
Nomnom baru beberapa hari kini sudah terlihat tirus. Baru beberapa hari, sepertinya timbangannya berkurang 5 kilo. Bukan hanya pikiran, namun beban berat yang harus dia pikul.
Demi membantu membiayai pengobatan Sekertaris Rein, Nomnom terlihat mengambil begitu banyak pesanan baju dan dll.
Bahkan Nomnom sengaja membanting harga agar para pelanggannya mau mengambil pesanan lagi.
Butik yang tadinya sudah tutup beberapa hari, kini kembali sangat ramai. Bagaimana tidak, dengan kualitas bahan bagus, Nomnom menjual semuanya dengan diskon 50%.
Nomnom tidak memikirkan balik modal, yang penting bahan habis dan dia mendapatkan uangnya segera.
Nomnom sudah tidak sempat untuk menuntut Asdam, pria kurang ajar yang sudah membuatnya kalang kabut seperti ini.
Nomnom pun sudah tak bisa berfikir untuk mencari keberadaan Chana yang tidak bersahabat dengannya lagi. Nomnom kecewa karena Chana pergi tanpa memberi tahu dirinya.
"Tuan Asdam yang terhormat, jika aku melihat wajahmu, aku pasti akan menjambak rambut mu sampai rontok!"
Nomnom berkerja sambil mengumpat dalam hatinya.
Di butik, beberapa wanita sosialita kelas atas saling membaur.
"Hey, jeng. Sudah dengar kabar?" tanya si blue.
"Apa, Jeng?" jawab si red.
"Kakek Marquez, meninggal!" jelas si blue.
"Astaga, kamu yakin? jangan sembarangan loh, jeng, asal membicarakan keluarga Marquez!?" sahut si yeloow.
"Aku tidak salah dengar. Suamiku sendiri yang mengatakannya, kini dia bergegas menuju kediamannya kakek Marquez!" kekeuh si blue.
__ADS_1
"Jika begitu, kita harus datang dengan rombongan kita agar terlihat oleh mis Beckham. Kita harus hadir untuk mengucapkan belasungkawa. Jangan sampai kita telat untuk mencari muka," jawab si red.
"Tunggu, bukannya Mis Beckham dan suaminya di tangkap karena khusus penggelapan uang dan pajak?" tanya si yellow.
"Mereka sudah bebas. Putranya Asdam sudah mencabut tuntutan dan menganggap jika semuanya hanyalah gimik semata," jelas Blue.
"Oh, jadi yang melaporkan adalah putranya yang bernama Asdam itu?"
"Strategi yang cukup adrenalin, sih inimah!" sahut Red.
"Sudahlah, ini urusan atasan, kita mah cari aman aja!" sahut Blue.
Setelah wanita-wanita sosialita itu pergi, Nomnom yang sedari tadi diam sambil mengukur pakaian pun terlihat mendelik.
"Apa!? Kakeknya Asdam meninggal!? Ya, ampun, Chana, kamu di mana? kamu harus dengar berita ini!" gumam Nomnom terlihat bingung sendiri.
Di sisi lain, terlihat Chana yang kini masih duduk dalam bandara Vancouver International Airport. Richmond, British Columbia, Canada.
Chana berfikir banyak hal tentang kelanjutan hidupnya. Ada banyak pertimbangan positif setelah beberapa jam berada di pesawat dan kini ia sudah kehabisan waktu berjam-jam di bandara.
Akhirnya, setelah keputusan panjang yang ia pikiran, Chana langsung bangkit dari duduknya dan langsung bergegas memesan pesan tiket kembali untuk pulang.
"Ini adalah salahku juga. Aku tidak bisa kabur dan lari masalah. Chana, kamu harus bisa menghadapinya. Kamu harus mampu melihat kenyataan. Misha dan Asdam saling mencintai, terlepas siapa dulu yang menjadi ratunya Asdam, namun saat ini Misha adalah ratunya. Chana, kamu harus bisa!"
Chana bertekad akan pulang dan menghadapi kenyataan dan harus rela andai Asdam dan Misha akan bersatu. Chana harus kembali dan mengurus perceraiannya terlebih dahulu dengan Asdam.
Chana tidak mau Misha dan Asdam berada di dalam hubungan gelap. Chana sendirilah yang akan mengantarkan Misha dan Asdam ke pelaminan.
