
Asdam mendekati keluarganya yang sedang berkumpul bersama-sama.
"Asdam, dari mana kamu?" tanya Tuan Paulo.
"Em, dari luar sebentar, pah." jawabnya.
Semua orang menatap Asdam dengan canggung. Mau bagaimana pun, masalah ini masih terasa sangat hangat.
"Chana, aku ingin bicara denganmu," ujar Asdam menatap Chana.
Chana pun menoleh ke orang tuanya untuk meminta persetujuan. Setelah orang tuanya mengangguk, baru Chana bersedia mengikuti Asdam.
"Baiklah!" jawab Chana yang langsung bergegas berdiri dan mengekor pada Asdam.
Setelah sampai kamar, Asdam mengajak Chana untuk duduk di balkon agar bisa melihat pemandangan yang indah..
Mereka duduk bersama-sama dan Asdam membuat Chana agar senyaman mungkin duduk bersama dengan dirinya.
"Chana, bagaimana kabar mu?" tanya Asdam.
"Aku baik-baik saja," jawab Chana.
"Maafkan aku?" ujar Asdam dengan tulus.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi sepertinya di sini tidak ada yang perlu di maafkan," jawab Chana dengan dingin.
"Chana, jujur, aku benar-benar sangat menyesal. Aku tidak tahu kamu jadi hamil, jika aku tahu, aku tidak akan bertindak kasar padamu," jelas Asdam.
"Kamu menyesal setelah mengetahui jika aku hamil, jika aku tidak hamil, apakah kamu menyesal?" tanya Chana sedikit kecewa.
"Iya, aku tetap akan menyesalinya. Aku percaya kamu adalah gadis kecilku." sahut Asdam yakin.
"Bukankah sudah aku katakan, aku adalah gadis kecil itu?" Chana terlihat kesal karena Asdam tidak percaya dengannya.
"Misha meyakinkan aku, jadi aku larut dalam kekecewaan saat itu. Tapi, mamah sudah mengatakan semuanya. Mamah tahu jika kamu adalah gadis kecil yang selama ini aku cari. please, izinkan aku untuk menebus kesalahanku, aku janji aku akan menjagamu dan juga anak kita?" Asdam terlihat memohon.
Chana pun terdiam sesaat. "tapi, bagaimana dengan Misha?" tanya Chana.
"Aku sudah mengatakannya, aku sudah berpamitan dengan Misha," jawab Asdam membuat Chana kaget.
"Apa!? kamu udah mendatangi Misha?" tanya Chana terkejut.
__ADS_1
"Aku rasa, semakin cepat lebih baik," jawab Asdam.
"Kamu kenapa sih jadi orang buru-buru banget!? kamu gak mikirin gimana kondisi Misha sekarang!? kalo dia drop lagi gimana coba?" ujar Chana.
"Ya aku harus bagaimana? apakah aku harus memberikan harapan palsu kepadanya!?" tanya Asdam bingung karena dia selalu serba salah.
"Hmmm, sudahlah, aku akan menjenguk Misha bersama papah dan mamah, biar kami yang bicara sama Misha!" ujar Chana.
"Berarti?" Asdam tersenyum tipis.
"Berarti apa?" tanya Chana.
"Kamu sudah memaafkan aku?" tanya Asdam senang
"Hmm..!" Chana menghela nafas. "kamu harus mendapatkan maaf dari sekertaris Rein!" ujar Chana membuat Asdam menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga! aku lupa dengan anak itu!? ya, ampun..." Asdam bener-benar terlihat sangat bego sekali saat ini. Bagaimana bisa seorang Asdam lupa tanggung jawabnya terhadap sekertaris yang sudah ia buat koma.
"Lupa apa lupa?" tanya Chana mengejek.
"Iya, aku ingat kalo Sekertaris Rein koma, tapi lupa kalo aku belum membayar rumah sakitnya. Aku akan segera mengurus biaya pengobatan Sekertaris Rein!" ujar Asdam yang langsung mengeluarkan ponselnya berniat untuk menghubungi seseorang.
