
"Oh, ya Tuhan. Jika benar begitu, aku sangat bersyukur karena Asdam tidak jadi menikah dengan Misha!" Nyonya Beckham pun terlihat syok mendengar pengakuan besannya.
"Apakah Misha tahu jika anda bukanlah ayahnya?" tanya Tuan Paulo.
"Tidak, bahkan Tirana pun masih mengira jika aku tidak tahu apa-apa," jawab tuan Bea-.
"Ya sudah, sekarang kita bagaimana caranya mencari keberadaan Chana. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya sekarang," ucap Nyonya Beckham.
Di sisi lain, tuan Paulo terlihat menerima telpon dari pelayan yang mengurus kakek di villa.
"Tuan, kakek sudah tiada!" suara di balik telpon membuat suasana semakin mencengkram.
"Apa! bagaimana bisa!" sahut Nyonya Beckham yang mendengarkan.
"Jantung kakek kumat ketika beberapa polisi menggeledah villa dan menemukan barang-barang antik milik kakek. Mengetahui barang-barang ilegalnya di sita, kakek langsung syok!" jelas pelayan dari telpon.
"Tapi, siapa yang melaporkan!?" tanya Nyonya Beckham curiga.
Tiba-tiba saja mereka menyadari sesuatu dan langsung menatap Asdam. Benar saja, wajah Asdam seperti jasad tanpa nyawa. Asdam terlihat seperti zombi yang tidak bisa mengendalikan diri lagi.
"Asdam, kamukah itu!?" tanya Tuan Paulo dengan geram.
Asdam pun terlihat linglung dan tidak berdaya. Ia terlupa untuk mencabut laporannya tentang Kakek. Asdam pun tidak mengira jika pembalasannya akan berujung maut seperti ini.
"ASDAM!" teriak Tuan Paulo dengan marah.
PLAK! suara tamparan keras.
"Puas kamu sekarang, puas!" bentak Tuan Paulo bener-benar merasa marah dengan kelakuan Asdam yang sudah di luar batas.
Asdam pun tidak merespon tamparan ayahnya. Ia hanya berdiri dan mematung. Kini, rasanya ia ingin mati saja atau menghilang. Gara-gara perbuatannya yang gegabah, kini ia harus kehilangan kakek yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
"Mamah kecewa sama kamu, Asdam!" bisik Nyonya Beckham yang sudah tidak dapat berkata-kata lagi.
Mereka semua pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Asdam seorang diri.
Jika bumi berotasi, kini Asdam pun dapat merasakannya. Kepalanya seperti berputar-putar dan pandanganya pun goyah.
Matanya memerah dan jantungnya tidak dapat berdetak dengan benar.
"KAKEEEEEEEEEEEK!" Asdam pun melampiaskan sesak di dadanya dengan berteriak menyebut sang kakek yang telah tiada gara-gara dirinya.
...****************...
Di sisi lain, terlihat Misha yang sedang menonton berita penangkapan Nyonya Beckham dan juga tuan Paulo. Misha tersenyum dan terlihat sangat senang.
"Akhirnya mereka di tangkap juga!" Misha tersenyum sarkas. "Asdam, kini aku sangat yakin jika kamu benar-benar sangat mencintai aku," lanjutnya menertawai ucapan Ziga tempo hari.
"Sekarang aku tahu kenapa kamu sulit di hubungi, itu karena kamu sedang sibuk untuk memenjarakan orang-orang angkuh itu!" lanjutnya merasa puas.
Ketika sedang menikmati berita, seorang pelayan pun datang.
"Siapa?" tanya Misha.
"Ibu anda," jawabnya.
Misha terlihat berfikir, dan akhirnya," ya sudahlah, biarkan dia masuk," jawab Misha terlihat tidak suka mendengar ibunya datang.
Ketika Nyonya Tirana masuk, sesuai dengan dugaan Misha, jika Ibunya pasti akan mengomelinya.
"Misha, kamu harus pindah. Kamu harus berobat ke keluar negeri. Mamah sudah membuat kesalahan besar dengan membawa kamu pulang!" sulut Nyonya Tirana emosi.
"Oh, jadi mamah menyesal, ya sudah, kalo gitu mamah keluar dari kamar Misha. Misha sih gak perduli lagi!" sahut Misha acuh tak acuh.
