
Karena tidak kuat menahan syok, Misha pun akhirnya pingsan. Asdam, yang awalnya ingin kembali memberikan bogeman kepada sekretaris Rein pun langsung mengurungkan niatnya ketika melihat Misha yang pingsan.
"Misha!? Misha!?" Asdam pun mencoba untuk menyadarkan Misha, namun sia-sia. Tidak ingin terjadi apa-apa kepada Misha, Asdam pun langsung membawa Misha pergi kerumah sakit.
Sedangkan sekertaris Rein, ia nampak terkulai tidak berdaya. Bahkan ia sampai terbatuk-batuk darah segar.
Di bawah, terlihat jika Chana dan Nomnom masih menunggu sekertaris Rein di dalam mobil. Chana meminta Nomnom untuk menunggu, karena Chana sangat takut jika sampai terjadi apa-apa dengan Sekertaris Rein.
Ketika sedang menunggu, tidak lama Chana dan Nomnom melihat Asdam yang membopong Misha yang pingsan.
"Nom, apa yang terjadi sama Misha?" tanya Chana merasa ikut bersalah tentang banyak hal.
"Kayaknya dia pingsan. Apa sakitnya kambuh lagi ya?" ujar Nomnom juga yang tidak mengerti juga.
Setelah kepergian Asdam dan Misha, beberapa saat Chana dan Nomnom juga menunggu kehadiran sekertaris Rein, tetapi tidak juga kunjung keluar.
"Nom, kayaknya kita harus ke atas deh, aku takut kalo sampe terjadi apa-apa sama sekertaris Rein!" titah Chana sambil keluar dari mobil dan berlari ke masuk kembali ke apartemen.
"Chana tunggu!" teriak Nomnom yang langsung mengikuti Chana.
Ketika sampai di lift, Nomnom pun menghembuskan nafas kelelahan.
"Chana, bisa gak sih gak usah lari-lari, ingat, kamu itu sedang hamil, kamu harus menjaga kandungan mu itu!" Nomnom mengingatkan Chana.
Sontak Chana pun langsung teringat jika dirinya memang sedang hamil muda. Ia pun memegangi perutnya dan meratapi nasibnya. Harusnya, ini adalah hari yang paling bahagia untuk dirinya dan juga Asdam. Namun, seperti dunia berkata lain.
Ketika pintu lift terbuka, Chana pun langsung buru-buru masuk ke kamar Misha. Ketika masuk, Chana dan Nomnom pun terkejut melihat Sekertaris Rein yang tergeletak tidak berdaya di lantai.
"Sekertaris Rein!?" Chana pun langsung menghampirinya. Chana memeriksa apakah sekertaris Rein masih hidup atau tidak.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Nomnom yang juga merasa sekujur tubuhnya mati lemas melihat sang pangerannya bersimpuh darah sekujur wajah.
"Syukurlah, dia masih hidup, ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" ujar Chana.
"Biar aku gendong dia," ucap Nomnom yang langsung mengangkat tubuh Sekertaris Rein.
Sekertaris Rein setengah sadar setengah tidak sadar melihat perjuangan Nomnom yang menggendong dirinya.
Berat badan yang Nomnom miliki membantunya menjadi sedikit kuat sehingga dapat membopong sekertaris Rein.
Sekertaris Rein berterima kasih dalam hati, karena ia sudah tidak bisa berucap apapun lagi..
Ketika sampai di rumah sakit, terlihat Asdam memegangi tangan Misha dengan erat. Ia duduk sambil meratapi kepedihan Misha selama ini.
Ia sekarat, namun ia harus merasakan sumpah serapah yang Asdam ucapkan untuknya.
Ketika Misha siuman, ia melihat Asdam yang menundukkan kepalanya. Misha pun tersenyum dan memegang erat tangan sang kekasih.
Asdam pun meluruskan pandangannya dan menoleh ke arah Misha yang sudah siuman.
"Hey, kamu sudah sadar?" Asdam memegangi pipi Misha dengan lembut.
Misha pun tersenyum dan mengangguk tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Asdam, aku sangat malu, malu sekali." Misha pun tak kuasa untuk tidak mengalirkan danau dari matanya.
"Hust, jangan bicara seperti itu. Malu? apa yang harus kamu malui?" tanya Asdam.