Asdam terlihat menggigit bibir bawahnya ketika ternyata mobil kesukaannya di jual oleh Chana. "Mamah tidak cerita sama kamu?" tanya Chana ketika melihat ekspresi wajah Asdam yang masam.
"Tidak." jawab Asdam menggelengkan kepalanya. "tapi itu tidak masalah, aku bisa membelinya lagi, hehehe!" jawab Asdam sambil meringis.
Chana pun diam saja tanpa merasa bersalah karena sudah menjual mobil Asdam begitu saja.
Suruh siapa nyebelin, jadi aku jual deh mobilnya. Untung cuma mobil, bukan burungmu itu yang aku jual! gumam Chana dalam hati.
Di sisi lain, akhirnya Chana dan keluarganya mendatangi apartemen Misha.
Hanya tuan Paulo, mama Tirana dan juga Chana.
Ting
Tong
Demi menghargai privasi Misha, mereka memutuskan bertamu dengan cara baik-baik.
Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.
__ADS_1
"Eh, ada Nyonya,?" sapa asisten itu ramah.
"Misha lagi apa?" tanya Nyonya Tirana.
"Oh, non Misha lagi di kamarnya, lagi istirahat," jawab asisten.
"Coba tolong sampaikan pada Misha, jika keluarganya ingin bertemu," ucap Mama Tirana.
"Baik, Nya, tunggu sebentar."
pelayan pun mendatangi Misha dan menyampaikan pesan.
Tidak lama, asisten pun memberi tahu jika Misha bersedia bertemu dengan keluarganya. Semua orang tersenyum lega.
Misha terlihat sangat pucat dan juga seperti menahan sakit yang teramat. Ini di akibatkan karena terlalu lelah dan juga pikiran, apalagi Misha menolak untuk kontrol lanjut di rumah sakit.
Melihat wajah Misha, tuan Bealonza pun terlihat sangat pilu. Setelah sekian lama anaknya sakit, ia hampir tidak pernah melihatnya hanya karena kecewa dengan kebohongan Misha.
Tidak terasa, air mata Tuan Bealonza pun luluh lantah berderai membasahi pipinya.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja, maafkan papah ya, nak?" Tuan Bea- menyeka air matanya dan mencoba untuk memeluk sang Putri.
Ketika semua orang hanyut dalam kesedihan, tiba-tiba saja Misha menolak tuan Bea- ketika ingin memeluknya.
"Tuan Bealonza yang terhormat, aku baik-baik saja," ucap Misha menghindari Tuan Bealonza.
Semua orang terlihat terkejut dengan sikap Misha yang seperti itu.
"Misha, kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Tuan Bealonza kecewa.
"Tuan Bealonza yang terhormat, sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak karena anda sudah bersedia membiayai pengobatan saya dan juga sudah sudi membesarkan saya. Di sini, saya ingin benar-benar membuka sebuah rahasia besar. Setelah saya mati, saya tidak ingin lagi ada rahasia yang belum di tuntaskan." ujar Misha dengan serius.
Mama Tirana terlihat memberi kode kepada Misha dengan menggelengkan kepalanya. Mama Tirana berharap jika Misha tidak mengatakan apapun.
Namun Misha tidak memperdulikan Mama Tirana. Misha tetap kekeuh untuk berkata yang sejujurnya.
"Tuan Bealonza, sebenarnya saya bukankah putri kandung anda," jelas Misha membuat Chana hampir pingsan. Sedangkan Tuan Bealonza, ia terlihat tenang sekali, karena memang tuan Bea- sudah mengetahui itu jaaauh sebelum ini.
"APA!?" Chana mendelik tidak percaya. "misha, aku tahu kamu kecewa dengan kami, tetapi jangan kelewatan seperti ini dong! kamu itu ya benar-benar kelewatan tau gak!" umpat Chana kesal.
...................
__ADS_1