
Pagi ini menunjukan waktu 07:00... Chana merentangkan kedua tangannya ketika mendengar ponselnya mengeluarkan suara alarm.
"Huuuaammmm! malam ini aku akhirnya tidur dengan nyenyak," ujar Chana yang langsung bangkit dan duduk di tepi kasur.
Sesaat, akhirnya Chana teringat dengan Asdam yang ia kunci di balkon.
"Ya ampun, pria itu apakah dia masih di sana?" gumam Chana penasaran. Ia pun dengan perlahan berjalan ke arah balkon dan membuka sedikit gorden. Chana mengintip Asdam dengan hati-hati.
Terlihat Asdam masih memejamkan matanya dengan posisi melungker. Sepertinya ia kedinginan karena semalam hujan, dan pagi ini pun cuaca masih terlihat mendung dan masih ada gerimis-gerimis kecil.
Chana sedikit merasa bersalah dan merasa kasihan. Namun, di saat Chana mengingat perbuatan Asdam yang kasar ke padanya membuatnya kembali acuh tak acuh..
Chana pun memutuskan untuk membangunkan Asdam.
"Hust! Hust! Hey, bangunlah, ini sudah pagi," bisik Chana membangunkan Asdam dengan cara kakinya menggoyangkan kaki Asdam.
Ketika Asdam menggeliat, Chana pun langsung berlari ke dalam dan bergegas masuk ke kamar mandi. Karena Chana takut jika Asdam akan ngamuk padanya lagi.
Ketika Asdam bangun, Asdam melihat pintu sudah di buka. Asdam pun menggelengkan kepalanya merasa konyol dengan apa yang Chana lakukan.
"Hmm... aku butuh bicara dengan anak itu. Sepertinya aku harus menggunakan cara halus untuk mengorek informasi tentang Misha," gumam Asdam yang akhirnya menemukan ide bagus.
Karena bertindak kasar tidak akan membuat Chana takut. Chana cukup berani, dan bahkan ia bisa melakukan ini pada Asdam.
Di dalam kamar mandi, Chana pun memegangi jantungnya yang serasa akan copot usai membangunkan Asdam.
"Aduuuh, kira-kira dia bakal marah gak ya? Hmm, mungkin aku harus meminta maaf padanya segara baik-baik. Tidak seharusnya aku membiarkan dia tidur di balkon." Chana menggigit jarinya dan memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Tiba-tiba saja suara ketukan pintu kamar terdengar.
Tok
Tok
Tok
"Chana, cepat! aku juga butuh kamar mandi!?" suara Asdam mengejutkan Chana.
Chana yang panik pun langsung menekan shower begitu saja. Ia tidak berani menjawab apapun.
Usai beberapa saat, Chana pun akhirnya selesai mandi. Namun sialnya karena terburu-buru ia lupa membawa handuknya.
"Aisht! Bagaimana ini, bagaimana bisa aku lupa membawa handuk!?" gumam Chana panik.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Terdengar kembali suara ketukan pintu.
"Chana, aku harus segera bersiap!" seru Asdam terdengar tidak sabaran.
Chana pun panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Mana baju yang ia gunakan tadi basah karena ia menghidupkan shower tepat saat ia berdiri di bawahnya.
"CHANA? APAKAH KAMU BAIK-BAIK SAJA!?" tanya Asdam terlihat sedikit panik karena Chana sedari tadi diam saja. Jika sampai Chana kenapa-kenapa, maka langkahnya untuk mencari informasi tentang Misha akan menyempit.
"I-iya, aku baik-baik aja, tapi masalahnya aku lupa membawa handuk!" ujar Chana.
Asdam pun menghela nafas lega.
"Kamu bisa mendorong kaca itu. Itu adalah pintu ke ruang salin," ujar Asdam memberikan jalan keluar.
Oh, di sini ada pintu tersembunyi? gumam Chana baru mengetahui.
"Baiklah.." sahut Chana. "Sudah akan keluar, kamu bisa masuk sekarang juga," ujar Chana.
Berpapasan dengan Chana menutup pintu ruang salin, Asdam pun membuka pintu kamar mandi. Entah kenapa Asdam merasa lucu dengan kejadian ini.
Usai Chana bersalin, ia pun langsung keluar terlebih dulu tanpa menunggu Asdam yang masih bersiap. Chana selalu menghindari tatap mata dengan Asdam.
"Selamat pagi Adik ipar? Oya, di mana papah dan mamah?" tanya Chana menyapa Alden.
Namun Alden hanya diam tak menghiraukan pernyataan Chana, membuat Chana pun langsung memanyunkan bibirnya sedikit merasa canggung karena di cuekin.
Pelayan pun datang membawakan sarapan untuk Chana.
