
Suasana hati Kai saat ini begitu senang, karena bisa pergi jalan-jalan bersama Heera, yah meski harus dengan siasat terlebih dahulu.
"Kai, kita mau kemana sekarang?" tanya Heera.
"Kau hanya perlu mengikutiku, jangan banyak bertanya," jawab Kai datar, pintar sekali dia menybunyikan emosinya.
Heera menghela nafas, salahnya sendiri kenapa dia pake acara marah segala pada Kai. Sekarang dia butuh pertolongan Kai, jadi sungkan, 'kan? Tapi, itu bukan salahnya, wajar jika dia marah dengan sikap kekanakkan Kai.
"Kemari!" Kai menggandeng tangan Heera, agar tubuh Heera dapat mengikuti dan mengmbangi langkah lebarnya.
Kai mengajak Heera ke tempat dimana dulu dia dan teman-temannya di negara H ini suka nongkrong.
Kai dan Heera memasuki kafe dengan nuansa eropa kuno, namun begitu hits di kalangan anak muda di negara itu. Selain karena banyak spot foto yang ciamik dan instagram mable, kafe ini begitu cocok digunakan para kaum milenial untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas. Di kafe ini juga terdapat tempat yang khusus di gunakan untuk muda-mudi yang ingin mengajak kencan kekasihnya.
Kai memesan meja khusus untuk pasangan, dia sengaja memilih meja yang dekat dengan kaca agar dia dan Heera bisa menikmati keindahan yang tersuguh di depan mata mereka yang hanya terbatas oleh kaca.
"Ini, kencan...?" tanya Heera heran.
__ADS_1
"Tentu saja, bukan. Bukankah kau menolakku? Kita hanya makan biasa, kau tidak perlu ge'er!" Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Kai, padahal sebenarnya Kai ingin mengatakan kalau 'Tentu saja ini kencan, aku sudah menantikan ini sejak lama. Apa kau bahagia?' inginnya seperti itu, namun Kai sedikit trauma takut di PHP-in lagi.
Heera tertegun dengan perkataan Kai, sedikit merasa bersalah juga. Tapi, mau bagaimana lagi? Hatinya masih belum bisa menerima. Lagi pula misi balas dendamnya belum rampung bahkan masih di tahap awal.
"Kenapa malah melamun? Duduklah!"
Kai memanfaatkan saat Heera melamun untuk bisa menarikkan kursi untuk Heera.
Heera langsung terduduk di kursi, karena Kai menekan bahunya.
Kai hanya menjawab dengan senyuman tipis.
Heera mengalihkan pandangannya, matanya melihat meja yang dia dan Kai tempati. Mejanya di hias begitu indah dengan lilin aroma terapi dan bunga mawar merah.
Heera mendongak menatap Kai, terlihat Kai tengah memandang keluar di mana pemandangan indah berada. Heera mengagumi Kai, yah dia cukup kagum dengan Kai. Serumah dengannya membuat Heera tahu sisi lain Kai. Heera benar-benar merasa bersalah pada Kai.
Kai yang sedari awal sadar di pandangi Heera hanya diam berpura-pura melihat ke depan, seakan serius menikmati keindahan alam. Tidak tahu saja hatinya kini tengah berdetak dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Puas menikmati wajahku?" tanya Kai tanpa menatap Heera.
Heera gelagapan, dia buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Tidak, siapa juga!" ucap Heera.
Kai hanya tersenyum tipis, saat dia hendak menyahut waiters datang membawa pesanan meraka.
Heera berbinar melihat makanan yang ada di depannya. Kai merasa sangat bahagia melihat binar tersebut ada di mata Heera.
"Makanlah!" ucap Kai.
Heera langsung mengangguk, dia pun buru-buru memakan makanan yang ada di depannya.
Melihat Heera begitu lahap,Kai pun ikut memakan - makanannya.
Tidak ada yang membuka pembicaraan, mereka hanya fokus pada makanan masing-masing.
__ADS_1