Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Masih menjadi tawanan


__ADS_3

Sudah satu Minggu Ziga mengurung Chana di dalam kamar, membuat tubuh Chana terlihat sangat layu. Chana benar-benar tidak bisa berkutik, karena Ziga selalu menguntitnya, bahkan sampai ke kamar mandi.


Kini, Chana masih kembali ke atas ranjang dengan salah satu tangan masih di borgol. Chana sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Ziga agar mau melepaskan borgolnya dan membiarkannya untuk rileks sejenak.


"Ziga, apakah kamu tidak percaya padaku?" tanya Chana menatap mata Ziga dengan pandangan memelas.


"Maaf sayang, aku sudah pernah memberikan kepercayaan padamu, tetapi kamu malah mengkhianati ku. Aku takut," jawab Ziga yang juga tidak perdaya dengan perasaannya sendiri.


"Sekarang aku sudah ada di sisi mu, apakah kamu masih tidak bisa percaya?" tanya Chana sekali membujuk Ziga.


Ziga terlihat diam. Sebenarnya dia sangat takut jika kehilangan kekasihnya lagi, tetapi dia juga tidak tega melihat Chana yang menderita karenanya.


Chana tetap memasang wajah memelas agar Ziga ada rasa empati padanya. Akhirnya, Ziga pun menghela nafas panjang. Ziga memegang tangan Chana yang ia borgol. Ziga baru memperhatikan jika tangan Chana terlihat luka membekas karena terlalu lama ia memborgolnya.


"Sayang, apa ini sakit?" tanya Ziga merasa sangat bersalah.


"Bukan apa-apa, aku bisa menahannya saat ini, tapi kalo kamu terus memborgol aku, bisa-bisa tanganku akan di amputasi karena infeksi," ujar Chana.


Ziga pun langsung melepaskan borgol itu dan membiarkan Chana berjalan sendiri.


Chana akhirnya dapat tersenyum merasakan sedikit kebebasan yang Ziga berikan.


"Ziga, terima kasih," ucap Chana tersenyum kepada Ziga.


Ziga pun mengelus rambut Chana dan mencium keningnya dengan hangat. "Maafkan ku."


"Tidak apa-apa, aku mengerti," jawab Chana yang langsung menurunkan kakinya ke lantai.


Ziga hanya memperhatikan Chana dengan tatapan was-was. Ia terus berwaspada pada gerakan Chana yang berjalan ke arah jendela yang masih tertutup dengan rantai.


Suara gemercik air yang ada di luar jendela selalu membuat Chana merasa penasaran, ada di mana sebenarnya dia ia sekarang ini. Karena memang selama satu Minggu ini ia tidak pernah keluar dari kamar yang tertutup rata. Bahkan kamar mandi pun tidak ada jendela kecil untuk sekedar mengintip.


Ziga terus memperhatikan gerakan Chana, bahkan kakinya pun ikut bergerak mengikuti langkah kaki Chana dari belakang.


Perlahan, Chana membuka tirai berwarna grey yang menutupi jendela.


Ketika jendela terbuka, Kilauan cahaya pun langsung menyapa wajah Chana dan memberikan sensi kehangatan yang damai.


Chana memejamkan matanya karena silau, namun semakin lama, Chana meresapi setiap sapaan hangatnya cahaya yang menyelimuti menyapa tubuhnya.


Chana membayangkan, bagaimana ia selalu menyapa cahaya pagi hari di balkon bersama dengan suaminya, Asdam.

__ADS_1


Kenangan yang mungkin hanya tinggal kenangan, tetapi Chana masih sangat berharap jika ia bisa melarikan diri dari sergapan Ziga.


"Apakah kamu menyukainya?" tanya Ziga membuyarkan lamunan Chana.


Chana pun membuka matanya dan menjawab," sudah seminggu kamu tidak membiarkan kulitku terkena sinar matahari. Jika kamu terus begini padaku, bisa-bisa aku terkena penyakit kuning!" sindir Chana dengan kesal pada Ziga.


Ziga pun tersenyum. "maafkan aku," jawabnya sambil memeluk Chana dari belakang.


Chana sangat terkejut dengan tindakan Ziga, namun ia hanya bisa diam demi keselamatan dirinya dan juga bayinya. Chana harus memberikan kepercayaan kepada Ziga.


Chana pun hanya memfokuskan matanya melihat ke sekitar luar jendela.


"Kamu suka pemandangan ini?" tanya Ziga.h



ini adalah pemandangan yang Chana lihat. Berdiri di kamar yang berada di loteng atas, Chana dapat melihat aliran sungai yang cukup deras di depan matanya.


Pemandangan ini membuat Chana bertanya-tanya dalam hati. "Berada di mana aku ini. tempat apa ini?" gumam Chana.


Chana terus memperhatikan sekitarnya yang hanya di tumbuhi oleh pohon-pohon besar.


"Kita berada di tempat, di mana kita akan menghabiskan waktu di sini bersama dengan anak-anak kita kelak," jawab Ziga sambil mencium pundak Chana.