"Nona Chana, silahkan bubur ayamnya," ujar sang pelayan..
Chana pun memandangi bubur ayam itu dengan perasaan aneh.
"Maaf, bisa buatkan aku roti selai saja? aku tidak suka bubur ayam," ujar Chana memohon dengan lembut.
"Apakah sama seperti Tuan Asdam? baiklah, saya akan buatkan," ujar pelayan yang langsung membawa semangkok bubur itu kembali ke dapur.
Sedangkan Chana pun tertegun usai mendengar pelayan mengatakan jika seleranya sama dengan Asdam.
Tidak lama Asdam pun turun dari tangga dan berjalan menuju meja makan. Alden masih fokus memakan buburnya sedangkan Chana terlihat memperhatikan adik iparnya makan dengan tersenyum membuat Alden sedikit kesulitan untuk menelan makanannya.
"Apakah kamu akan membuat adik ku mati tersedak?" tegur Asdam yang langsung mengambil tempat duduk paling ujung.
__ADS_1
Chana pun kembali memanyunkan bibirnya karena kesal dengan dua orang ini yang selalu saja memojokkannya.
"Apa sih, aku hanya senang karena akhirnya aku memiliki adik laki-laki yang menggemaskan. Aku sudah mendesain baju yang sangat keren untuk mu Alden," ujar Chana dengan semangat membuka tab nya dan ingin menunjukannya pada Alden.
"Tidak perlu!" sahut Alden yang membuat senyum Chana pun langsung memudar. Chana pun kembali mengembalikan tab-nya ke dalam tas.
"Tidak baik terlalu bahagia dengan cara merebut milik orang lain," sindir Alden membuat Chana benar-benar sakit hati. Sedangkan Asdam, ia hanya tersenyum sarkas menertawai Chana.
"Ehem.. baiklah, jika belum sekarang, suatu saat kau akan memakai pakaian yang sudah aku desain untuk mu. Aku bisa pastikan kamu sendiri yang akan memintanya," ujar Chana dengan yakin, seolah-seolah ia sedang membacakan sebuah kutukan untuk Alden.
Tidak tahan mendengar Chana yang selalu berbicara ketika di meja makan, Alden menyudahi sarapannya.
"Kak, aku sudah selesai sarapan. Aku berangkat ke sekolah dulu ya," ujar Alden berpamitan dengan Alden.
"Kakak sudah mentransfer uang ke rekening mu. Belajarlah dengan baik," ujar Asdam lembut ke pada adiknya.
"Terima kasih, kak."
Chana pun menatap Alden yang terlihat sudah menjauh.
Pelayan datang membawakan sarapan yang sama untuk Asdam dan Chana, yaitu roti selai dan susu hangat.
Ketika Asdam memotong rotinya, Chana dengan percaya diri mengambil roti itu dengan kedua tangannya dan langsung mengigitnya. Meskipun Chana juga adalah anak sultan, namun ia tidak terbiasa dengan hal-hal ribet yang sering di lakukan orang kaya ketika makan.
"Asdam, apakah boleh tahu berapa uang saku Alden sebulan? aku akan berusaha untuk memberinya juga. Aku selalu membayangkan, memiliki adik laki-laki dan ia merengek uang saku padaku. Aaa, itu sangat menggemaskan," ujar Chana yang sudah menjadi korban drama Korea yang selalu ia tonton.
"200 juta," jawab Asdam singkat.
BHUUUR!
Chana pun membuyarkan susu yang ia minum karena syok mendengar uang saku Alden selama sebulan.
"APA! 200 JUTA SEBULAN!?" tanya Chana tidak percaya. "Oh, ini pasti dengan uang biaya sekolah ya? sekolah elit memang terlalu mahal," ujar Chana.
"Biaya sekolah 350 juta sebulan. Sudah mencakup les privat bahasa dan juga piano," jelas Asdam.
Mata Chana pun sulit berkedip mendengar biaya sekolah adik iparnya selama sebulan. uang saku dan juga uang biaya sekolah sekolah sudah cukup untuk membuat butiknya full bahan.
Yang membuat Chana tercengang adalah ini baru di sekolah menengah pertengahan. Belum Sekolah menengah Akhir dan juga belum biaya kuliah, belum juga kalo kuliahnya di luar negeri.
"WOW!" gumam Chana membuat Asdam langsung menatapnya.
Chana pun terlihat canggung ketika Asdam menatapnya dengan intens dan tajam, membuatnya sangat sulit untuk menggigit roti yang sudah ada di depan mulutnya.
"Apakah dia akan memarahiku karena tadi malam?" batin Chana risau karena hanya ada mereka berdua di sana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
(Jangan lupa like dan komen ya:)