
Hari ini Misha akan berangkat untuk berobat kembali ke Korea, Misha merasa cocok berobat di sana.
Tuan Paulo dan mama Tirana kali kompak akan mengantar Misha sampai ke Korea kembali.
Chana nampak bahagia melihat Misha yang kini sudah mau membuka hati untuk memaafkannya.
Setelah keberangkatan Misha, Chana terlihat termenung di bandara.
Langkah kaki dengan tegap berjalan ke arah Chana. Asdam dengan penampilan yang lebih fresh menghampiri Chana.
"Hay, apakah kamu sudah mau pulang?" sapa Asdam tersenyum.
"Hay!" sahut Chana tersenyum. "emm,, aku ingin menjenguk sekertaris Rein," lanjutnya.
"Mari?" Asdam memberikan lengannya untuk di gandeng oleh Chana.
Chana pun dengan malu-malu dan menerima tangan Asdam.
Di dalam mobil, terlihat Chana masih canggung dengan Asdam. Meskipun masalah sudah tenang, namun entah kenapa Chana masih merasa tidak enak dengan Asdam.
"Asdam, maafkan aku?" ucap Chana dengan tulus. "aku belum sempat meminta maaf padamu kan? aku datang dan malah memukul mu?" lanjutnya.
"Hem, sama-sama, aku juga minta maaf padamu. Kita semua berada di lingkaran yang saling salah. Aku punya salah, kamu juga dan semuanya, aku berharap, dengan kesalahan kita semua, kita bisa saling memaafkan." ujar Asdam dengan dewasa kali ini.
"Huft, aku benar-benar merasa sangat lega." Chana menghela nafas.
"Love you!?" ucap Asdam tiba-tiba.
Chana pun hanya menoleh dan tersenyum lucu kepada Asdam.
"Kau ini ya, lincah sekali kalo di suruh menggoda!" ejek Chana.
"Aku beneran, gak bohong, dari kita kecil, aku memang sudah jatuh cinta sama kamu," rayunya.
"Cinta tidak mungkin salah sasaran," ejek Chana mengingat Asdam tidak bisa membedakan mana gadis yang asli.
"Cinta memang tidak pernah salah, yang salah adalah manusianya, karena manusia tempatnya bersalah," jawab Asdam dengan bijak.
"Uuuuu... udah bijak sekali sekarang ya?" sahut Chana bergurau.
"Hmmm...!"
__ADS_1
Salah satu tangan Asdam memegang tangan Chana, dan satunya masih menyetir mobil.
Asdam meletakan tangan Chana di dadanya.
"Aku hancur jika kehilangan mu untuk yang kedu kalinya. Aku mohon, jangan tinggalkan aku?" ucap Asdam dengan tulus. "aku sudah cukup rapuh selama ini, dan kamu adalah obat dari segala obat, tidak tahu bagaimana jika kamu menghilang dari sisiku, aku tidak dapat membayangkannya."
Asdam dengan tulus menyuarakan isi hatinya.
Chana pun merasa terharu dengan sikap Asdam yang ternyata benar-benar tulus padanya.
walaupun awalnya sulit dan sakit, namun takdir tidak akan pernah salah memberi jalannya.
Setelah sampai di rumah sakit, terlihat Sekertaris Rein sudah siuman dan sedang di urus oleh dokter.
"Dok, bagaimana keadaan Sekertaris Rein?" tanya Asdam yang baru sampai dan melihat dokter keluar dari kamar Sekertaris Rein.
"Puji syukur, pasien Rein sudah siuman, dan semuanya baik-baik saja. setelah melakukan beberapa tes, pasien Rein sudah boleh pulang jika memang tidak ada kendala," ujar Dokter.
"Oh, syukurlah jika begitu, terima kasih banyak, dok."
Asdam dan Chana masuk ke dalam, mereka melihat sekertaris Rein yang memang sudah terlihat sangat membaik. Memar pada tubuhnya terlihat sudah memudar.
"Sekertaris Rein, syukurlah, akhirnya kamu siuman juga. Em, saya pribadi meminta maaf karena sudah membuatmu sampai seperti ini," ujar Asdam dengan tulus.
"Sekertaris Rein, ayolah, gajih pokok mu sudah cukup besar?" ujar Asdam menolak permintaan sekertaris Rein.
"Ya kalo tidak mau, saya akan melaporkan anda ke polisi!" jawab Sekertaris Rein dengan tegas.
"Naik 10%, lah?" ujar Asdam mencoba bernegosiasi.
"Ya sudah, 2 kali lipat?" sahut Sekertaris Rein tidak mau ngalah.
"Satu setengah kali lipat!" ujar Asdam meminta keringanan.
"Deal!" sekertaris Rein pun langsung menjabat tangan Asdam.
"Oke, Deal!" sahut Asdam.
Akhirnya, Sekertaris Rein pun tertawa bersama dengan Asdam dan Chana.
