
Di sisi lain, terlihat Asdam dan Chana baru saja turun dari pesawat. Karena ada gangguan cuaca, mereka akhirnya mendarat terlambat dari perkiraan mereka.
"Asdam, apakah kita akan terlambat, ini sudah mau jam 7 ...?" tanya Chana terlihat cemas.
"Alden mengatakan acara mulai jam 9 pagi. Kita masih punya waktu 2 jam dari sekarang," ujar Asdam.
Dari kejauhan, terlihat sekertaris Rein datang menghampiri Asdam dan Chana yang terlihat bingung mencari jemputan.
"Tuan, akhirnya anda sampai juga," ujar sekertaris Rein yang sudah menunggu Asdam dan Chana dari jam 2 malam di bandara.
"Cuaca buruk, jadi penerbangan sempat di tunda," ujar Asdam menjelaskan sambil membantu memasukan koper ke bagasi.
"Sekertaris Rein, apakah Alden sudah berangkat ke sekolah?" tanya Chana.
"Tuan muda Alden sedang berada di perjalanan menuju sekolah," jawab Sekertaris Rein.
"Handphone kami sama-sama lowbat saat penerbangan. Bagaimana jika Alden marah kepada kami?" ujar Chana terlihat panik..
Beruntung sebelum terbang, Asdam sudah menelpon Sekertaris Rein. Sehingga sekertaris Rein pun sudah siap menunggu kedatangan Asdam dan Chana dari jam 2 malam.
"Kita langsung ke sekolah sekarang. Rein, berikan ponselmu!" ujar Asdam meminjam ponsel sekertaris Rein pun menelpon Alden..
Namun ternyata ponsel Alden di tinggal. Alden tidak membawa ponsel bersamanya.
"Kenapa Alden tidak menjawabnya?" tanya Asdam cemas..
__ADS_1
"Mungkin tuan muda Alden tidak membawa ponsel, Tuan." sahut Sekertaris Rein. "Kita bisa menelpon supirnya," lanjutnya.
"Siapa namanya?" tanya Asdam.
"Dungo, Tuan!"
Asdam pun mencari nama sesuai arahan Alden..
"Hallo, sekertaris Rein?" suara di balik ponsel.
"Ini aku. Apakah adikku sudah sampai di sekolah?" tanya Asdam.
"Tuan Asdam? kami belum sampai, Tuan. Lima menit lagi kami akan sampai ke sekolah tuan muda Alden," jawab sang supir.
"Berikan ponselnya!" titah Asdam.
Supir pun meminggir mobilnya untuk memberikan ponsel kepada Alden. Pak supir sangat berhati-hati dalam mengemudi.
"Tuan muda Alden, ini ada telpon dari tuan Asdam," ujar pak supir memberikan ponselnya pada Alden..
Alden pun menerima ponsel itu dengan senang. "Hallo, kak!? kakak sudah sampai?" tanya Alden bersemangat.
"Iya, 15 menit lagi Kakak akan sampai. Chana sudah membuatkan baju untuk mu. Jangan tampil dulu sebelum kamu memakai baju ini," ujar Asdam memperingati Alden.
"Baik, kak. Acaranya jam sembilan pagi, dan ini baru jam 7 lewat, masih banyak waktu untuk bersiap-siap," ujar Alden..
__ADS_1
"Baiklah, kakak matikan telponnya."
"Baik, kak!"
Alden nampak sangat senang mendengar Asdam dan Chana telah sampai dan sedang menuju ke sekolahannya. Wajahnya yang awalnya di tekuk selama perjalanan, kini terlihat sumringah dan senang.
Di sisi lain, setelah mematikan ponselnya, tiba-tiba saja mobil yang di kendarai Asdam kempes karena sebuah paku yang bersemedi di tengah-tengah jalan.
SHIIT
Sekertaris Rein pun meminggir mobilnya mereka.
"****! apa yang terjadi Rein?" tanya Asdam..
"Sepertinya bannya kempes, tuan." jawabnya.
"Aduh, bagaimana ini, kita bisa terlambat!?" tanya Chana yang mulai gelisah.
"Rein, cari taksi untuk kami!" titah Asdam.
Sekertaris Rein pun turun dari mobil, sedangkan Chana dan Asdam tetap berada di dalam mobil. Asdam tidak mengizinkan Chana turun dari mobil.
Rein mencoba untuk mencari taksi. Ketika Rein melihat taksi yang lewat, Sekertaris Rein pun melambaikan tangannya dan berniat untuk sedikit maju ke jalan agar taksi melihat dirinya.
Namun tiba-tiba saja ada sebuah motor yang melintas dan tidak sempat mengerem ketika ada seseorang yang tiba-tiba turun ke tepian jalan.
__ADS_1
SHIIIIIIIIT!
BRUAAK!