Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 54, menghukumnya


__ADS_3

Acara pemakaman sudah berakhir. Semua keluarga sedang duduk di ruang keluarga.


Alden nampak duduk di jendela salah satu kaki naik ke atas dan padangan tertuju pada luar jendela.


Nyonya Beckham duduk di tangga penghubung antara pintu dan lantai bawah.


Tuan Paulo duduk di dekat api unggun yang tersedia di ruangan itu.


Lalu, Asdam nampak berdiri menyilangkan kakinya sambil bersandar sisi tangga.


Nyoya Beckham terlihat sangat sedih sekali sehingga di menyadarkan kepalanya ke tembok. Air mata tidak bisa ia bendung lagi. Rasanya sangat sakit.


Asdam hanya memainkan kukunya sambil menundukkan kepalanya. Meksipun kakinya serasa pegal karena berdiri terlalu lama,. namun Asdam tidak berani berkutik dan bergerak sedikit pun ketika melihat semua orang diam seribu kata.


Asdam ingin meminta maaf, namun entah mengapa rasanya sangat sulit sekali.


Sampai tiba-tiba, pintu terbuka dan nampak seorang wanita dengan mata yang memerah dan aura yang sangat tinggi, masuk ke dalam ruangan keluarga yang ada di villa kakek..


"Chana!?" Nyonya Beckham yang ada di tangga pun adalah orang pertama yang melihat kehadiran Chana.


Mendengar Nyonya Beckham menyebut nama Chana, semua orang pun langsung menoleh ke arah pintu..


Wajah mereka nampak senang melihat kehadiran Chana. Hanya Asdam, terlihat wajah Asdam yang seperti maling tertangkap.


"Chana!?" tuan Paulo pun berjalan ke arah tangga.


"Kak, Chana!?" Alden pun turun dari jendela dan berlari menghampiri Chana.


Hanya Asdam yang masih mematung di bawang tangga.


Sedangkan semua orang sudah naik ke atas dan merangkul Chana bersamaan..


Nyonya Beckham, Tuan Paulo dan juga Alden. Mereka semua meyambut Chana dan memeluknya.


"Chana!? syukur kamu kembali sayang, mamah sangat takut jika sesuatu terjadi padamu!?" Nyonya Beckham tak henti-hentinya menyeka air matanya sendiri karena terlalu senang.


"Iya, mah, Chana kembali. Maafkan Chana yang sempat menghilang. Tapi, sekarang Chana berjanji, Chana akan menghadapi semua masalah yang sebesar apapun itu. Maaf, Chana terlambat?" ucap Chana menatap keluarganya dengan penuh kehangatan.


"Tidak apa-apa, Chana. Kami tahu jika semua ini bukanlah salahmu. Kami justru sangat berterima kasih karena kamu masih mau datang ke sini dan masih mau menganggap kami keluarga mu lagi," ujar Tuan Paulo.

__ADS_1


"Kalian akan selalu menjadi keluarga ku," jawab Chana tersenyum..


"Tapi...?" Chana terlihat menengok ke arah belakang tuan Paulo.


Asdam pun terlihat mati kutu ketika Chana menatap dirinya dengan tatapan yang sangat sangar.


Chana pun menghampiri Asdam dengan langkah kaki yang terlihat sangat indah, bahkan karena terlalu indah, itu mampu membuat jantung Asdam serasa ingin copot.


Ketika Chana berada di depan Asdam dengan jarak yang begitu dekat, Asdam pun menatap mata Chana dan mencoba untuk menyapanya.


Namun, belum juga mulutnya mengatakan sepatah kata. Tiba-tiba saja...


BUGH!"


Chana dengan berani meninju perut Asdam dengan kuat.


"AHK!" Asdam pun langsung meringis dan memegangi perutnya..


Belum juga Asdam membalas, Chana langsung menyerangnya lagi dengan memukul Asdam menggunakan tasnya.


"AHK... AHK... Auw...Auw..." teriak Asdam.


"Chana, apakah kamu bantuan sayang!?" tanya tuan Paulo yang langsung menggulung lengan bajunya.


"Kak, sepertinya otot-otot ku butuh latihan," lanjut Alden menambahi..


Asdam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tanda meminta ampun. Tetapi, keluarganya sepertinya sudah menunggu-nunggu kejadian ini.


Alhasil, Asdam pun di keroyok oleh keluarga sendiri.


"SERAAAAANG!" seru Nyonya Beckham yang juga sudah gak sabar pingin menjambak rambut putranya itu.


