Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Pergi ke makam


__ADS_3

Minggu pagi, Kai, Heera beserta Ajeng pergi ke desa J,untuk memenuhi permintaan Heera yang ingin pergi ke makam anak kandung Karan dan Kara.


"Aduh ... Udah sampai belum,Kai?" gerutu Ajeng, yang kini pantatnya terasa begitu panas.


Kai melihat Ajeng dari kaca spion, sedangkan Heera menengok ke belakang.


"Sebentar lagi sampai," jawab Kai matanya kembali fokus ke depan.


"Dari tadi perasaan, Lo bilang 'Sebentar lagi sampai' terus aja kayak gitu, udah sejam sejak Lo bilang kayak gitu, tapi kita kagak nyampe-nyampe," gerutu Ajeng.


"Sabar, Ajeng! Pasti cepat sampai, 'kan Kamu yang maksa buat ikut." Kini giliran Heera yang menjawab gerutuan Ajeng.


Ck


Ajeng berdecak, "Tau, ah! Kesel Gue, panas banget nih pantat!"


"Tidurin aja, siapa tau agak mendingan!" saran Heera.


Ajeng tidak menjawab, namun ia mengikuti saran yang Heera berikan.


"Mau tidur aja, dah! Awas Lu Kai, kalo masih lama lagi! Gue tampol Lo!" ancamnya dengan mata terpejam.


Mendengar ancaman Ajeng, Kai jadi kesal ia lantas melihat ke kaca spion dan ternyata Ajeng sudah ngorok.


"Dasar, tukti!" cibir Kai.


Heera menatap Kai sembari mengernyit, seingatnya panggilan "tukti" itu adalah panggilan yang Ray sematkan untuk Ajeng.


"Kau ingin tau artinya?" tanya Kai tanpa menatap Heera.


"Kalo kata kak Ray, 'tukti' itu artinya tukang tipu, 'kan?" jawab Heera.


Kai menggeleng. "Itu menurut Ray, kalo menurutku, 'tukti' itu tukang tidur!"


Plak


"Dasar! Ada-ada saja!" ucap Heera sembari menepuk pelan lengan Kai.


"Kenapa?" tanya Kai sedikit terkekeh.


"Ajeng tidak seperti panggilan yang kalian sematkan padanya, dia itu baik!"


"Yah, Kau membelanya karena Kau sahabatnya, coba kalau bukan?"


"Entah Ajeng sahabatku atau bukan, aku tetap akan membelanya, oke? Panggilan dari kalian itu jelek sekali," ucap Heera tidak suka. Mendengar nada kesal dari Heera, Kai terkekeh.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di gapura desa J.


"Ini desanya?" tanya Heera.


Kai mengangguk. "Dari alamat yang Mervan kasih, ini desanya."


Ajeng yang mendengar percakapan Heera dan Kai, lantas langsung terbangun.

__ADS_1


"Apa sudah sampai?" tanyanya, dengan suara agak keras membuat Kai dan Heera kaget.


"Ajeng! Kaget," ucap Heera.


"Elah, sorry! Tapi, udah sampe, 'kan?"


"Udah!" jawab Heera.


"Ayo, turun!" ajak Kai.


Mereka lantas turun dari mobil,Ajeng dan Heera memperhatikan dengan seksama desa tersebut.


"Gue heran, kenapa om Karan malah makamin anaknya di sini, yah? Di desa, padahal dia kan orkay, bisalah gitu, makaminnya di pemakaman khusus orang-orang kaya," celetuk Ajeng.


Heera dan Kai menatap Ajeng. "Aku juga berfikir sama, mungkin saja ada hal yang mami sama papi sembunyikan," ucap Heera.


"Bagaimana menurutmu, Kai?" tanya Heera pada Kai.


"Menurutku kita akan tau jawabannya jika Kita segera pergi ke makam," jawab Kai.


Mereka lantas kembali masuk ke mobil setelah menanyakan alamat pemakaman dimana anak kandung Karan dan Kara di makamkan.


Tiba di tempat pemakaman, mereka mencari nisan dengan nama Kiran Lestari Candramaya.


Tidak begitu susah mereka mencari, karena makam di sana belum terlalu banyak.


Mereka kini tengah berjongkok di sebuah pusara dengan nama nisan Kiran Lestari Candramaya.


Kai dan Ajeng mengernyit, mendengar perkataan Heera. Namun, mereka akan menanyakannya pada Heera nanti.


