Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 06 Menjadi tanggung jawabnya


__ADS_3

Chana hanya bisa terpaku saat Ziga memeluk erat dirinya. Tahu jika semua ini harus segera berakhir, Chana pun perlahan melepaskan pelukan Ziga.


"Ziga, maafkan aku. Aku sekarang adalah istri orang lain. Aku harap, kamu akan dapat melupakan aku dan mendapatkan jodoh yang baik, tidak seperti diriku," ujar Chana menahan bulir-bulir air dari matanya.


"Apakah kamu benar-benar merebut Asdam dari Misha?" tanya Ziga yang masih tidak percaya.


"Seperti yang kamu ketahui," jawab Chana singkat sebelum akhirnya Chana memilih untuk keluar dan meninggalkan Ziga seorang diri.


Ziga pun sangat patah hati sampai-sampai ia tidak dapat lagi mengejar gadis impiannya. Ziga terpaku menatap Chana yang berlari menjauh darinya.


Saat ini, Ziga menghampiri kamar Misha. Ternyata Ziga selain kekasih Chana, ia juga adalah sahabat atau teman akrab Misha saat masih sekolah.


"Ziga, maafkan Tante ya. Bukan Tante tidak merestui hubungan mu dengan Chana, hanya Tante sendiri tidak berkutik dengan perjanjian suamiku. Perjodohan ini tetap harus di lakukan, sedangkan kondisi Misha membuat keluarga Marquez tidak mau menerimanya kembali," jelas Tante Tirana.


Tante Tirana pun akhirnya menjelaskan kepada Ziga jika sebenarnya Chana tidak bersalah, dia hanyalah korban dari keserakahan ayahnya, Tuan Bealonza. Tante Tirana juga memberi tahu jika mereka semua telah membohongi Misha dan menuduh jika Misha telah berselingkuh.


"Ziga, Tante mohon agar kamu mau menjaga dan merawat Misha. Hanya kamu orang yang dapat Tante percaya," ucap Tante Tirana memohon pada Ziga. Dalam artian, Ziga juga harus setuju jika pria selingkuhan Misha adalah dirinya.


Ya Tuhan, aku harus bagaimana. Di satu sisi saat ini nama baik Chana sedang di pertaruhkan. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Asdam jika tahu yang sebenarnya. Chana, demi apapun aku pun akan ikut adil untuk melindungi mu. batin Ziga risau.


"Baik, aku mengerti Tante," jawab Ziga sembari menundukkan kepalanya. Mau bagaimana pun, Ziga sendiri tidak dapat egois. Ziga berusaha untuk sedewasa mungkin untuk menghadapi cobaan ini. "Tante, aku akan membawa Misha untuk berobat di Korea. Saat ini dia pasti sangat terpukul dengan apa yang sudah menimpanya," ujar Ziga berbicara pada Nyonya Tirana.


Saat ini juga Ziga memikirkan kondisi kesehatan dan juga mental Misha. Pasti saat ini Misha sangat hancur dan terpukul dengan apa yang menimpanya.


...****************...


...Di sisi lain, Chana memilih untuk pergi ke butik untuk sekedar mencari ketenangan....

__ADS_1


"Hellooooooo syantiiik, kok telpon inces gak di angkat sih, Sihombing kaliiii." Seorang wanita perawan bobot 80kg dengan tinggi badan 150, dapat kita bayangkan bagaimana bulatnya wanita yang bernama Nomnom ini.


Meskipun Nomnom adalah wanita yang sangat montok, namun keahliannya dalam mendesain pakaian tidak di ragukan lagi.


Cita-cita Nomnom ialah, ia ingin kurus dan langsing agar ia bisa memakai pakaian yang ia desain sendiri. Nomnom selalu membayangkan tubuh seksinya berjalan anggun dengan gaun malam bersama dengan pria idamannya sekelas oppa-oppa Korea.


Sangat tinggi cita-cita Nomnom dan mari bersama kita amiinkan keinginannya meksipun setiap malam Nomnom tidak bisa meninggalkan kebiasaannya untuk makan 3 mangkok mie instan di campur 5 telor. Ini adalah salah satu ikhtiar Nomnom yang sangat membengongkan.


"Sihombing!? apa itu?" tanya Chana yang selalu pusing dengan bahasa Nomnom yang suka di ubah-ubah semaunya.


"Sohombooong loooh! masak gitu aja gak. ngerti sih, euh gak asyik deh," sahut Nomnom.


Chana pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Nom, aku mau istirahat di atas, jika ada customer datang kamu yang ladeni ya, kepalaku sedang sakit," ujar Chana yang langsung berjalan ke lantai dua.


"Oh my lady lady lady lady.....! itu kepala Why?" Nomnom pun terlihat heboh sendiri.


