Bukan Wanita Pengganti

Bukan Wanita Pengganti
Bab 07 Belum Siap sekamar


__ADS_3

Malam ini Chana sengaja pulang dari butik sedikit malam. Nomnom yang setia menunggu Chana keluar dari ruangannya pun hanya bisa pasrah semabari memakan mie telor kesukaannya.


"Cahanaaaa syantiiik, ini sudah pukul 10 malam loh, yakin gak mau pulang?" teriak Nomnom yang sambil mengunyah makanannya.


"Kamyu tuh kenapa sih diem diem baek dari tadi, aku capek nih pingin tidur...!"


Chana pun membuka pintu ruangannya dan melihat sahabatnya itu sedang makan dengan lahapnya namun berkata jika ia ingin tidur.


"Apakah kamu bisa tidur sambil makan?" ejek Chana membuat Nomnom kaget. Karena dia baru tahu jika Chana sudah membuka pintu ruangannya.


"Hehehe... akhirnya kamu keluar juga. Mau?" tanya Nomnom menawarkan mie..


"Enggak, aku tadi udah buat pop mie di dalem. Oya, aku pulang dulu ya? Sama aku minta desain polosan yang mau di pola warna dan coraknya?" tanya Chana.


Nomnom memberikan beberapa kertas yang sudah ia gambar sebelumnya.


"Kamu enggak pulang?" tanya Chana pada Nomnom yang kembali duduk.


"Enggak ah, aku nginap di sini aja. Hari ini capek bat gue gara-gara lu seharian gak mau keluar, mana customer hari ini pada rewel-rewel lagi!" umpat Nomnom.


"Hehehe, maaf ya, hari ini lagi gak enak badan. Ya udah, aku balik dulu ya, besok kita garap ini bareng-bareng," ujar Chana membujuk Nomnom.


Namun Nomnom terlihat sedikit agak cemberut. Tapi Chana tahu apa artinya itu..


"Hahahaha.... ya ampun aku lupa, pasti nungguin uang persenan ya? ya ampun, maaf banget ya gembul ku.. aku sampe lupa," ujar Chana tertawa tergelitik mengingat dirinya yang pelupa.


"Oh my Lady lady lady... Syukur akhirnya dia sadar juga... Gak tau apa ini perut sudah demo minta jatah bulanan untuk makan di restoran mehong. Hahaha...!" ujar Nomnom yang langsung menyahut cek yang di serahkan oleh Chana.


Chana pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, Nomnom baru saja habis 3 mangkok mie instan dan kini ia membayangkan makan daging steak di malam hari.


"Ya sudah, selamat bersenang-senang kawan. Aku harus pulang sekarang," ujar Chana yang langsung berjalan menuruni anak tangga.


"Chaanaaaaa!" teriak Nomnom dari atas.


"iya?"


"Hati-hati sama tiang di depan pintu, besok aku harus bertemu dengan arsiteknya untuk memarahinya!" teriak Nomnom.


Chana pun lagi-lagi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Oke-oke!" sahut Chana merasa konyol dengan sahabatnya.

__ADS_1


...****************...


Tidak lama mobil Alphard Chana sudah sampai di depan rumah megah milik keluarga suaminya. Chana sendiri tidak heran dengan rumah mewah, karena ia sendiri sudah kaya sejak lahir.


Chana tidak melihat keluarganya, mungkin neraka sudah tidur atau mungkin mereka tidak pulang ke rumah. Hanya ada beberapa pelayan yang masih stand by berjaga malam..


"Malam Nona Chana?" sapa pelayan.


"Malam. Oya, apakah Asdam sudah pulang?" tanya Chana.


"Tuan Asdam sudah pulang baru saja belum lama ini, Non.".


Deg


Chana pun entah kenapa langsung berdebar -debar ketika mengetahui jika suaminya kini sudah berada di rumah..


"Ya sudah, makasih ya," ujar Chana sambil memberikan kunci mobil kepada pelayan.


Menggunakan mobil Alphard tanpa supir memang membuat Chana merasa risih. Chana sendiri berniat ingin ganti mobil biasa seperti Avanza dan sekelasnya seperti keinginannya. Agar terlihat sederhana.