Sungguh, hal seperti yang selama ini Ziga inginkan dan Ziga bayangkan. Kini, Ziga merasa sangat bahagia, karena dia bisa mewujudkannya.


Chana hanya terdiam dan memejamkan matanya karena ia merasa sangat risih dengan perilaku Ziga yang berlebihan. Sebab, Chana sudah mempunyai suami dan juga sedang mengandung anaknya. Meksipun Ziga pernah menjadi kekasihnya, namun Chana sudah hampir melupakan semua itu karena ia ingin sepenuhnya mengabdi kepada sang suami.


"Kamu tenang saja, ini adalah rumah peninggalan paman aku. Rumah ini sudah lama tidak di tempati, aku akan merenovasi dan mengcat warnanya agar terlihat lebih hidup," ujar Ziga semakin mengeratkan pelukannya kepada Chana.


"Ziga, kamu menekan perutku?" ujar Chana memberi tahu Ziga, jika perutnya terasa sakit karena Ziga terlalu kencang memeluknya.


"Oh, maaf, apakah calon anak kita baik-baik saja?" tanya Ziga.


Chana pun terkejut karena Ziga menganggap janin di dalam perutnya adalah anaknya juga. Tidak tahu harus senang atau sebaliknya, namun Chana tidak mau ia terus berada di kandang ini bersama dengan Ziga.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Chana.


"Mau makan apa malam ini?" tanya Ziga menawarkan.


"Em, terserah kau saja," jawab Chana pasrah.

__ADS_1


"Mau ikut masak denganku?" tawar Ziga membawa Chana pun tersenyum.


"Boleh?" tanya Chana memastikan.


"Asal kau berjanji tidak lari dariku lagi?" jawab Ziga.


"Aku janji," jawab Chana tersenyum. Sebab, Chana sendiri belum berniat untuk kabur sekarang, sebab ia harus menunggu waktu yang tepat untuk kabur. Chana harus mempersiapkan rencana yang matang untuk kabur.


Akhirnya, Chana di bawa keluar kamar untuk pertama kalinya oleh Ziga. Ia memperhatikan sekitarnya, cukup rapi namun semuanya terlihat sangat sedikit kuno dengan barang-barang antik.


"Sangat bersih," ujar Chana ketika memegang meja dan benda lainnya.


"Kamu tahu aku, kan. Aku sangat tidak suka tempat yang kotor," jawab Ziga sambil membuka kulkas dan menyiapkan daging dan juga sayuran yang sudah tersedia di dalam kulkas.


Chana diam-diam memperhatikan isi di dalam kulkas, persediaan makan tidak banyak, Chana sangat yakin jika sebentar lagi Ziga akan keluar untuk membeli bahan-bahan makanan.


"Ziga, apa di sini tidak ada tv?" tanya Chana.


"Tidak. Aku tidak menyediakan tv, handphone dan alat lainnya yang bisa terhubung dengan keluar. Aku ingin kita hidup dengan tenang, menyatu dengan alam, dan yang pasti, tanpa gangguan orang-orang di luar," jelas Ziga mempertegas ucapannya agar Chana mengerti, jika tidak akan jalan untuk dirinya agar bisa kabur.


"Ziga, tetapi aku butuh susu perkembangan janinku?" ucap Chana.


Ziga pun tersenyum dan memperlihatkan isi lemari di dekat dapur. Ada begitu banyak kotak susu untuk ibu hamil.


"Aku sudah menghitungnya. Jika sehari 2 gelas, maka 1 kotak bisa untuk satu Minggu. Jadi, sebulan kita membutuhkan 4 kotak, terus untuk 9 bulan berarti kita membutuhkan 36 kotak, aku sudah mengatasi jika susu yang gunakan kurang, jadi melebihkan 10 kotak susu, semua total ada 46 kotak, dan kamu tahu sendiri aku tidak suka sesuatu yang menggantung jadi aku genapkan menjadi 50 kotak. Aku juga sudah menyiapkan vitamin dan juga suplemen penambah darah untukmu. Semua sudah aku pikirkan dengan baik-baik untuk menyambut anak kita," jelas Ziga dengan sangat antusias sekali, seolah-olah dia benar-benar sedang menunggu calon anaknya lahir.


"Kamu sudah memikirkan segalanya," ujar Chana tersenyum tipis karena kecewa. Chana jadi sangat kesulitan untuk kabur jika begini.


"Apapun untuk mu sayang. Ya sudah, sini bantu aku masak," ujar Ziga memegang tangan Chana untuk ikut bersamanya.


Ziga selalu membuat suasana menjadi happy dan berwarna meksipun respon Chana terlihat sedikit hambar.


......................


Di sisi lain, terlihat Asdam seperti orang memarahi semua anak buahnya yang sudah satu minggu masih belum bisa menemukan Chana.


SHI*T


PRAAAANG


Asdam membanting guci mahal milik Nyonya Beckham.

__ADS_1


__ADS_2