Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 22, Bersatu


__ADS_3

"Ratuku berjalan menyelusuri rerumputan, ada sebuah bunga yang menarik perhatiannya. Bunga itu sangat cantik seperti wajahnya."


Asdam mengatakan perkataan yang membuat Chana pun langsung mendelik dan terkejut. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika mendengar puitis yang tidak asing di telinganya.


"Dan, pangeran ku datang untuk mengambilkannya untuk ku," imbuh Chana membalas.


Kamu adalah Ratu.


Dan kamu adalah Pangeran.


ujar mereka secara bersamaan untuk mengenang masa lama.


Asdam dan Chana sama-sama terkejut dan sama-sama tidak percaya.


"Kamu?" Chana pun menunjuk Asdam tidak percaya.


"Iya, ini adalah aku. Bagaimana bisa kamu? Maksud aku, bukankah ratu itu adalah Misha. Bagaimana kamu bisa tahu kata-kata itu?" tanya Asdam.


"Sejak kapan ratu menjadi Misha. Selama ini, akulah anak yang bermain dengan pangeran," jawab Chana.


"Ini tidak mungkin. Aku yakin kamu hanya berpura-pura dan mengintip kami pada waktu itu," ujar Asdam masih tidak percaya.


"Jika kamu tidak percaya ya sudah. Lagi pula, aku masih menyimpan kalung yang pangeran buatkan untuk ku," ujar Chana pasrah jika Asdam tidak mempercayainya.


Ketika mengatakan itu, Asdam jadi teringat ketika ia menanyakan kepada Misha, apakah ia masih menyimpan kalung yang ia buat, dan bisa menjawab jika kalung itu sudah rusak lama..


Sekarang, Chana dengan tegas mengatakan jika ia masih menyimpan kalung itu bersamanya.


"Jadi, selama ini Misha telah membohongi ku. Dia bukanlah ratu yang aku cari selama ini. Misha, aku tidak percaya kau berbohong padaku selama ini dan menyembunyikan rahasia ini selama ini!?" Asdam pun mengumpat dalam hati, tidak percaya dengan apa yang Misha lakukan padanya selama ini.


Chana terlihat menundukkan kepalanya. Selain rasa senang di dalam hati karena ia sudah menemukan pangerannya, namun ia bingung karena harus bertemu dengan pangerannya dengan cara seperti ini.


Ada rasa malu dan rasa tidak berdaya di hati Chana.


Asdam pun menatap Chana dengan perasaan bimbang dan bingung. Perasaan yang sulit ia pahami. Asdam bingung harus memulainya dari mana. Selama ini, orang yang sudah ia sakiti adalah ratu yang selama ini ia cari.

__ADS_1


"Asdam, itu adalah masa lalu, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Mari, sekarang kita pulang saja," ujar Chana dengan nada sendu. Rasanya sangat sulit untuk mencerna apapun saat ini. Mungkin karena Chana baru saja bangun tidur.


Asdam pun diam tidak mengatakan apapun. Mendengar Chana telah melupakan masa kecil mereka yang singkat, membuat hati Asdam merasa sakit. Sebab, Chana tidak tahu berapa berartinya ratu itu bagi Asdam.


Ketika mereka sampai di hotel, Chana pun langsung masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Entah sengaja atau karena memang sudah sangat kelelahan, Chana sampai lupa melepaskan sepatu hils-nya.


Asdam berdiri di belakang pintu dan melihat sikap Chana padanya. Asdam sangat mengerti mengapa Chana bersikap seperti ini padanya setelah mereka tahu jika mereka sudah terikat sejak mereka kecil.


Yah, semua karena perilaku Asdam yang sudah sangat kasar kepada Chana. Namun bukan karena alasan, jika sedari awal Asdam tahu jika Chana adalah ratunya, maka ia tidak akan pernah berprilaku seperti ini.


Asdam sangat ingin menebus kesalahannya kepada Chana, mau bagaimana pun, Chana bukanlah wanita pengganti sialan yang selama ini ia pikirkan. Sedari awal, memang Chana lah yang seharusnya menjadi ratunya.


Ketika di rasa Chana sudah terlelap, Asdam pun perlahan mendekati Chana dan duduk di samping ranjang. Asdam dengan pelan-pelan melepaskan sepatu hils-nya Chana.