"Mana bunga dan airnya?" tanya Heera.


"Ini!" ucap Ajeng.


Heera lantas berdoa, kemudian menaburkan bunga dan air itu. Setelah menaburkan bunga dan air, Heera mengusap-usap nisan tersebut, dalam benaknya, mungkin jika Kiran masih hidup, mereka akan jadi saudari yang saling melengkapi.


"Terimakasih, sudah mengizinkan Aku menjadi anak mami dan papi," ucap Heera lirih, setetes air mata keluar dari mata Heera, namun Kai dan Ajeng tidak menyadarinya.


Heera lantas hendak mengecup batu nisan itu, namun sesuatu membuatnya tertarik.


"Apa ini?" tanya Heera pada dirinya sendiri.


"Ada apa?" tanya Kai dan Ajeng berbarengan.


Heera tidak menjawab pertanyaan mereka, ia mengeluarkan ponselnya, lantas memotret nisan Kiran.


Ajeng dan Kai terheran-heran karena Heera malah memotret batu nisan Kiran.


Heera melihat hasil jepretannya, ia lantas men-zoomnya.


"Berlian indah, cahaya bulan purnama." Heera membaca tulisan kecil yang tertulis pada nisan. Tulisan tersebut berada tepat di atas tulisan nama Kiran dan ukurannya sangat kecil, makanya Heera memotret agar bisa di zoom.


"Apa yang Kau baca?" tanya Kai.

__ADS_1


"Ini, lihatlah!"


Kai lantas mengambil handphone Heera dan melihat tulisannya, Ajeng yang penasaran berpindah ke dekat Kai untuk ikut melihat tulisannya.


"Berlian indah, cahaya bulan purnama. Maksudnya?" heran Ajeng.


"Entahlah, Aku juga tidak tahu kenapa mami sama papi nulis itu."


"Kita bisa pikirkan itu nanti, ayo pergi kita harus istirahat, apalagi ini sudah hampir sore, kita harus mencari penginapan di sekitar sini," ajak Kai pada keduanya.


Mereka lantas berdiri dan hendak pergi, namun suara seseorang menghentikan mereka.


"Kalian siapa, yah?" tanya seorang wanita paruh baya.


Kai, Heera dan Ajeng membalikan tubuh mereka. Terlihat mata ibu itu membulat sempurna


"Neng Heera? Ini beneran Neng Heera?" ucapnya kaget.


"Eh?"


Kai, Ajeng dan Heera sendiri tentu saja kaget, karena ibu itu bisa mengetahui nama Heera.


"Beneran ini teh, Neng Heera?" tanyanya lagi, kini tangan ibu tersebut mengguncangkan tubuh Heera, karena Heera tidak kunjung menjawab. Matanya menatap seakan-akan takjub dan tidak percaya bisa bertemu Heera.


Heera tersenyum kaku,"Iyah ini Heera, Bu! Ibu kok bisa tau nama Heera?"tanya Heera.


"MasyaAllah, neng Heera ...." Si ibu tidak menjawab pertanyaan Heera, ia malah memeluk Heera dengan erat.


Tangan si ibu mengusap-usap punggung Heera, Heera bisa merasakan punggungnya sedikit basa. Mungkin si ibu menangis, ia lantas membalas pelukan si ibu.


"Neng Heera," ucapnya.


Kai melipat tangannya di dada, sepertinya ada sesuatu yang tidak mereka ketahui, atau mungkin banyak hal yang tidak mereka ketahui.


Ajeng hanya bisa terbengong, melihat si ibu yang sesenggukan di pelukan Heera.


"Ibu tenang, yah!" ucap Heera.


"Ibu seneng, Neng. Bisa ketemu Neng Heera lagi,hiks ... hiks ...," jawab si ibu.


Ibu tersebut melepaskan pelukannya, matanya menatap Heera. Tangannya terulur menyentuh kepala Heera, turun ke wajah, tangan, ia seakan masih tidak bisa percaya bisa bertemu Heera lagi.


Heera hanya bisa tersenyum kaku, melihat ibu itu tak hentinya menatap ia dengan pandangan tidak percaya.


"Kamu udah gede, sekarang Neng!"


Cup


Cup


Si ibu mengecup kedua pipi Heera, Heera hanya bisa membiarkan ibu tersebut menciumnya sesuka hati.


"Ibu siapa? Maaf Heera lupa," ucap Heera sungkan.

__ADS_1


__ADS_2