Hanya saja orang tuanya selalu berlebihan dan selalu ingin menunjukan jika anaknya adalah anak pengusaha dan anak bos besar.


Chana tidak akan sudi mati sia-sia karena kasus KDRT.


Ketika membuka pintu, Chana tidak melihat siapapun di kamar.


"Di mana dia? apakah dia tidur di kamar lain?" batin Chana.


Sampai akhirnya Chana seperti melihat bayang-bayang seseorang di atas balkon kamar.


Untuk memastikan, Chana pun berjalan perlahan sambil menjijitkan kakinya agar tidak menimbulkan suara.


Setelah memastikan jika yang berada di balkon adalah Asdam. Chana pun spontan langsung menutup pintu balkon dengan cepat.


Asdam pun langsung menoleh dan terkejut karena pintunya di tutup.


"Chana, apa yang kamu lakukan!?" Asdam yang awalnya sedang bermain ponselnya langsung jingkat ke arah pintu.


pintu balkon full kaca membuat suasana tetap terlihat luar dan dalam..


"Malam ini aku sedang lelah, aku tidak ingin ribut apa lagi di banting sama kamu. Jadi, malam ini kamu tidur di luar dan aku tidur di dalam. bye!" Chana pun menjulurkan lidahnya pada Asdam.

__ADS_1


"Chana, jangan macam-macam kamu ya! cepat buka pintunya, CHANA!" teriak Asdam.


Namun Chana tidak menghiraukan Asdam. ia malah menekan remote dan gorden pun nutup dengan sendirinya. Melihat gorden semakin menutup, Asdam pun terlihat semakin panik.


"Sial!" umpat Asdam. "Chana, aku janji aku tidak akan menggangu kamu, aku sudah memaafkanmu!" teriak Asdam. Namun tentu Chana tidak semudah itu percaya dengan Asdam..


Chana pun memilih untuk mematikan lampu dan bersiap untuk menarik selimut dan tidur.


Melihat lampu sudah di matikan, Asdam pun hanya bisa pasrah jika malam ini ia akan tidur di balkon tanpa selimut. Beruntung di balkon ada sofa empuk yang Asdam letakan, sehingga tidak terlalu mengenaskan tidur di balkon.


Ketika Asdam akan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba saja...


DHUAAAAR!


suara geledek dan petir saling beradu mekanik.


Petir yang menunjukan kilaunya dan geledek yang menunjukan suaranya yang menggelegar.


Asdam pun spontan langsung meringkuk di sofa.


"Sial, aku tidak akan mengampuni gadis sialan itu. Chanaa, tunggu pembalasan ku," umpat Asdam mengeromet.


Sedangkan di sisi lain, Chana pun sudah tidur dengan nyenyak. Sepertinya Chana pun sedang bermimpi indah karena wajahnya yang menunjukan senyum manis.


...****************...


Di sini lain, di tempat tidur yang mewah dan empuk, Tuan Bealonza dan Nyonya Tirana membahas perihal keberangkatan Misha yang akan melakukan pengobatan di Korea.


"Pah, apa tidak sebaiknya kita mengantar Misha bersama-sama. Kondisinya cukup parah pah, kasihan dia," ujar Tante Tirana.


"Atur saja semuanya. Anak itu sudah membuat kita semua malu. Papah sibuk, papa tidak bisa mengantarkannya. Jika mama tidak sibuk, mama saja yang antar dia," ujar Tuan Bealonza yang sepertinya kurang suka jika membahas soal Misha.


"Pah, turunkan sedikit ego mu pah. Mau bagaimana pun dia adalah putri kita. Dia sedang bertarung antara hidup dan mati!" ujar Tante Tirana merasa kecewa dengan suaminya.


"Papah sudah membayar semuanya, jadi itu sudah cukup. Bersyukur karena suamimu ini mampu membayar pengobatan dia sampai keluar negeri. Jika aku tidak bekerja, siapa yang akan membayar biaya pengobatannya!" ujar Tuan Bealonza yang langsung menarik selimut tanda ia ingin menyudahi perdebatan ini.


Nyonya Tirana pun hanya memandangi suaminya dengan kesal tanpa berani mengajaknya berdebat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA;)

__ADS_1


__ADS_2