
Hari ini Asdam dan Chana bersiap duduk di sebuah kursi kelas bisnis di sebuah pesawat. Ternyata, malam itu Nyonya Beckham dan tuan Paulo sangat bersemangat sehingga mereka tidak ingin mengundur waktu.
Meskipun luka-luka pada Chana belum sepenuhnya kering, namun Chana sendiri hanya bisa mengikuti apa kemauan mertuanya.
"Asdam, berapa hari kita akan pergi?" tanya Chana ketika pesawat sudah mulai berada di atas awan.
"Satu minggu," jawab Asdam singkat.
"Hm, aku tidak mengerti kenapa mamah dan papah melakukan ini," ujar Chana menggaruk keningnya.
"Chana!?" Asdam pun mulai serius.
"Ya?"
Asdam sepertinya ingin mengatakan sesuatu namun terhenti.
"Ada apa?" tanya Chana melihat Asdam yang tidak jadi ngomong.
"Emm, gak apa-apa. O, iya, kapan acara perpisahan Alden?" tanya Asdam membelokan obrolan.
"Astaga, aku kenapa sampai lupa, Alden akan tampil 7 hari lagi. Astaga, Alden meminta aku untuk membuatkan baju, bagaimana jika aku-!?" Chana terlihat panik ketika mengingat acara perpisahan Alden.
Chana terlupa jika Alden sudah memintanya untuk membuatkannya pakaian untuk tampil di acara perpisahan. Jika sampai Chana gagal kali ini, maka ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, Alden pasti akan sangat kecewa padanya.
"Kamu jangan khawatir, ketika kita sampai, aku akan membantumu untuk membeli bahan dan membuatkan baju untuk Alden. Kita akan pulang lebih cepat," ujar Asdam mencoba untuk menenangkan Chana.
"Alden, dia hanya butuh perhatian, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai aku tidak bisa memberikan permintaannya yang sudah ku janjikan." Chana masih saja terlihat sangat gusar.
"Sudahlah, aku akan bicara pada Alden dan akan menjelaskan padanya. Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," ujar Asdam memegang tangan Chana untuk menenangkannya.
Chana pun hanya bisa menghela nafas dan berharap jika ia bisa datang tepat waktu.
...----------------...
Singkat cerita, kini akhirnya Asdam dan Chana sampai di Prancis. Mereka menuju ke sebuah hotel yang sebelumnya sudah di booking.
Melihat kamar mereka, Chana dan Asdam pun sama-sama terdiam dan tersipu malu. Bagiamana tidak, Nyonya Beckham sudah menyuruh seseorang menghias kamar itu bak pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Taburan bunga merah dan juga angsa bentuk cinta membuat mata Chana merasa sangat rikuh.
"Asdam, aku akan membereskan ini, aku tidak mungkin tidur kasur yang banyak bunganya kaya gini," ujar Chana dengan cepat mengobrak-abrik kasur yang awalnya rapih dan indah.
Asdam pun hanya diam dan meletakan koper. "Terserah kamu saja, aku mau mandi dulu, ya?" ujar Asdam.
"Iya, semua ini biar aku bereskan," ujar Chana tersenyum kikuk.
__ADS_1
Setelah Asdam mandi, Chana pun melihat Asdam yang hanya melilit handuk di pinggulnya.
"Astaga!" Chana pun spontan langsung menutup matanya.
"Kenapa?" tanya Asdam.
"I-itu, cepat pakai bajumu! kenapa kamu keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk seperti itu!" ujar Chana panik.
Asdam pun hanya tersenyum melihat tingkah Chana.
"Bukankah kita suami-istri?" tanya Asdam meledek Chana sembari mencari pakaiannya di koper.
"Iya, tapi gak gitu juga kali!" sahut Chana yang langsung membalikan tubuhnya membelakangi Asdam.
"Jangan terlalu begitu, nanti ketagihan loh!" ejek Asdam.
"Iiiiiiiiiiiiiiih, ngomong apaan sih kamu! gak jelas, deh!" Chana pun berlari ke kamar mandi untuk menghindari Asdam yang mulai berani memancingnya.
Asdam yang awalnya tersenyum langsung berubah mimik wajahnya dengan datar. Kali ini, entah apa yang ada di pikiran Asdam, rencana apa yang sedang Asdam rencanakan.
......................
