
Nafas memburu tidak karuan. Sakit di seluruh tubuh tidak di rasakannya. Wajahnya nampak pucat tetapi semangat untuk tetap hidup masih Misha pancarkan.
Aku tidak akan mati sekarang. aku sembuh dan merebut Asdam kembali. Ternyata, aku masih tidak bisa mengikhlaskan mereka. Chana, kamu harus mengembalikannya Asdam padaku.
"Sayang, apakah kamu yakin akan pulang hari ini? dokter mengatakan jika hari ini ada pemeriksaan lanjut dan akan ada tindaklanjutan. Dokter menyarankan tidak pulang sekarang."
Mama Tirana memegang tangan sang putri untuk membujuknya.
"Mah, Misha ingin pulang sekarang," jawab Misha kekeuh.
"Bagaimana jika papah tidak mau-?
"Mah, aku akan pulang ke apartemen aku, bukan ke rumah papah!" sahut Misha memotong ucapan Mama Tirana dengan kesal.
"Di apartemen siapa yang akan menjagamu Misha!? Ziga, dia sudah rela datang ke sini demi menjagamu, dia sudah mendapatkan pekerjaan di sini, dan kamu malah seperti ini. Ziga tidak mungkin keluar begitu saja dari pekerjaannya. Ziga juga punya kehidupannya sendiri, tidak melulu harus menjagamu dan mengikuti mu!" ungkap Mama Tirana.
"Ziga mengatakan jika kontraknya di sini masih tinggal satu bulan lagi. Dia akan menyusul. Untuk sementara, kita bisa panggil suster untuk merawat ku," ujar Misha acuh tak acuh.
"Mamah sudah mengatakan pada Ziga jika dia tidak perlu resign dari pekerjaannya. Mamah mengenal bos Ziga. Mamah kemarin tidak sengaja bertemu dengannya. Bosnya bilang dia sangat suka dengan kinerja Ziga. Dia akan mengusulkan Ziga untuk menjadi karyawan tetapnya. Mamah tidak ingin menghancurkan masa depan Ziga hanya karena demi menuruti egomu."
"Baiklah, aku tidak perlu siap-siap lagi, toh aku juga bakalan mati, dan kalian semua akan senang!"
Misha pun memalingkan wajahnya dari Mama Tirana.
Mama Tirana pun tidak ingin berdebat lagi dengan sang putri. Memikirkan sikap suaminya dan Misha, keras kepalanya mereka benar-benar membuat mama Tirana serasa stres.
Mama Tirana pun memutuskan untuk keluar dari kamar Misha.
Misha pun enggan untuk berbicara lagi dengan ibunya.
Ego yang sangat tinggi. Hanya demi egonya, Misha sampai menyamping penyakitnya.
__ADS_1
...----------------...
Pagi ini Chana dan Asdam masih menikmati hari-hari kebersamaan mereka. Waktu mereka tinggal 2 hari lagi di Paris.
Bulan madu seperti memang perlu untuk pengantin yang baru menikah. Karena ketika berduaan, mereka dapat saling mencurahkan perhatian lebih tanpa gangguan dari orang lain dan juga pekerjaan.
Hari ini Asdam akan menemani Chana mencari kain untuk di jadikannya pakaian untuk Alden. Sesuai jadwal mereka, ketika pulang dari Paris mereka akan langsung datang ke acara perpisahan Alden.
Asdam sudah mengabari Alden jika mereka akan pulang secepat mungkin agar tidak terlambat. Alden pun sangat bersemangat menunggu kedatangan Chana dan juga Asdam.
"Em, seperti kain yang ini lebih nyaman dan cocok di kulit Alden dan juga cocok dengan lekuk tubuhnya agar terlihat berisi. Alden, dia sangat kurus menurutku," ujar Chana.
"Apakah uang jajan yang aku berikan kurang?" tanya Asdam yang juga baru memikirkan jika tubuh adiknya memang sedikit kurus.
"Tidak-tidak! 100 juta sebulan untuk anak kelas menengah itu sudah sangat cukup. Tapi, kita tidak tahu apakah uang sebanyak itu ia gunakan untuk apa."
"Tetapi aku sering melihat ia menggunakan kartunya untuk membeli makan yang cukup besar di restoran-restoran. Aku pikir, dia makan dengan baik di luar bersama dengan teman-temannya," ujar Asdam.
