Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 40, Akankah ...


__ADS_3

Langkah terlihat sudah tidak sanggup untuk melangkah. Nomnom pun akhirnya tumbang dan terkulai lemas. Ia duduk dan meminum air di botol yang ia bawa.


"Huft! ya ampun, aku sangat lelah sekali, kaki ku rasanya mau patah, aarggh!" Nomnom pun tersengal-sengal karena kelelahan. "Di mana Chana, apa dia masih berlari?" lanjutnya sambil memperhatikan taman dengan seksama untuk mencari majikannya.


"CHANAAAA...! kamu di mana!?" teriak Nomnom ketika menyadari jika sepertinya ia hanya seorang diri di taman. "Oh, my lady lady lady...! kemana anak itu?" Nomnom pun mulai panik.


Nomnom pun langsung berlari ke rumah untuk mencari Chana yang tidak ia temui di halaman belakang.


Ketika bertemu dengan salah satu pelayan, Nomnom pun langsung mengentikan, "tunggu, apakah kamu tahu di mana Nona Chana?" tanya Nomnom.


Pelayan pun menatap Nomnom dengan tatapan sinis. "Kamu itu bagaimana, bekerja untuk menjaga Nona Chana malah membiarkan nona Chana pingsan!" jawab pelayan dengan sewot.


"Kita tunggu saja, tuan Asdam pasti akan langsung memecatnya!" imbuh pelayan lainnya.


Nomnom pun masih tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh para pelayan. "tunggu-tunggu, apa maksud kalian? Nona Chana pingsan? kapan! dimana!? sekarang dia ada di mana?" tanya Nomnom dengan ekspresi yang sangat panik.


"Nona Chana sudah di bawa kerumah sakit sekarang. Menurut aku sih kamu gak usah ke rumah sakit, tapi pulang aja ke kandang asalmu!" jawab pelayan yang terlihat sangat memandang rendah Nomnom.


Nomnom pun tidak mempedulikannya perkataan para pelayan padanya. Kini di pikiran Nomnom hanyalah bagaimana dia bisa segera menyusul ke rumah sakit.


Ketika Nomnom berada di halam luar, sebuah mobil yang tidak asing di matanya pun datang. Ia adalah sekertaris Rein yang membawa mobil Asdam. Rein akan menjemput Asdam untuk berangkat ke kantor.


"My Prince! untung kamu datang. Gak usah turun, biar aku yang masuk ke dalam!" ucap Nomnom membuat Sekertaris Rein yang baru datang mengerutkan keningnya.


Sekertaris yang baru berdiri di pintu mobil pun langsung kembali masuk ke dalam mobil dan menatap Nomnom yang buru-buru memasang sabuk pengaman.


"Apa ini!?" tanya sekertaris Rein.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" jawab Nomnom tidak sabaran.


"Ada apa!? tidak bisa, cepat turun dari mobil, aku harus segera kantor sekarang dengan tuan Asdam!" sahut Sekertaris Rein.


"Ya sekarang Tuan Asdam sedang menuju ke rumah sakit, Chana sakit!" jelas Nomnom dengan tegas.


"Apa!?" sekertaris Rein seketika panik.

__ADS_1


"Ya makannya ayo cepat!" sahut Nomnom..


Sekertaris Rein langsung menyalakan mobil dan menancapkan gas untuk menyusul Asdam dan Chana.


Di sisi lain, terlihat Chana dan Asdam sudah memasuki ruangan USG. Chana memegang erat tangan Asdam. Chana sangat takut jika sampai diagnosa dokter sebelumnya salah.


Ketika dokter mulai menjalankan alat untuk melihat kehidupan di dalam perut Chana, terlihat Chana memejamkan matanya karena takut jika sampai perutnya ternyata kosong.


Tetapi, Asdam yang melihat reaksi Chana, ia berfikir jika alat itu menyakiti perut istrinya.


"Hentikan!" teriak Asdam menyebak tangan dokter untuk menyingkirkan alat USG itu dari tangan Chana.


Chana pun langsung membuka matanya dan menatap Asdam. Dokter pun terlihat terkejut dengan tindakan Asdam.


"Apakah kamu berniat membunuh istri ku!? kamu menyakitinya!?" tanya Asdam dengan serius.


"Asdam, kamu kenapa?" tanya Chana mencoba untuk menenangkan Asdam yang mendelik ke dokter.


"Apakah tadi itu sakit? aku melihat kamu memejamkan mata ketika dokter ini menempelkan alat itu ke perutmu!?" tanya Asdam menatap wajah Chana dengan ekspresi sangat khawatir.


Chana dan dokter pun tersenyum mendengar pernyataan Asdam. "enggak suamiku sayang. Tadi itu tidak sakit. Aku memejamkan mata, itu karena aku hanya sangat merasa jika, emm .. aku hanya takut jika sampai aku tidak jadi hamil, aku hanya takut jika sampai ternyata tidak ada janin di dalam perut ku ini," jelas Chana.


