Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 36, Tidak seperti perkiraan


__ADS_3

......................


Di sisi lain, terlihat Misha dan mama Tirana sudah sampai di apartemen milik Misha.


Meskipun Misha nampak lemas dan pucat, namun matanya terlihat membara dengan penuh dendam di hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mah, mamah bisa tinggalkan Misha sendiri di sini," ucap Misha dengan sekuat tenaga turun dari kursi roda dan berjalan ke tempat tidur.


Mama Tirana yang sedang memasukan koper ke dalam kamar pun melihat anaknya yang berniat pindah seorang diri. "sayang, mamah bantu?"


"Tidak, Mah!" tolak Misha dengan tegas. "sudah, aku bisa sendiri. Mamah bisa pulang sekarang. Dan tolong segera panggilkan pelayan dan juga suster untuk merawat aku di sini," ujar Misha.


Mama Tirana pun hanya bisa menghela nafas berat. Harus bagaimana lagi dia meluluhkan hati Misha yang kini semakin kaku.


Pertama ia datang, Misha terlihat membaik dan katanya sudah menerima Chana dan Asdam bersatu. Tetapi, sebelum pulang Misha berubah kembali dan terlihat sangat kaku dan semakin keras kepala. Semua ini terjadi setelah Misha melihat streaming konser Davis Tetapi, sampai sini mama Tirana belum mengetahui hal tersebut.


"Baiklah, mamah pulang dulu, ya? Suster dan juga pelayan akan datang. Mereka sudah berada di perjalanan menuju ke sini," ucap Mama Tirana sambil mencium kening Misha.


Misha pun tidak merespon dan diam saja ketika mamanya pamit pulang.


Singkat cerita, kini mama Tirana sudah sampai di rumahnya yang mewah dan elegan. Mamah Tirana duduk di sofa empuk dan menselonjorkan kakinya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat berat dan pegal.


"Huuust.. ya ampun, kaki ku rasanya ingin patah." gumam Mama Tirana memijat kepalanya yang serasa pusing.


Ketika sedang menikmati istirahatnya, tiba-tiba saja suara yang sangat lantang mengagetkannya.


"MAMAH!" teriak tuan Bealonza..


"Papah? ada apa sih teriak-teriak, buat mama kaget saja," sahut Mama Tirana kesal.


"Apa benar anak itu pulang!?" tanya Tuan Bealonza dengan marah.


Mama Tirana pun menghela nafas panjang. "hmmm, dia mengancam akan bunuh diri jika tidak boleh pulang," jawab mama Tirana pasrah jika suaminya akan memukulnya ataupun membentaknya.


"Kamu ini bagaimana sih, mah! kamu tahu kelakuan anak itu yang bisa melakukan segala acara supaya bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Pokoknya papah gak mau tau, mamah harus pantau anak itu dan jangan sampai dia berusaha untuk mencelakai Chana kembali!" tegas Tuan Bealonza.


Tuan Bealonza pun langsung pergi meninggalkan Mama Tirana yang hanya diam di saat tuan Bealonza mengoceh-ngoceh tidak karuan.

__ADS_1


"Heh!" decak mama Tirana. "bukankah anakmu meniru kelakuan mu! rela melakukan segala cara agar mendapatkan ia inginkan. Kamu dan Misha pun tidak ada bedanya, hanya membuat ku pusing kepala saja!" umpat Mama Tirana bergumam seorang diri.


Tuan Bealonza pun terlihat mendatangi sebuah diskotik malam dan berkumpul dengan teman-teman koleganya.


Mereka memesan ruangan VIP untuk bersenang-senang malam ini. Meskipun usia sudah menginjak kepala 5, namun tuan Bealonza terlihat sangat aktif dan liar diluar rumah.


Uang yang sangat banyak sudah membutakan matanya, dan akhirnya terjerumus dalam kenikmatan dunia yang sesaat.


Bukannya menjenguk anaknya yang sedang sakit, ia justru malah bersenang-senang dan menikmati malam ini dengan berfoya-foya.


Di sisi lain, terlihat sepasang mata memata-matai tuan Bealonza dan juga para rekannya. Tidak tahu siapa dia, namun sepertinya ini tidak akan baik untuk tuan Bealonza.


......................


Malam menunjukan pukul 11 di dinding kamar mewah berdesain full warna cream putih. Sebuah cermin memantulkan wajah yang sangat anggun dengan rambut yang di urai begitu saja.


Chana dengan plin-plan memilih lipstik yang akan ia gunakan. Warna merah, tidak akan Chana pilih malam ini. "sepertinya, warna nude lebih cocok malam ini," gumam Chana.