"Aku malu dengan keadaan ku sekarang. Bukankah sekarang aku teramat sangat menjijikkan? semua orang menghindari ku di saat aku seperti ini!" suara Misha benar-benar sangat-sangat terdengar berat. Sungguh cinta matinya kepada Asdam membuat Misha menggila.
__ADS_1
Asdam pun menggelengkan kepalanya, "andai aku tahu dari awal jika kamu sakit, aku pastikan aku akan selalu berada di sampingmu setiap saat. Tetapi, orang-orang itu -!" Asdam pun terdiam karena ia pun sangat sakit jika mengingat kebohongan yang Chana lakukan padanya. Keluarganya bahkan tega membohongi dirinya sejauh ini. Bahkan adiknya, Alden, ia pun ikut adil untuk diam.
Asdam Misha pun masih dalam fase yang sangat syok karena mengetahui jika mereka sudah di bohongi sekejam ini. Asdam Misha pun hanya berpelukan untuk melepaskan rasa sakit yang sama-sama mereka rasakan.
Di sisi lain, Chana yang mengantarkan Sekertaris Rein ke rumah sakit, tidak sengaja melihat ruangan Misha, di mana di sana Misha dan Asdam sama-sama saling berpelukan mesra nan erat.
Chana pun merasa sakit dan tidak berdaya. Chana merasa bingung harus bagaimana. Meskipun ia adalah korban dari kebohongan Misha, namun Misha juga adalah korban dari keserakahan dan caranya untuk mengambil Asdam.
Meskipun Asdam adalah pangeran masa kecilnya, dan kini ia adalah suaminya, namun semua tidaklah berguna untuk menyatukan kelingking.
Misha sudah bersama dengan Asdam bertahun-tahun, jelas cinta mereka sudah sangat dalam.
Misha adalah korban nyata dari keserakahan orang tua mereka, dan Misha juga kini sedang butuh perawatan dan dukungan yang nyata.
Terlepas dari keserakahan dan kebohongan Misha untuk merebut hati Asdam, itu adalah haknya dan juga, ia sudah berhasil masuk ke dalam.
Chana pun tidak dapat memaksa Asdam untuk kembali padanya. Mau bagaimana pun, Asdam Misha sudah lama merajut kasih sayang. Chana sangat yakin, sebesar apapun ia mengungkapkan kebenarannya, Asdam tidak akan kembali padanya, karena ia sudah cukup sadar diri dengan apa yang sudah ia perbuat.
Chana merasa sangat bersalah karena sudah berbohong dan tidak jujur sejauh ini. Meskipun Misha sudah menjauhkan ia dari pangeran kecilnya, tetapi caranya pun tidak kalah fatal. Chana menyadari kesalahannya yang tidak akan di maafkan oleh Asdam.
Chana pun berbalik dan pergi meninggalkan Asdam dan Misha yang masih berpelukan hangat.
Terkadang kesalahan tidak dapat di balas dengan kesalahan. Korban bukanlah dia yang merasa memiliki sebuah barang antik di toko dan seseorang terlebih dahulu mengklaim jika itu adalah miliknya karena ia sudah ia beli. Asdam, aku bukanlah korban nyata. Aku salah menilai kegigihan Misha untuk mendapatkan cintamu. Selama ini aku tiada usaha apapun, dan aku sudah mengklaim jika kau adalah milikku. Bodohnya aku, hanya karena untuk menghibur diriku sendiri yang sudah berdusta, aku menyudutkan usaha Misha adalah sebuah kekejaman dan kesalahan.
Chana membayangkan kebodohannya sambil mengendarai mobil seorang diri dengan kecepatan penuh. Chana patah hati sampai rasanya ia sangat sulit untuk mengerti dirinya sendiri.
Sayatan demi sayatan membelah hatinya bertubi-tubi. Kini, ia hanya berfikir bagaimana ia bisa pergi sejauh mungkin dari pelu-pikuk yang begermusung di pikiran dan hatinya.
Menyalahkan seseorang tidak bisa, mengaku salah pun itu sangat tidak adil baginya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaahhhkkk... MAMAAAAAH .... PAPAAAAAAH... PUASKAH KALIAAAAN!" teriak Chana seorang diri di tepi tebing yang menjulang lautan luas di depan mata.