"Kita tidak tahu, apakah makanan itu untuk Alden atau untuk anak-anak iseng yang mencoba untuk membuly Alden," sahut Chana ikut berfikir.
Chana pun menaikkan pundaknya tanda tidak tahu. "bukankah kamu kakaknya, mengapa tanya aku," sindir Chana.
Asdam pun terdiam. Selama ini memang ia sibuk sekali sehingga tidak memperhatikan sang adik. Di tambah kedua orang tuanya juga sama sekali jarang di rumah.
"Aku sudah selesai. Yuk, kita bayar dulu kainnya." ucap Chana.
Asdam pun masih terdiam. Chana berfikir jika Asdam masih memikirkan Alden. "sudahlah, aku yakin adik mu tidak mendapatkan kekerasan. Mereka mungkin hanya meloroti uang adikmu saja," ujar Chana.
"Bukan itu maksud. Emm ..." Asdam ragu untuk bicara.
"Lalu, apa?" tanya Chana.
__ADS_1
"Apakah kamu akan membuat satu untuk Alden? kamu tidak membuatkan yang sama untuk ku?" tanya Asdam seperti anak kecil yang cemburu karena ibunya pilih kasih.
","Ckckck ..!" Chana terkikik menahan tawa. "Baik-baiklah, aku akan membuatkan dua," ucap Chana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Iiiiiiiiiiiiiiih... gemes aku!" Chana dengan gemas mencubit pipi Asdam.
"Aku menghabiskan uang banyak dan kamu tidak berfikir untuk membuatkan sang bendahara, terlalu." ejek Asdam.
"Maaf, aku tidak kepikiran, hehehe.. aku hanya terlalu fokus kepada Alden. Aku tidak ingin ketinggalan acara perpisahannya. Aku tidak dapat membayangkan jika sampai kita terlambat. Semarah apa Alden kepadaku," ujar Chana mengutarakan apa yang dia pikirkan.
"Kamu sangat perduli dengan Alden?" tanya Asdam.
"Tentu dong, dia adalah adik iparku yang sangat menggemaskan." ucap Chana sambil menyerahkan satu potongan kain lagi ke pada kasir.
"Kamu tidak membeli kain untuk mu?" tanya Asdam melihat jika Chana terlihat sang irit mengambil kainnya.
Bagaimana tidak, satu meter kain di bandrol harga 3.7 juta uang rupiah.
"Tidak perlu." jawab Chana.
"Kamu tidak perlu khawatir soal harga. Jika uangku kurang, bukankah kamu juga punya banyak uang?" tanya Asdam mengetes Chana.
"Hmm...uangmu adalah hasil kerja keras mu. Sedangkan uangku adalah kiriman dari papah selama ini. Aku sudah terbiasa belajar hemat meskipun papah sangat kaya." ujar Chana tersenyum.
"Benarkah? kalo begitu sekarang kamu tidak perlu berhemat lagi, karena akan dua orang akan menjadi pemasok mendapatanmu. Sebagai suami aku akan memberi uang nafkah padamu," ujar Asdam.
"Uang dari papah saja sering aku tolak. Aku tidak butuh uang banyak, yang penting tolong kasih tau ibumu agar mengizinkan aku untuk kembali mengurus butik?" ujar Chana yang menjelaskan jika dirinya bukanlah wanita yang tergila-gila oleh uang.
Asdam pun terdiam mendengar permintaan Chana sambil membukakan pintu mobil untuk Chana. Mereka mengobrol sepanjang jalan sampai waktunya mereka harus segera pulang dan juga menyelesaikan pekerjaannya membuat baju untuk Alden.
Ketika sampai hotel, Chana langsung fokus menggarap baju untuk Alden. Chana harus bergerak cepat dan fokus karena dia akhirnya dia tidak hanya membuat satu baju, melainkan dua.
Asdam sama sekali tidak mau menganggu Chana. Asdam sendiri sadar jika ia membantu, dia hanya akan menyulitkan Chana, sebab Asdam sama sekali tidak mengerti soal jahit menjahit.
__ADS_1
Asdam fokus dengan laptopnya dan menggarap file yang di kirim oleh ibunya untuk ia kerjakan. Ternyata ibunya mengirim banyak sekali pekerjaan padanya.
Asdam sendiri memang sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada yang menghubunginya. Alhasil, pekerjaan menumpuk menantinya.