Di sisi lain, terlihat Chana yang mencoba untuk menahan nafas agar tidak menimbulkan suara. Ah, ternyata Chana belum tidur, dia hanya berpura-pura tidur.


Setelah melepaskan sepatu hils-nya Chana, Asdam bangkit dan duduk di ruang tv untuk minum dan menonton tv, karena Asdam belum mengantuk dan butuh hiburan.


Sebotol minuman anggur dan juga popcorn, cukup untuk Asdam merilekskan tubuh dan pikirannya.


Meskipun mata Asdam menuju tv, namun pikirannya entah kemana, sampai air mata pun tiba-tiba menets meskipun yang tonton adalah sebuah drama komedi.


Di sisi lain, ternyata Chana diam-diam berdiri di depan pintu kamar untuk melihat keadaan Asdam.


Chana pun merasa sangat sedih melihat Asdam yang seperti itu. Bukan Chana tidak senang bertemu dengan pangerannya, namun ia juga sebenarnya sangat malu untuk memulainya dari mana.


Sampai akhirnya, Chana pun memberanikan diri untuk menghampiri Asdam.


"Hay!?" sapa Chana.


Mendengar suara Chana, Asdam pun langsung mengusap air matanya. Asdam cukup kaget karena kedatangan Chana yang tiba-tiba.


"Kamu tidak tidur?" tanya Asdam.


"Aku terbangun mendengar suara tv, apakah aku boleh bergabung?" tanya Chana tersenyum.

__ADS_1


"Oh, maaf aku sudah menganggu mu," ujar Asdam yang langsung mengecilkan suara tv.


Namun Chana langsung duduk dan merebut remote itu.


"Jangan di kecilkan, aku juga mau lihat," ujar Chana dengan ekspresi wajah yang sudah membaik dan terlihat sangat akrab..


Di sini, malah Asdam yang terlihat sangat canggung..


Chana pun tahu apa yang pikirkan oleh Asdam.


"Sudahlah, mungkin memang jalanya harus seperti ini. Yang terpenting, sekarang kita sudah bersama, lewat jalur langit," ujar Chana memegang tangan Asdam dengan lembut dan menatapnya dengan lembut.


"Tapi ini salahku, karena aku tidak mengenali mu," ujar Asdam yang masih tetap merasa bersalah.


"Kamu mengenali aku lebih baik dari pada aku. Selama ini, aku justru tidak tahu sama sekali siapa kamu, dan kamu, akhirnya tahu siapa aku, yaaaa ... walaupun sedikit terlambat sih," jelas Chana yang kini mulai berani memegang pipi Asdam dengan tangannya.


"Ini sudah sangat lama sekali. sudah 20 tahun lebih, akhirnya kamu menemukan aku. Terima kasih." Chana pun memeluk Asdam dan menangis di pelukannya.


Asdam pun membalas pelukan Chana dengan sangat erat.


"Sungguh, aku sangat merindukanmu," ujar Chana sambil sesegukan.


"Maafkan aku, maafkan aku ..." Asdam pun hanya bisa memeluk Chana dan meminta maaf karena ia terlambat mengenali Chana.


Tidak ingin berlarut dalam kesedihan, Chana pun melepaskan pelukannya dan mengelap air matanya, lalu ia pun tersenyum.


"Sudah-sudah, sekarang aku ingin kita bersama-sama lagi seperti dulu. Kita jalani hidup kita dengan bahagia, JANJI!?" Chana pun tersenyum dan menunjukan kelingkingnya.


Asdam pun sangat senang karena Chana mau menerima dirinya dan memaafkannya.


"Janji!" Asdam pun menyatukan kelingkingnya kepada Chana..


Akhirnya, malam ini Chana dan Asdam sama-sama menikmati malam bersama dengan mengemil dan menonton film komedi.


Karena Chana tidak di perbolehkan minum anggur, jadi dia hanya boleh minum susu oleh Asdam.

__ADS_1


Yah, sepertinya proses buatan anak kali ini tidak ada rasa keterpaksaan di antara mereka. Bagaimana kisah selanjutnya, yuk simak terus ceritanya.


Jangan lupa like dan komen ya bestiii...


__ADS_2