Melihat kepanikan Nomnom yang berlebihan pun membuat Chana semakin pusing kepala. Saat ini Chana benar-benar tidak ingin membahas soal apapun.


"Aku ngantuk sehingga menabrak tiang. Jadi plis biarkan aku istirahat, oke!" ujar Chana.


"What! nabrak tiang!? memangnya tiangnya di tarok di sebelah mana kok bisa kamu tabrak?" rasa penasaran Nomnom pun semakin tinggi membuat Chana semakin pusing meladeni temannya yang super duper cerewet ini.


"Tiangnya di tarok di depan pintu!" sahut Chana sambil menutup pintu ruangan kerjanya.


Nomnom pun seperti orang lolok sendiri mendengar jawaban Chana.

__ADS_1


"Haaaah...!? di depan pintu? Chanaaa, katakan padaku, arsitek mana yang mendesain tiang di depan pintu!?" teriak Nomnom dari depan pintu namun Chana hanya diam dan sengaja tidak menjawabnya. Jika di jawab, kepalanya akan semakin pusing.


"Iiiiiiiiiiiiiiih, aku harus bertemu dengan arsitek bodoh itu. Aku mau tau dia sekolah di mana bisa-bisa buat desain ada tiang di depan pintu!? aneh sekali." Nomnom menggerutu merasa terheran-heran.


Di dalam ruangan, Chana duduk di kursi empuknya sambil kepalanya ia sandarkan. Chana memejamkan matanya memikirkan apa yang harus ia lakukan.


"Papah, bisa gak Chana sekali saja boleh membantah papah?" gumam Chana sambil memejamkan matanya.


"Bukankah kamu sudah sering membantah papah?" Suara khas tuan Bealonza mengejutkan Chana sampai-sampai ia hampir saja terjatuh dari kursinya.


Chana pun melihat ke arah pintu dan ternyata di sana sudah ada ayahnya.


"Papah? bukankah papah sedang sibuk hari ini?Bukankah sekarang ada peresmian kerjasama antara papa dan juga keluarga Marquez?" tanya Chana terheran-heran.


"Kamu tahu siapa papah bukan, ini bukan hal sulit bagi papa untuk sekedar menemui putri papa tercinta," ujar Tuan Beaalonza berjalan mendekati Chana.


"Kenapa baru sekarang berkata seperti ini, apakah karena Chana sudah mengorbankan nyawa Chana untuk papah makannya kini papah berkata begitu. Dari dulu-dulu juga papah tidak pernah hadir di acara penting Chana seperti pertunjukan di sekolah, perpisahan sekolah," gerutu Chana mengingatkan ayahnya.


"Chana, bukannya papah tidak mau datang, namun pada saat itu papa memang sedang sibuk. Lagian dulu kamu suka membantah jika papah suruh sekolah di mana negara yang sering papa kunjungi. Kamu selalu mencari sekolah yang jauh dari jangkauan waktu yang papa punya. Oya, ini keningmu kenapa?" tanya Tuan Bealonza mengelus kening Chana dengan lembut.


Chana pun bingung harus berkata apa. Jika aku mengatakan jika ini adalah ulah Misha, pasti papah akan marah besar kepada Misha. Sejak Misha ketahuan berbohong dengan penyakitnya, bukanya papah simpati tapi papah malah murka dan tidak menganggap Misha sebagai anaknya lagi.


"Oh, tidak papa pah, cuma luka kecil aja. Chana tidak memperhatikan jalan," jawab Chana menutupi kejadian yang sebenarnya.


"Chana, papah tahu ini berat untuk mu di awal, tapi ketahuilah, papah melakukan semua ini demi masa depan mu. Papah minta padamu, jaga nama baik keluarga kita, jangan sampai kamu berbuat curang seperti apa yang Misha lakukan. Apapun yang terjadi di dalam rumah tanggamu dengan Asdam, papa mohon kamu harus bisa menghadapinya dan kamu harus mempertahankan pernikahan ini. Ingat, papah tidak mau lagi mendengar kata-kata yang tertuju pada belas kasih Misha. Perjodohan ini sudah resmi kami tukar, jadi jangan di bahas lagi. Papah sedang buru-buru karena acara akan segera di mulai. Jaga dirimu baik-baik, karena penerus di keluarga kita ada pada dirimu," ujar Tuan Bealonza panjang lebar yang pada intinya Chana harus tetap diam dan menerima semuanya ini dengan sabar.


Chana pun tidak bisa berkata apapun. Karena Chana tahu, jika di jawab maka ayahnya akan murka dan pada akhirnya, ia juga yang akan kena imbasnya.

__ADS_1


__ADS_2