sampai ulang tahunnya di adakan di dalam acara konser Davis.


"Waw. Wanita itu ternyata hebat juga. Tidak sia-sia kak Asdam menikahi wanita pengganti itu. Dia benar-benar sangat keren." gumam Alden yang kini semakin memuji kakak iparnya.


Padahal, Alden masih menyimpan rasa kesal terhadap Chana. Sebab, gara-gara masalah Chana dan Misha, Alden lah yang di tuduh oleh mamanya atas penyebab kecelakaan itu.


Di saat mamanya tahu jika semua ini adalah perbuatannya Misha, kakak dari Chana, namun mamanya sampai saat tidak mau meminta maaf padanya karena sudah menuduhnya dengan tajam.


Tetapi, kedekatan Chana dan Davis, mampu membayar semua kekesalan Alden. Alden sangat ingin menjadi salah satu murid Davis, dan tidak mudah untuk bergabung dalam kelasnya.


Dengan kedekatan Chana dan Davis, Alden jadi mendapatkan kesempatan emas.

__ADS_1


"Mulai sekarang aku akan mendekati kakak ipar. Aku tidak akan melepaskan kesempatan ini," gumam Alden merasa sangat bangga memiliki kakak ipar yang sangat berpengaruh seperti Chana di dalam potensinya.


......................


Di kesempatan acara tersebut Chana dan Alden pun sama-sama berkesempatan untuk berkolaborasi memainkan piano.


Meskipun sudah lama Chana tidak bermain piano, namun Davis selalu memberinya semangat jika Chana pasti bisa.


Asdam pun duduk di kursi VVIP dan membiarkan Chana mengambil kesempatan untuk berkolaborasi dengan Davis di acara big konsernya.


Asdam tahu hal ini pasti akan membuat hati Chana merasa sangat senang. Demi menebus semua kesalahannya kepada Chana, Asdam akan berusaha untuk melakukan apapun untuknya.


Tetapi sikap Asdam saat ini karena dia masih belum tahu rahasia terbesar itu. Jika sampai Asdam tahu jika Misha saat ini sedang sakit. Tidak tahu apakah Asdam akan tetap bersikap sama dengan Chana seperti saat ini.


Tepuk tangan terdengar sangat meriah. Chana dan Davis sama-sama membungkuk kepada para hadirin yang mengikuti konsernya.


"Sekali lagi, selamat ulang tahun untuk sahabat ku tercinta Chana zea-alonza. Sungguh kesempatan yang sangat berharga bagi ku karena dapat berkolaborasi dengannya di acara yang spesial ini." ujar Davis.


Chana pun tersenyum. "Justru saya yang sangat berterima kasih karena sudah di izinkan bergabung bermain di sini. Aaa .. ini sungguh hadiah terindah bagi saya. Suamiku, terima kasih banyak atas semua yang kamu lakukan untuk ku. Aku sungguh sangat senang."


Asdam pun tersenyum kepada Chana dengan tatapan penuh kehangatan.


Meskipun waktu menunjukan pukul 11 malam, namun tidak mengurangi rasa bersemangat mereka untuk melanjutkan merayakan acara ulang tahun Chana.


"Chana, aku tidak menduga jika suami mu ini mau datang padaku. Aku turut senang karena di ajak ikut adil untuk memeriahkan ulang tahun mu," ujar Davis menjelaskan.


"Asdam, kamu mendatangi Davis sendirian?" tanya Chana yang juga terkejut.


Asdam pun dengan santainya menjawab, "apapun demi kamu agar bahagia," jawabnya.


"Widiiiih... gitu kenapa anda kemarin menolak tiket dariku?" guru Davis.


"Awalnya aku cemburu, namun saat ini aku sangat yakin jika cintanya hanyalah untuk ku," jawab Asdam menatap Chana dengan tatapan penuh kepercayaan.


Chana pun memerah karena malu dengan kata-kata manis dari bibir Asdam.


"Ya.. ya..ya...," Davis mengangguk. "pantas saja selama ini kamu selalu menolak cintaku. Ternyata pria ini alasannya?" ujar Davis.


"Uhuk..uhuk..!" Chana pun tiba-tiba terbatuk. "Emm, bukan begitu." jawab Chana bingung. Karena dulu alasan Chana adalah karena kekasih rahasianya, yaitu Ziga.

__ADS_1


"Jelas itu karena aku," jawab Asdam dengan percaya meksipun Chana menjawab bukan.


"Hmm ... iya iya semua itu karena untuk Asdam seorang," ujar Chana tidak mau menjalar kemana-mana. Cukup begini saja, mereka akhirnya bisa menikmati malam bersama-sama.


......................


Jam menunjukan pukul 1 malam. Asdam dan Chana berada di mobil menuju pulang ke hotel usai makan malam berakhir.


"Mengapa kamu dulu menolak pria itu? dia tidak kalah tampan meskipun jauh aku lebih tampan, dan yang pasti, dia sama-sama memiliki hobi yang sama dengan mu, yaitu bermain piano," ujar Asdam masih mencoba menggali kisah lama Chana.


"Seperti yang kamu katakan. Aku menolaknya karena demi kamu," jawab Chana singkat.


"Itu adalah jawabanku, aku ingin dengar jawaban dari mu. Apakah, ketika kita menikah kamu memiliki kekasih?" tanya Asdam dengan serius.


"Em .. sudahlah, aku juga sudah meminta maaf padanya. Dia mungkin kini sudah mencari kebahagiaannya sendiri," jawab Chana dengan senyuman. Namun Asdam dapat melihat raut kesedihan dari wajah Chana.


"Aku ingin bertemu dengannya," ujar Asdam.


"Apa! untuk apa!?" tanya Chana syok. Karena tidak mungkin Chana mengenalkan Ziga kepada Asdam. Itu sama halnya melempar makanan ke singa kelaparan.


"Aku hanya ingin berterimakasih padanya karena sudah menjagamu selama ini. Dia sepertinya pria yang baik, dapat di lihat karena sampai ini saat kamu masih terjaga. Aku ingin memberikannya hadiah. Itung-itung untuk membayar apa yang sudah ia lepaskan. Agar ia rela dan ikhlas kamu hidup bersama ku," ujar Asdam.


"Tidak, perlu, dia sudah cukup kaya juga," jawab Chana.


"Apakah dia lebih kaya dariku?" tanya Asdam.


"Em, dia orang yang sangat kaya. Hatinya sangat kaya meskipun ia adalah orang yang sederhana. Memang tidak sekaya kita, namun dia sangat pekerja keras," ujar Chana.


"Kalo begitu, atur pertemuan ku dengannya," ujar Asdam.


"Aku sudah tidak ada kontak dengannya setelah menikah dengan mu. Begini saja, jika suatu saat kita tidak sengaja bertemu, aku akan memperkenalkanmu dengannya," ujar Chana meyakinkan Asdam.


Asdam tersenyum kepada Chana dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Tidurlah di lenganku, jika sudah sampai akan aku bangunkan."


"Tidak! aku ingin di gendong," ucap Chana manja.


"Baiklah, sesuai dengan permintaan yang putri," jawab Asdam mengecup kening Chana dengan lembut ketika Chana merangkul lengan Asdam.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2