Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
RENCANA DI PESTA


__ADS_3

Kai dan Heera melangkahkan kaki mereka masuk ke ballroom hotel, tempat di mana acara ulang tahun perusahaan Nathan di adakan.


Kedatangan Heera dengan Kai menjadi sorotan, karena biasanya Kai akan datang bersama Ray, atau Mia. Tapi, kali ini Ia datang dengan wanita muda yang begitu cantik. Siapa wanita itu terka mereka dalam hati.


Nathan dan Angra yang tengah bercengkrama dengan para tamu, melihat kedatangan Kai dan Heera. Diam-diam mereka menyeringai,


Rencana di mulai Batin mereka.


Heera dan Kai yang juga melirik pada Angra dan Nathan, mereka terkekeh dalam hati, melihat tampang Angra dan Nathan.


" Kau siap buat kehebohan?"Bisik Kai, tepat ditelinga Heera. Angra dan Nathan melihat itu,mereka semakin yakin kalau Heera adalah simpanan Kai.


"Tidak pernah sesiap ini." Jawab Heera datar, namun dengan berbisik.


"setidaknya selama setahun ini." Dengusnya lagi,karena kesal mengingat tingkah bodohnya, yang percaya-percaya saja pada Nathan dan keluarganya.


"Kau rupanya sangat menyesal dengan tingkahmu dulu, heh?"Kai malah menggoda Heera dengan cibirannya.


"Hei! mengapa kalian malah berbisik-bisik? apa kalian tidak tahu, kalau kami masih bisa dengar perkataan kalian?"Celetuk Daniel diseberang.


" Daniel, diamlah! kenapa kau malah mengganggu kesenangan pengantin baru itu, eh ralat pengantin bari kali, yah?"Mervan malah ikut nyeletuk.


Mendengar perkataan mereka lewat earphones yang berada di telinga masing-masing, Kai dan Heera lantas memperbaiki posisi. Apalagi Nathan dan Angra mendekat pada mereka.


"Apa yang kau bicarakan, Bang?" Tanya Heera sambil berbisik.


"Tidak ada, sudahlah! kau mulai saja aktingmu, Heera! mereka mendekat padamu!" jawab Mervan, dari seberang.


"Selamat datang, Tuan Kai!" Sapa Nathan, kemudian mengulurkan tangannya untuk dijabat.


"Terimakasih." Jawab Kai datar, sambil menerima uluran tangan Nathan.


Kau akan dipermalukan malam ini, kita lihat apa kau masih bisa sombong besok? Batin Nathan menyeringai.


Angra menatap sinis pada Heera, Heera yang melihat itu lantas melongos.


"Semoga Anda betah di pesta ini, Tuan!" Ucap Nathan lagi, namun Kai hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Itu lagi-lagi membuat Nathan kesal.


Nathan lantas segera pergi saja, dari sana. Lama-lama darah tinggi, jika terus bicara dengan Kai.


Kai menggelengkan kepalanya, setelah Nathan benar-benar pergi.


"*Gaya lo, Kai!" Cibir Ajeng, dari seberang.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan mencibir diriku, lebih baik kau kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan." Ketus Kai*.


Heera lantas terkekeh, ketika mendengar Ajeng menggerutu.Hingga seseorang yang membuatnya kesal datang.


"Selamat datang, Tuan muda Harish!" Sapa Baron. Anne terlihat berdiri di sampingnya dengan tersenyum begitu manis, yang dilihat dimata Heera, malah seperti monyet yang sedang tersenyum.


Kai menatap datar, pada Baron. Dasar bermuka dua Batin Kai.


Ia masih mengingat dengan jelas, kala Baron memukulnya waktu itu, dan Ia masih cukup dendam. Apalagi dengan beberapa rahasia Baron yang sudah Ia ketahui.


"Terimakasih." jawab Kai.


Baron dan Anne begitu sumringah, karena mendapat sambutan dari Kai, yang dikenal cukup pemilih.


"Apa, Anda kemarin bersama kekasih Anda?" Tanya Baron basa basi, Ia melirik pada Heera dan matanya melotot seketika, begitu pula Anne.


"Heera." Gumam mereka pelan.


"Apa, kau tidak ingat, dengan keponakanmu sendiri?" Tanya Kai dengan nada sarkas.


Anne dan Baron begitu gelagapan. "Atau karena kalian memang tidak menyayanginya sebagai keluarga? kau bahkan tidak menyapanya, ketika tahu dia keponakanmu." Sindir Kai.


Semakin gelagapanlah, Baron dan Anne. "Maaf, saya tidak bisa berlama-lama, kami akan menemui anak dan menantumu, untuk pamit. Permisi." Ucap Kai lagi datar,Ia dan Heera pun lantas pergi, tanpa mendengar jawaban Anne dan Baron terlebih dahulu.