"AW...!


"AW...!


Asdam hanya bisa melindungi kepalanya ketika keluarganya dengan senang menghajar dirinya.


Tetapi, meksipun rasanya cukup sakit, namun Asdam tidak akan membalasnya. Asdam justru merasa sangat senang, akhirnya keluarga bisa melampiaskan unek-unek yang mereka tahan sedari tadi.

__ADS_1


Setelah puas, mereka pun menyudahi memukul Asdam. Meskipun begitu, Asdam tidak terlihat luka sama sekali, karena sejatinya, keluarganya masih memiliki perasaan.


"Asdam, kamu bener-benar membuat semua orang kewalahan!" ujar Chana sambil ngos-ngosan karena lelah.


"Chana, maafkan aku," jawab Asdam yang terlihat berantakan sekali. Asdam terkulai lemas di lantai bersandarkan pada dinding.


"Chana, sebaiknya kamu duduk dan istirahat. Mamah tidak ingin terjadi apa-apa dengan cucu mamah,"ujar Nyonya Beckham menuntun Chana untuk duduk di sofa.


Sedangkan Alden, ia menuangkan air minum untuk Chana.


"Kak, minum dulu."


"Terima kasih, Alden?"


Asdam yang teringat jika istrinya kini sedang mengandung pun langsung berdiri dan menghampiri Chana.


"Chana, kamu sungguh beneran hamil? selamat untukmu," ujar Asdam terlihat tersenyum kikuk. Rasanya ia ingin memeluk Chana, tetapi ia malu..


"Iya."


jawab Chana singkat.


Suasana pun seketika langsung sunyi kembali ketika mendengar jawaban Chana yang singkat.


"Em, ini masih haru duka meninggalkannya kakek, jadi, aku tidak ingin ada masalah yang di bahas saat ini. Asdam, kita akan bicara hubungan kita di kemudian hari, sekarang, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri," jelas Chana.


"Chana, apa maksudnya ini? hubungan kalian, kamu dan Asdam akan tetap terus bersama-sama!" ujar Nyonya Beckham.


"Mah, sekarang Asdam sudah tahu semuanya. Kita tidak bisa melarangnya lagi. Dia sudah cukup dewasa untuk mengerti bagaimana mencari jalan keluar. Lagi pula, aku sekarang sudah mengandung pewaris keluarga Marquez dan juga keluarga Alonza. Aku butuh merasa tenang untuk melahirkan dan membesarkan bayiku. Aku tidak mau setres memikirkan hal-hal yang akan mempengaruhi janinku. Andai kata Asdam Misha ingin bersama, maka aku akan mengikhlaskannya," jelas Chana..


Asdam pun terlihat terkejut mendengar pengakuan Chana yang mengikhlaskan dirinya dan juga Misha untuk bersama. Tapi, bukannya senang, justru Asdam merasa sangat tertampar.


"Chana, ketika pemakaman kakek, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan belajar menjadi ayah yang bertanggung jawab. Kamu adalah ibu dari anak-anakku, hanya kamu, tidak ada yang lain," ungkap Asdam dengan penuh perasaan.


"Ini tidak akan adil untuk Misha," jawab Chana. "karena Misha sudah tahu semuanya, maka dia juga harus mendapatkan keadilan. Kamu tidak bisa datang dengan begitu bangganya dan sekarang kamu ingin mencampakkannya begitu saja. Bukankah setelah kamu mengetahui semuanya, kamu langsung merasa menjadi pria yang hebat, pria yang tersakiti, pria yang tertipu oleh wanita seperti ku, pria yang harus mendapatkan keadilan!?" Chana terlihat menahan air matanya.


"Semua itu sebelum aku mengetahui segalanya. Mamah sudah mengatakan padaku, jika kamu memanglah gadis kecil yang aku cari."


"Bukankah sedari awal sudah ku katakan, aku adalah gadis kecil itu. Tetapi, setelah kedatangan Misha, kamu lebih mempercayainya begitu saja!" Chana benar-benar merasa kesal dengan Asdam..

__ADS_1


Hanya karena bicara B, maka huruf D pun menjadi B. Tapi, kalo Chana yang bicara selalu di ragukan kebenarannya. Chana tidak akan semudah itu menerima Asdam kembali, apalagi masih ada Misha yang sedang menunggu-nunggu kabar dari Asdam dengan penuh harapan nyata.


__ADS_2