Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 103


__ADS_3

Kai menatap datar Heera, ia begitu kesal karena Heera yang mengabaikan dirinya. Heera heran dengan wajah datar Kai itu.


"Kenapa? Kembalikan!" ucap Heera sambil berdiri lantas mengambil buku diary maminya yang dipegang oleh Kai.


Kai mendengus ketika Heera merebut buku diary tersebut.


"Kau aneh!" ucap Heera lantas pergi dari ruangan Kai.


Kai meninju udara, ia gemas karena tidak bisa berkata saat Heera bertanya padanya tadi. Ia juga gemas, karena Heera malah pergi begitu saja.


"Heera, awas kau! Suatu saat kau yang akan gemas dengan tingkahku!" gerutu Kai.


Heera yang berada di luar menggerutu, karena Kai menganggu waktunya. Ia lantas memilih pergi ke taman.


Taman di rumah Kai ini begitu indah, ada air mancur,serta gazebo dan banyak bunga yang ditanam dengan tataan yang bagus, mereka di tanam berdasarkan warna dan jenis bunga. Serta pohon-pohon kecil yang dibentuk menyerupai hewan,lambang hati dan masih ada beberapa bentuk lainnya.


Heera lantas duduk di gazebo, angin terasa sejuk mengenai kulitnya.


*07-07-94


Jika kau pikir tanda dipojok adalah tanggal saat aku menulis catatan ini, maka hal itu salah. Karena tanggal tersebut merupakan tanggal lahir putriku, kami sangat bahagia dengan kelahirannya, dia bagaikan


"Heera...!"


"Heera ...!"


Belum selesai Heera membaca tulisan maminya, Kai berteriak dan memanggil-manggil namanya, membuat Heera kesal lantas menutup buku diary tersebut.


Heera turun dari gazebo, ia berbalik dan menatap Kai.


"Apa?!" bentaknya.


Kai mengerjap, ini kali kedua ia dibentak Heera.


"Kau, membentaku?" teriak Kai tidak terima.


Heera tidak membalas teriakan Kai, ia lebih memilih berjalan ke dapur daripada harus meladeni Kai.


Kai lagi-lagi kesal, karena Heera malah mengabaikan dirinya untuk kesekian kalinya. Ia lantas mengikuti Heera.


Heera yang tengah menyiapkan peralatan untuk membuat kue, lantas pura-pura tidak melihat Kai. Ia begitu kesal dengan tingkah Kai itu, bagaimana bisa ia membuatnya gagal membaca buku dua kali??


"Heera?" panggil Kai, namun Heera masih mengabaikan.


"Heera?" Kai kini berjalan pada Heera, namun Heera memilih pura-pura sibuk dengan memasukan terigu ke dalam wadah.


"Heera?"


Masih tak ada jawaban, Heera malah sengaja mengocok adonan dengan mixer dan akibatnya suara mixer tersebut membuat suara Kai teredam.


"Heera..!?" teriak Kai, kali ini ia begitu kesal dengan Heera.

__ADS_1


"Apa?" tanya Heera santai.


"Kau!? Kenapa kau terus mengabaikanku?" tanya Kai gelagapan.Ia lantas mendekat pada Heera.


"Apa kau begitu tidak menyukaiku? Sampai-sampai sejak tadi, kau terus saja berpura-pura sibuk?" bentak Kai.


"Kenapa Kau malah membentakku?" tanya Heera berbalik kesal.


Adonan pun jadi, Heera menuangkannya pada cetakan.


"Heera? Bisakah kau menemaniku kali ini saja?" tanya Kai, ia mengalihkan tubuh Heera dari adonan kue.


"Menemani apa? Kau tidak lihat, aku sedang membuat kue? "tanya Heera.


Kai menatap adonan -adonan kue tersebut.


" Aku tidak peduli!"Kai membawa Heera keluar dari dapur.


"Kai, apa-apaan kau?" kesal Heera.


"Ikut denganku! Tidak ada bantahan!" jawab Kai tak kalah kesal.


Kai membawa Heera masuk ke dalam kamar. Ia lantas berbaring.


"Pijat kaki dan tubuhku! Kau sebagai istri harus mengikuti perintahku!" titah Kai.


Heera mendengus, dasar bisa-bisanya Kai menyuruh ia memijit tubuhnya, sedangkan adonan yang hendak di oven dibiarkan begitu saja.


Heera lantas memijat kaki Kai dengan ogah-ogahan.