Sekertaris Rein tidak heran dengan kedekatan Chana dan juga Asdam, sebab semalam, Nomnom datang bercerita banyak hal tentang apa sudah dia ketahui. Meksipun Sekertaris Rein belum sadar, namun dia bisa mendengar apa saja yang Nomnom keluhkan.
__ADS_1
Lalu, ada satu hal yang membuat Sekertaris Rein berusaha keras untuk sadar dari komanya, yaitu....
Malam itu Nomnom terlihat sangat sedih. Dia duduk di samping sekertaris Rein yang masih koma.
"Sekertaris Rein, aku ingin bercerita ke padamu. Hmmm...!" Nomnom menghela nafas. "Kamu tahu, aku tadi habis membeli motor baru, Chana sudah kembali, dan kini keluarga besar sudah menyelesaikan permasalah gila ini. Misha akan kembali ke Korea, dan Asdam juga Chana mereka kembali rujuk. Aku turut bahagia dengan itu. Tapi-?" Nomnom berhenti dan menyeka air matanya.
"Tapi, aku sangat sedih sekali. Aku tadi di hina oleh pelanggan baru ku. Hanya karena anaknya salah mengirim ukuran panjang dada ibunya, yang harusnya 113, tetapi anaknya mengirim 131 di WhatsApp. Kan bukan salah aku jika ukurannya kebesaran, karena memang anaknya yang kirim pesan ukurannya segitu. Lalu apa kamu tahu sekertaris Rein, ibu-ibu marah-marah kepadaku, dia mengatakan tubuhku buntal seperti babi, orang seperti ku tidak pantas menjadi seorang designer. Aku sudah menjelaskan, jika anaknya yang salah, namun ia tetap menyalahkan aku..hik..hik... rasanya sakit sekali hatiku, oh my lady lady lady....!" Nomnom menutup wajahnya yang terlihat sangat layu sekali.
"Sekertaris Rein, aku akan pergi, aku akan mencari pekerjaan yang cocok untuk ku, lagi pula, aku sudah tidak berselera untuk menjahit pakaian lagi. Aku ingin bekerja di mana tubuhku bisa langsing seperti orang-orang. Aku harus mencari pekerjaan yang berat, agar bobotku cepat turun. Aaaaa... aku malu sekali, aku malu karena sudah berani menyukaimu sekertaris Rein, kamu tampan, gagah, dan juga sangat sempurna." Nomnom membelai wajah sekertaris Rein dengan sendu.
"Sekertaris Rein, jika kamu menikah dengan seorang wanita cantik, tolong siarkan di tv agar bisa melihatnya dari jauh, sebab aku tidak akan sanggup melihatnya secara langsung. Huaaaaa.... selamat tinggal sekertaris Rein...!" ujar Nomnom yang langsung memalingkan wajahnya dan langsung berlari keluar.
Mendengar suara langkah kaki menjauh, sekertaris Rein pun berusaha sekuat tenaga untuk mengejarnya, sampai tiba-tiba, matanya pun terbuka lebar.
Namun ketika sadar, Sekertaris Rein terlihat sangat linglung karena nyawanya belum terkumpul sempurna. Alhasil, sekertaris Rein belum dapat mengejar Nomnom yang entah kemana sekarang.
Kini, Asdam dan Chana sama-sama untuk membuat Sekertaris Rein mau untuk tinggal di rumah utama bersama mereka. Sebab, Asdam tidak mau sekertaris Rein sendirian ketika saat pemulihan.
"Sekertaris Rein, sekarang kamu akan tinggal bersama kami!" ujar Asdam.
"Tidak, Tuan. Aku akan tetap tinggal di Apartemen ku," jawab Sekertaris Rein menolak.
"Kamu hanya sendiri, jika bersama kami, kamu tidak akan kerepotan untuk bolak-balik menjemput aku," jawab Asdam.
"Jika begitu, anda harus berangkat sendiri, tidak perlu aku jemput lagi," jawab Sekertaris Rein meledek.
"Aku sudah menaikan gajihmu, jadi kamu harus bekerja lebih keras lagi!" ujar Asdam tidak mau kalah.
"Sudah-sudah! kalian ini dari tadi berdebat mulu. Begini saja, sekertaris Rein tinggal di rumah utama sampai keadaannya benar-benar membaik, bagaimana?!" ujar Chana.
"Terima kasih, Nona, atas tawarannya, tetapi saya tidak bisa, saya lebih nyaman sendiri," jawab Sekertaris Rein.
"Hm..." Chana nampak kecewa dengan keputusan sekertaris Rein.
Melihat istrinya cemberut, Asdam pun langsung maju.
"Ini adalah perintah, tidak bisa di langgar. Kamu tahu konsekuensi bekerja dengan saya, jika tidak mau, saya akan memotong gajih kamu 70%!" tegas Asdam..
"Aisht...!" Sekertaris Rein pun akhirnya luluh dengan terpaksa.
Chana pun langsung tersenyum karena merasa senang.
__ADS_1
Asdam yang melihat senyuman sang istri, ia pun merasa ikut bahagia juga. Sekarang, adalah PR bagi Asdam untuk selalu membuat Chana tersenyum dan tertawa.
......