"Entahlah! papa nggak peduli, yang penting harta itu sudah ditanganku, terserah mau dia cantik, ke, enggak ke." Jawab Baron, kemudian berlalu meninggalkan Anne.


"Aku, tidak akan biarkan dia menyaingi Angra lagi." Gumam Anne dengan tangan mengepal.


Disisi lain, Angra tengah memegang satu gelas jus. Ia kemudian memasukkan sesuatu keminunan itu.


Ini akan membuatmu dipermalukan, Heera Batin Angra.


"Apa kau sudah mengirimkan videonya?" Tanya Nathan.


"Tentu, kita tinggal tunggu video itu tranding, dan membuat mereka malu."


"Baiklah, kalo gitu kau jalankan rencanamu pada Heera sekarang!"


Angra menyeringai "Tentu saja, bahkan aku sudah memulainya."


Angra lantas meninggalkan Nathan, Ia perlahan berjalan mendekat pada Heera.


"Hai, Heera!" Sapa Angra, dengan suara yang sedikit keras, membuat orang-orang tahu kalau wanita yang bersama Kai adalah Heera.

__ADS_1


"Apa, dia Heera? si buruk rupa, itu? kenapa dia bisa cantik dalam waktu sesingkat ini?" ucap seorang tamu, meski dengan nada pelan, Angra dan Heera bisa mendengarnya.


"Mungkin dia menjual dirinya!mana mungkin suaminya yang hanya seorang montir bisa membiayai biaya operasi wajahnya!" Timpal seorang tamu dengan nada mencibir.


"Dasar tidak tahu malu, lebih baik jelek tapi bisa menjaga kehormatannya, daripada cantik tapi hasil jual dirinya."


Heera mengepalkan tangannya, mengapa mereka tidak bisa menjaga mulut, setidaknya jangan menjudge dulu, sebelum mengetahui yang sebenar-benarnya. Angra menyeringai, umpannya berhasil.


"Heera, apa kabarmu? maaf aku tidak bisa memelukmu tadi, karena disampingmu ada Tuan Kai. Maaf, yah!" Angra tiba-tiba saja langsung memeluknya. Itu membuat Heera muak, ingin rasanya Ia menyumpal mulut Angra yang beracun ini dengan cabai paling pedas di dunia.


"Ratu drama!" Cibir Ajeng di seberang.


Para tamu yang melihat Angra lansung memeluk Heera, menjadi simpati padanya, mereka mengira Angra itu begitu lapang hatinya, karena mau menerima dan memaafkan Heera, yang sudah membuat dirinya menikah dengan Nathan.


"Lihatlah, Angra jauh lebih baik dari Heera. Ia bisa memaafkan kesalahan Heera. Aku salut dengan Angra." Lagi-lagi kalimat MAHA BENAR DARI YANG BENAR, itu keluar dari mulut tamu yang selalu merasa benar.


Heera mengepalkan tangannya, Angra tersenyum sinis.


"Kau, lihat? mereka masih memihakku, meski kau sudah berubah." bisik Angra. Heera menaikkan sebelah alisnya, Lantas Apa Hubungannya? Pikir Heera.


"Cih Angra! Angra! dasar lu yeh! munafik lu!" celetuk Ajeng


"Heera, sebagai bentuk rasa sayangku, terimalah minuman ini!" Ucap Angra sambil memberikan minuman yang dibawa oleh pelayan yang datang bersamanya.


Heera lantas menerima minuman itu, matanya melirik pada pelayan berkumis tebal dengan kacamatanya yang juga tebal. Pelayan itu menunduk, sebagai bentuk hormatnya.


"Minumlah! kita bersulang!" Ucap Angra, lantas saling mendentingkan gelas mereka.


Heera pun meminum, minuman itu. Angra menyeringai.


Oke, kita mulai. Batinnya.


"Ah, iyah Heera! suaramu, kan begitu bagus. Apa kau mau mengisi acara suamiku ini dengan suara indahmu?" Tanya Angra sambil tersenyum dengan mata berbinar,seakan-akan Ia begitu menginginkan Heera untuk bernyanyi.


"Jika, Heera menolak, itu akan sangat keterlaluan! Angra sudah mau menerimanya kembali, dan dia tidak mau memenuhi keinginan Angra, yang hanya bernyanyi, itu benar-benar keterlaluan." Seorang tamu kembali mencibir.


"Iyah itu akan sangat keterlaluan."


Heera menghela nafasnya. Sangat menyebalkan mereka ini Batin Heera.


"Baik, aku akan menyanyi. Tunjukan dimana tempatnya." jawab Heera datar.


Angra tersenyum sumringah.

__ADS_1


Kita lihat apa suaramu itu akan indah? atau justru begitu jelek Batin Angra.


__ADS_2