Andai semua orang menolak, maka Chana lah yang akan menjadi garda terdepan untuk melindungi Asdam dan Misha. Terlepas dari bagaimana perbuatan Misha selama ini kepadanya, namun Chana tetap menyayangi Misha, karena Misha adalah kakaknya.
__ADS_1
Suasana berubah dengan penampilan rumah sakit yang terlihat ramai karena ada kecelakaan beruntun.
Nomnom dengan cepat berlari ke ruangan Sekertaris Rein di mana sekertaris Rein masih terbaring belum sadarkan diri.
Setelah sampai di ruang inap sekertaris Rein, Nomnom pun berjalan dengan hati-hati dan duduk di samping sekertaris Rein yang terlihat tetap tampan meskipun wajahnya masih nampak memar.
Nomnom memegang tangan sekertaris Rein, berharap jika kehadiran bisa membantunya untuk segera sadar.
"Sekertaris Rein, mau sampai kapan kamu tidur terus kaya gini. Ayolah bangun, kamu harus menghadiri acara pemakaman kakeknya Asdam. Kamu pasti belum tahu ya, kalo kakeknya Asdam meninggal. Hmm, sekertaris Rein, Chana menghilang, gak tau sekarang dia ada di mana. Aku takut menuntut Asdam untuk membayar rumah sakit ini. Pria itu bener-benar gak punya perasaan." Nomnom mengeluh segalanya kepada Sekertaris Rein.
Sekertaris pun di bawah alam sadarnya, sebenarnya ia mendengar semua pengaduan Nomnom.
Sekertaris Rein pun merasa kasihan dengan Nomnom sekaligus senang, karena Nomnom ada untuknya di waktu-waktu seperti ini. Jika tidak ada Nomnom, tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Nom, maafkan aku yang sudah merepotkan mu. Andai kamu bisa mendengar ku, aku akan kasih tau pin kartuku, sehingga kamu bisa menarik uang sebanyak-banyaknya..Nom, aku janji, jika aku sudah bisa keluar dari labirin ini, aku akan mengganti semua kerugian mu. Terima kasih karena kamu tetap ada di sisiku sejuah ini."
Sekertaris Rein terlihat menunduk di bawah jurang yang dalam dan gelap. Rasanya ia ingin menggapai cahaya yang berada di atas kepalanya, namun ia sangat sulit untuk menggapainya.
Nomnom pun akhirnya berpamitan dengan Sekertaris Rein, karena ia harus segera bekerja lagi.
Nomnom pulang pergi menggunakan taksi, sebab barang-barang berharga, seperti iPhone mahalnya, sepada motor antiknya, dan beberapa tas branded yang Nomnom punya ia jual untuk pengobatan Sekertaris Rein.
Namun Nomnom tidak merasa keberatan, ia justru merasa sangat karena dapat membantu Sekertaris Rein. Entah karena kasihan, atau karena Nomnom jatuh cinta yang sesungguhnya kepada sekertaris Rein.
Di saat Nomnom membopong sekertaris Rein, rasanya pada saat itu Nomnom seperti sangat takut kehilangannya. Meskipun Sekertaris Rein akhirnya koma, namun Nomnom tetap merasa bersyukur. Tuhan masih mengizinkannya untuk tetap bernafas.
Pesawat terbang menebus awan. Perjalanan masih sangat panjang, butuh waktu 18 jam agar pesawat lepas landas.
Di sepanjang perjalanan, Chana lebih fokus untuk menata hatinya agar lebih tenang lagi. Chana memegangi perutnya yang mulai tumbuh benih-benih kehidupan.
__ADS_1
"Sayang, tumbuh baik di dalam perut ibu ya, ibu janji, ibu akan membesarkan mu dengan baik. Meksipun ayahmu nanti memilih untuk tinggal dengan Tante mu, itu tidak masalah, yang penting keluarga besar kita rukun dan baik-baik saja. Maafkan ibu ya, karena ibu terlalu gegabah untuk kabur begitu saja, kamu pasti capek ya, pulang pergi naik pesawat jauh kaya gini."
Chana berbicara dengan janinnya yang kini sedang bertumbuh untuk menjadi sebuah janin yang menggemaskan.