"Tuan Asdam yang terhormat, saya bisa menjamin jika tindakan saya ini tidak akan melukai atau pun menyakiti Nona Chana. Sekarang, mari kita lanjutkan pemeriksaan, saya sangat yakin, jika kalian akan sangat bahagia dengan hasilnya," ujar dokter.


Chana pun mengangguk dan memegang tangan Asdam dengan lembut untuk meyakinkannya jika ia akan baik-baik saja.


Setelah beberapa saat, sepertinya dokter belum dapat melihat sesuatu. Bukan berarti Chana tidak hamil, namun sepertinya kehamilannya masih sangat muda atau sekitar baru 1 Minggu awal. Meskipun di lihat dari hari pertama hari terakhir haid sudah habis 1 bulan, tetapi sepertinya pembuahannya baru terjadi di beberapa hari terakhir ini.


"Bagaimana, Dok?" tanya Chana..


"Maaf, Nona, sepertinya saya terlalu terburu-buru untuk melakukan USG. Hasilnya belum dapat terlihat, tetapi kita bisa melakukan testpack terlebih dahulu untuk memastikannya." jelas Dokter merasa bersalah karena terlalu buru-buru..


Asdam terlihat menghembuskan nafas kesal kepada dokter ini. Namun Chana memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya, Chana mengedipkan matanya agar Asdam tetap tenang.


"Baik, dok, kita akan melakukan testpack," jawab Chana.

__ADS_1


Chana pun masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan test secara mandiri. Di sisi lain, Asdam nampak berdiri dan siap siaga di depan pintu kamar mandi.


Ketika sedang menunggu, tiba-tiba saja ponsel Chana berdering membuat Asdam pun langsung mengambil.


Asdam pun keluar dari ruangan dokter itu untuk mengangkat panggilan dari nomor baru yang tidak ada namanya.


Panggilan vidio call, Asdam pun berfikir, siapa orang nomor baru ini melakukan panggilan vc kepada Chana. Karena penasaran, Asdam mengangkatnya.


Awalnya gambar nampak tidak jelas karena pantulan cahaya yang menyilaukan. Setelah beberapa saat, mata Asdam pun mendelik seperti mau copot. Tangannya gemetar, kakinya terasa lemas, dan juga jantungnya berdegup kencang tidak karuan.


"Misha?" Asdam pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah benar orang sedang bertatapan dengannya adalah Misha. Wanita yang selama ini membohongi dirinya sebagai ratu masa kecilnya.


Namun, meskipun Misha selama ini berbohong, namun cinta mereka terlihat nyata selama ini. Terlihat dari respon Asdam ketika melihat sosok yang sudah berusaha ia benci selama ini.


"Asdam?" sama halnya, Misha pun tidak pernah menduga jika yang mengangkat telponnya adalah pria yang sangat ia cintai, namun tega mengkhianati dirinya hanya karena dirinya sakit.


Asdam melihat wajah Misha yang pucat, membuat dirinya bertanya-tanya. "Misha, apa yang terjadi padamu?" tanya Asdam terheran-heran.


Misha pun tersenyum kecut mendengar pertanyaan Asdam, karena memang Misha mengira jika Asdam sudah tahu semuanya.


"Cih!" Misha terlihat tersenyum kecut. "Sudah jelas kamu meninggalkan aku hanya karena aku sakit dan koma di hari pernikahan kita, dan sekarang kamu bertanya aku kenapa!" Misha terlihat sangat jijik melihat Asdam yang sok tidak mengerti.


DHUOR!


Bagai tersambar petir, Asdam pun terlihat gelap ketika mendengar jawaban dari Misha. Rasanya semuanya gelap dan terdengar sangat mustahil.


Koma? Misha koma? saat pernikahan misha koma? ini tidak mungkin, bukankah dia kabur bersama dengan selingkuhnya? ....... Asdam pun terlihat linglung dan tidak mengerti harus merespon seperti apa saat ini.


Di sisi lain, di dalam kamar mandi, terlihat Chana menutup mulutnya ketika garis yang ia tunggu-tunggu akhirnya menandakan harus dua. Chana pun menangis haru melihat garis dua yang ada di testpack nya.


Tapi, karena merasa tidak puas, akhirnya Chana pun mengulangi tes lagi sampai 3 kali. Chana memang membawa testpack lebih ketika masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah semua tes di coba, Chana pun akhirnya semakin yakin jika ia benar-benar hamil. Karena ke tiga tes menunjukan garis dua..


Lalu, bagaimana kisah selanjutnya, bagaimana dengan Asdam dan Misha, apakah akhirnya Asdam tahu yang sebenarnya, yuk simak terus ceritanya...

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2