Malam ini Chana dan Asdam sama-sama menghabiskan waktu untuk bermain catur, sebab mereka belum ada jadwal untuk melakukan apa. Tidak mungkin bagi mereka untuk langsung melakukan hubungan intim, karena mereka tidak sedekat itu sebelumnya.
"Asdam, laki atau perempuan aku tidak masalah, yang penting ia menjadi anak yang sehat dan baik," ujar Chana.
"Aku ingin dia laki-laki," sahut Asdam mengutarakan keinginannya.
"Caranya?" tanya Chana.
"Maksudnya?"
"Caranya kaya mana biar anak itu jadi laki-laki atau perempuan. Para dokter juga gak bisa memastikan dengan akurat, karena bayi laki-laki atau perempuan hanya tuhan yang menentukan," jawab Chana.
Asdam pun terdiam tidak menjawab, namun ia memilih untuk menghentikan permainan dan memilih untuk tidur.
Chana yang pun hanya diam melihat Asdam yang berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Chana sendiri tidak mau ambil pusing dan berniat untuk menyusul Asdam untuk tidur. Sebelum tidur, Chana pun meminum pil kesuburan.
Setelah itu, Chana memilih untuk tidur di sofa. Chana sendiri masih belum siap untuk tidur satu kasur dengan Asdam.
......................
Pagi ini, Chana dan Asdam berjalan-jalan dipinggiran taman kota. Mereka menikmati pemandangan yang mana di negara mereka tidak ada.
__ADS_1
Asdam Chana terlihat sangat bahagia dan terlihat sangat akrab. Mereka sama-sama memberikan makan burung, bersepeda bersama dan juga mengambil foto bersama-sama.
Meraka terlihat seperti pasangan romantis pada umumnya.
Chana sendiri sudah lama sekali rindu sekali dengan negara ini, sebab Paris adalah negara di mana ia belajar fashion dan juga desainer.
Dari pagi hingga malam, akhirnya Chana dan Asdam memilih untuk mendatangi sebuah restoran bintang lima di kota.
Sembari menunggu makanan datang, Chana dengan ragu-ragu mencoba untuk bermain piano yang tersedia.
Asdam yang baru saja kembali dari kamar kecil, terkejut ketika istrinya menjadi pusat perhatian orang-orang.
Meskipun Asdam sangat menyukai permainan Chana, namun entah mengapa Asdam tidak suka dengan beberapa mata laki-laki yang memandangi Chana dengan ekspresi takjub.
Entah cemburu atau bagaimana, namun Asdam benar-benar merasa sangat tidak suka. Wajahnya memerah dan tubuhnya mengeras dengan otot-otot yang mulai mencuat.
Sampai akhirnya Chana selesai, semua orang bertepuk tangan untuk Chana.
Ketika Chana akan kembali ke kursinya, tiba-tiba saja seorang pria datang menghampiri Chana.
Asdam yang masih berdiri di kejauhan hanya bisa memantau Chana dalam diam dengan seksama.
"Hay, Chana Zea?" sapa pria itu.
"Oh, Hay, Davis? kamu devis kan?" tanya Chana memastikan, sebab sepertinya pria ini tidak asing baginya.
"Ya, ini aku. Senang bisa bertemu dengan mu kembali," ujar pria itu yang langsung memeluk Chana dan cipika-cipiki. Hal ini biasa di barat.
"Senang juga bisa bertemu denganmu," ujar Chana ramah.
"Kamu terlihat sangat cantik sekarang. Kamu juga semakin pandai bermain Piano," puji pria itu.
"Masih belum bisa menandingi mu, Davis, kamu yang terbaik pokoknya," ujar Chana kembali memuji Davis. Davis ini adalah teman Chana, dia adalah seorang pianis terkenal di kota itu.
"Aku mengundang mu ke acara konser ku yang besok. Tenang saja, khusus untuk mu karena berada di sini, tiketnya gratis," ujar Davis.
"Oh, ya ampun, serius? demi apa? aku ma-!" Chana pun terhenti ketika Asdam tiba-tiba muncul dan langsung merangkulnya.
"Maaf, kami tidak bisa datang, kami masih banyak pekerjaan," ujar Asdam membuat suasana seketika langsung terasa canggung.
Davis pun terlihat sangat terkejut melihat seorang pria tiba-tiba datang dan merangkul Chana. Wajahnya terkejutnya tidak dapat di manipulasi, dan Asdam sangat menyukainya keterkejutan Davis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komen ya
__ADS_1