Baju dinas berwarna biru muda membuat warna kulitnya terlihat lebih cerah dan terlihat sangat mulus. Chana tersenyum ketika mengingat tadi sore Asdam mengirim paket baju ini kepadanya. "seleranya cukup bagus," gumam Chana merasa malu sendiri.


Chana pun menyemprot parfum ke lehernya beberapa kali. Aroma vanila yang kalem membuat Chana semakin percaya diri.


"Sudah jam segini, Asdam belum juga kembali?" Chana pun merasa moodnya menurun, karena Asdam pulang terlambat.


Tidak terasa waktu terus berputar. Dan kini, jam menunjukan pukul 4 dini hari.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Asdam masuk ke dalam kamar dan berjalan perlahan mendekati Chana yang tertidur tanpa selimut.


Asdam merasa bersalah ketika melihat istrinya sudah memakai baju yang hadiahkan. Asdam pun menghela nafas panjang sambil menyelimuti tubuh sang istri, tidak lupa Asdam pun mencium keningnya dengan lembut. "I'm sorry?" bisik Asdam dengan lirih.


Asdam pun menjatuhkan tubuhnya dan bersandar pada dipan kasur. Ia duduk di lantai sambil mengendorkan dasinya.


Asdam memegang memar yang di pipinya. Memar ini, ia dapatkan dari papahnya sendiri.


Flashback siang tadi.


"Pah, mah, maaf Asdam terlambat?" sapa Asdam mendekati tuan Paulo dan juga Nyonya Beckham yang sedang duduk di ruang meeting.


Raut wajah mereka terlihat sedang menahan amarah yang cukup besar.

__ADS_1


"Dari mana kamu?" tanya Tuan Paulo.


"Maaf, pah. Tadi Asdam harus ke sekolah Alden dulu," jawab Asdam jujur.


"Asdam! apakah kamu lupa jika hari ini ada meeting penting!" tanya Nyonya Beckham terlihat sangat kecewa dengan Asdam.


"Mah, bisakah kita bicara sesuatu?" tanya Asdam ragu-ragu. "Mah, sebaiknya kita ambil saham 10% saja dari program yang ada di AS. Kita tidak perlu berusaha untuk ambil 85%. Bukan karena apa, bukankah saham ini kedepannya untuk Alden? bahkan saham ini mengatasnamakan Alden. Tetapi, Alden sama sekali tidak berniat untuk terjun ke dunia bisnis dan politis. Alden mengatakan padaku jika ia ingin fokus belajar piano dan ia ingin menjadi seorang pianis," ujar Asdam menjelaskan maksud dan tujuannya.


PLAK! (suara tamparan)


"Apakah kamu sudah sadar sekarang?"


PLAK!


"Masih belum sadar juga!?"


PLAK!


"Apakah otakmu sekarang hilang akal!"


Tuan Paulo dengan kasar menampar wajah Asdam sampai berulang kali sampai-sampai Asdam mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


"Papah! sudah cukup, pah! apa yang papah lakukan!?" ujar Nyonya Beckham mencoba untuk membela anaknya.


"Kasih paham anakmu itu. Suruh dia pasang otaknya kembali!" ujar Tuan Paulo yang langsung pergi meninggalkan Asdam dengan amarah.


Asdam pun hanya bisa mengelus bibirnya yang pecah.


"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Mama Nyonya Beckham.


"Iya, mah, aku tidak apa-apa," jawab Asdam.


"Ya sudah, sekarang kita akan ke vila kakek sekarang. Tuan Drox ada di sana saat ini, sebelum ia kembali ke AS, kamu menemuinya sekarang juga!" ujar Nyonya Beckham.


"Tapi, mah!" Asdam mencoba menolak karena Asdam sudah ada janji dengan Chana malam ini.


"Tidak ada tapi-tapian! Dan ingat, jangan membahas soal Alden di depan kakek, atau kakek akan marah dan drop. Kamu tahu kan, saham ini kakeklah yang berjuang diam-diam demi cucunya. Jika sampai Kakek kamu dengar soal Alden yang tidak mau meneruskan perjuangan kakek, dia bisa marah besar kepada kita!" ujar Nyonya Beckham memperingati Asdam.


Di bawah kendali orangnya, Asdam pun tidak dapat berbuat banyak. Alhasil, Asdam pulang sangat terlambat malam ini.

__ADS_1


Comeback..


Malam ini, Asdam pun terdiam karena memikirkan nasib sang adik yang kemungkinan akan sama seperti dirinya.


__ADS_2