__ADS_1
mendengar jawaban Misha, Nyonya Tirana pun tidak habis pikir. "Misah, bagaimana bisa kamu bisa berbicara seperti itu kepada mamahmu sendiri!?"
"Mah, apakah aku salah? apakah aku salah menganggap kalian tidak ada. Semua ini gara-gara kalian duluan yang sudah menganggap aku tidak ada! Pria tua itu, apa yang dia lakukan di luar sana, Hah! Asal mamah tahu ya, papah itu tukang ngen tot di luar sana!" tukas Misha blak-blakkan.
PLAK!
Nyonya Tirana pun menampar wajah Misha dengan sekuat tenaganya.
"Bagaimana bisa kamu menjadi anak yang tidak tahu diri seperti ini?" Nyonya Tirana pun berdecak, "Heh, aku lupa, kamu dan ayahmu sama saja, sama-sama tidak tahu diri!" lanjutnya membuat Misha bingung.
"Apa maksud kamu, mah!?" tanya Misha.
"Asal kamu tahu Misha. Pria yang sudah menyekolahkan kamu, memberikan segalanya kepadamu, memberikan semua aset berharganya atas namamu, bahkan masih mau membiayai pengobatan mu yang mahal ini selama ini, dia bukanlah ayah kandungmu! Tetapi kamu malah mengkhianatinya, membohonginya dan juga menghinanya!" tukas Nyonya Tirana mengutarakan kebenarannya kepada Misha.
Misha pun terlihat sangat syok mendengar pengakuan ibunya. Bagaimana bisa seperti ini. bagaimana bisa berakhir seperti ini.
"Pantas." Misha nampak lemas mendengar pengakuan ibunya. "Pantas mamah selama ini bertahan dengan pria itu meskipun pria itu suka berbuat sesuka hati kepada mamah. Apakah karena mamah takut? apakah karena mamah takut ketahuan dan takut miskin. HAHAHAHA! Mamah mengincar pria itu dan meninggalkan pacar mamah, demi apa, demi harta dan tahta, kamu membohongi tuan Bealonza agar aku mendapatkan penghinaan ini!?"Misha mengutarakan pikirannya.
Misha saat ini udah tidak bisa marah dan berteriak-teriak lagi Wajahnya sudah terlihat sangat pucat, dan tubuhnya terlihat sangat lemah. Kenyataan yang ia dengar, mampu membuat hidupnya mati seketika.
"Kamu salah Misha." Nyonya Tirana pun sama lemasnya seperti Misha. Ia selama ini menahan dirinya untuk menyimpan semuanya sendiri. Padahal, tanpa Tirana tahu, tuan Bea- sebenarnya sudah tahu semuanya.
"Mamah diam selama ini, itu karena mamah merasa bersalah. Bea adalah pria yang baik, namun mamah malah tega mengkhianatinya. Mamah dan Bea- sudah di jodohkan, tetapi setelah pernikahan, mamah justru bermain gila dengan pria bejat itu. Tetapi, Bea tetap menerima ku meskipun semuanya terasa sangat dingin dan kaku. Untuk mencairkan suasana, Mamah selalu berusaha untuk mencari cara untuk menyenangkan Bea-. Suatu saat, ketika mamah memberikan hasil tes DNA palsu, Ayahmu Bealonza pun langsung terlihat senang dan dia kembali hangat padaku. Selama ini, mamah selalu menyimpan rasa bersalah karena sudah membohonginya. Apakah kini kamu mengerti, Misha!?"
Nyonya Tirana memegangi jantungnya ketika menceritakan kisah pilunya kepada Misha. Semua ini Tirana lakukan, agar Misha dapat merubah pola pikirnya untuk menilai Bealonza, seseorang yang ia anggap ayah kandungnya sendiri.
Tidak kuasa menahan kenyataan, Misha pun kembali pingsan. Melihat anaknya yang tiba-tiba tutup mata, Tirana pun berteriak, "Suster... Suster...!"
Suster yang mendengar itu pun langsung masuk dan langsung memeriksa keadaan Misha.
"Nyonya, Misha sepertinya butuh istirahat, dan juga, tolong jangan buat Misha sedih lagi dan jangan mengatakan hal-hal yang dapat membuatnya drop." ujar Suster menyarankan.
__ADS_1
Tirana pun hanya mengangguk dan mengusap air mata. Salah satu anak sakit parah, dan satu lagi menghilang entah kemana. Mama Tirana serasa sangat pusing sekali..
.......