"Lebih keras!"titah Kai. Heera mengeraskan pijatannya.


" Akh, apa yang kau lakukan?Itu terlalu keras!"kesal Kai. Heera tidak peduli, ia lebih memilih menutup telinganya rapat-rapat.


Melihat Heera kembali mengabaikan dirinya, Kai lantas bangun ia dengan sengaja membawa tubuh Heera kepelukannya.


"Kau, kenapa kau membuatku kesal sejak tadi, hem?" tanya Kai, kepala Heera ia apit dengan ketiaknya.


"Uuh, Kai! Bau!" kesal Heera. Namun, Kai mengabaikan, biar saja bau,rasakan itu. Batinnya, terserah Heera nanti akan marah padanya. Yang penting sekarang Heera tidak bisa lari ke mana-mana, atau mengabaikan dirinya.


"Kaii....!" rengek Heera, ia memukul - mukul tubuh Kai, namun Kai tidak bergeming, ia malah terkekeh. Merasa senang mendengar rengekan Heera.


Aneh sekali, dulu ia yang begitu tidak suka dengan suara rengekan Heera dan sekarang malah berubah, ia malah begitu menyukai suara rengekan itu, suaranya terasa merdu di pendengaran Kai.


"Kenapa malah tertawa!? Lepaskan!!" rengek Heera lagi.


" Apa kau tidak ingat? Kita belum pernah melakukan malam pertama sama sekali!"celetuk Kai.


Plak


Plak

__ADS_1


Heera langsung menepuk tubuh Kai dengan kuat, ia jadi salting.


"Bicara apa kau?" ketusnya. Heera dengan sekuat tenaga melepaskan tubuhnya dari tubuh Kai dan ternyata bisa.


Kai menatap Heera penuh kecewa. Namun, Heera tidak menyadari hal tersebut.


"Bau apa ini Kai?" tanya Heera sambil mengendus-endus.


"Nggak tau," jawab Kai malas.


Heera tidak mendengarkan ucapan Kai, karena ia fokus mengendus bau tersebut, hingga matanya membulat.


"Kyaa....!? cokelatnya!" teriak Heera, ia lupa tadi sedang melelehkan cokelat. Heera lantas berlari keluar dari kamar Kai.


Mendengar Heera berteriak cokelat, Kai pun lantas mengikuti Heera.


"Ada apa, dengan cokelat?" gerutu Kai. Hingga matanya membulat, melihat Heera yang berusaha memadamkan api yang berasal dari panci yang terbakar.


"Heera...!" teriak Kai, ia lantas buru-buru menjauhkan tubuh Heera dari sana.


"Lepaskan! ini tinggal sedikit lagi!" ucap Heera, ia lantas melepaskan diri dari Kai.


Byurrr....


Heera menyiramkan air ke api tersebut, dan seketika api padam, namun asapnya mengepul, ia dan Kai bahkan sampai terbatuk-batuk.


"Ohok, ohok! Ini karenamu! Kalau kau tidak membawaku ke kamarmu, ini tidak akan terjadi ohok!"ucap Heera dengan terbatuk-batuk.


" Mengapa malah menyalahkanku? Ohok, itu salahmu yang lupa dengan cokelat!"jawab Kai yang tidak ingin disalahkan.


"Tuan!?" ucap kepala pelayan panik, begitu pula beberapa pelayan dibelakangnya. Mereka takut Kai akan marah, apalagi mereka melihat dapur yang begitu berantakan, seperti sehabis terbakar.


Mereka sama sekali tidak mengetahui kalau dapur terbakar, karena saat ini adalah jam istirahat mereka, sehingga mereka berada di kamar khusus pelayan yang letaknya sedikit jauh dari dapur utama.


"Bereskan semuanya!"titah Kai, ia lantas membawa Heera pergi dari sana.


" Kau yang harus disalahkan untuk ini!"ucap Heera.


"Enak, saja! Kau yang salah!" jawab Kai yang tidak mau disalahkan.


Mereka masuk ke kamar, Heera berjalan terlebih dahulu, ia lantas berbalik dan matanya membulat sempurna lantas tertawa.


"Hahaha, wajahmu!" tawa Heera pecah, ia menunjuk wajah Kai.


Kai merasa heran dengan tawa Heera, namun juga merasa senang bisa melihat tawa indahnya.


"Wajahmu seperti gorila!" ejek Heera. Kali ini Kai kesal, ia lantas mengejar Heera untu



k menggelitiki tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2