
"Kenapa kakak nanis?" tanya Tasya, saat melihat Heera yang tengah menangis sambil dipeluk Kai.
"Syuut, anak kecil nggak boleh kepo!" bisik Ajeng tepat di telinga Tasya.
Namun, Tasya tidak mau mendengarkan Ajeng, ia berdiri dari pangkuan Ajeng, lantas mendekat pada Heera.
Semua memperhatikan tingkah Tasya, yang berjalan kepunggung Kai, dimana wajah Heera berada.
Cup
Cup
Tasya mengecup kedua mata Heera, lantas menghapus air mata di pipi Heera dengan kedua tangan mungilnya.
Heera merasakan kehangatan dari tangan mungil itu, ia tersenyum pada Tasya.
"Jangan nanis,jelek!" ucap Tasya dengan bahasa cadelnya. Ia menangkup pipi Heera.
Cup
Cup
Cup
Cup
Tasya mengecup kening, dua pipi, serta hidung Heera. Heera menjadi gemas, ia lantas melepaskan pelukan Kai dan membawa tubuh kecil Tasya untuk dipangkunya.
Cup
"Kamu, lucu banget, sih?" tanya Heera gemas, ia mengecup dan menggelitik tubuh Tasya, membuat balita tersebut tertawa karena kegelian.
Kai yang melihat Heera kembali tersenyum, merasa sangat bahagia, hal yang semula mengganjal di hatinya sirna begitu saja.
Nek Maya, Arkan dan Tina tertawa pelan, Tasya memang seperti itu, dia anak yang pengertian.
Ajeng tersenyum tipis, dengan tingkah anak yang tadi dipangkunya.
"Assalamualaikum....!" teriakan itu membuat mereka semua menatap ke asal suara.
Terlihat dua orang remaja yang sepertinya kembar masuk kedalam dengan gaya berpakaian beda.Satu memakai kemeja dipadukan dengan sarung, dan peci. Yang satunya lagi memakai kaos dengan celana jeans. Perbedaan diantara mereka begitu jelas terlihat.
"Aa....!" teriak Tasya, ia berdiri dari pangkuan Heera, lantas berlari pada dua remaja itu.
Hap
Remaja yang memakai setelan kemeja dan sarung menangkap tubuh Tasya, lantas menggendongnya.
"Naha balu puang?" tanya Tasya.
Remaja tersebut menatap ke arah kembarannya, "Abis nyusulin abangmu, liat dia udah sore gini, masih keluyuran aja," jawabnya.
Tasya menatap Abangnya, "Ih, Abang nakal!" ketus Tasya.
"Aaakhhh....!"teriak Tasya saat abangnya itu menjawil hidungnya.
__ADS_1
" Jangan mengganggunya!"ucap si Aa dengan memukul pelan tangan Abang.
Aa salim ke Nek Maya, Arkan dan Tina. Matanya kemudian melihat ternyata ada tamu, yang tidak dia sadari sedari tadi.
"Eh, ada tamu,"ucapnya, lantas menyalami mereka satu persatu. Melihat apa yang dilakukan saudara kembarnya, si abang lantas mengikuti, apalagi saat melihat ibunya melotot.
" Mereka siapa, Nek?"tanya Heera.
"Oh, mereka kakaknya Tasya, yang pake peci namanya Arsyad dan yang pake kaos, Irsyad," jelas Nek Maya.
"Abang Irsyad yang nakal!" tambah Tasya.
"Eleh, bocah maen nimbrung!" celetuk Irsyad, ia lantas mengambil Tasya dari gendongan Arsyad.
"Sini, kamu!" ucapnya, lantas menggelitiki Tasya. Namun Tasya berhasil lari, dan akhirnya Irsyad mengejar Tasya.
"Aahhh ...Abang...!" teriak Tasya sambil lari. Langkah mungilnya membuat Heera dan Kai gemas.
"Sini, kamu!" teriak Irsyad.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Irsyad dan Tasya, apalagi saat Irsyad mengangkat tubuh Tasya tinggi-tinggi membuat Tasya menjerit-jerit.
"Abang tulunin Taca! Tulunin! Abang nakal!" ucap Tasya.
"Aaahh ... Aa!!" Keluarlah jurus dari Tasya, yaitu dengan meminta pertolongan pada Arsyad.
"Irsyad....!" panggil Arsyad dengan nada memerintah.
"Kata Aa, Ilsyaddd! Jadi, Abang halus tulunin Taca!"Tasya menirukan perkataan Arsyad namun dengan pengucapan hurup R yang belum fasih.
"Hahaha, kena juga!" tawa Irsyad pecah, ia kembali menggelitiki Tasya yang wajahnya terlihat manyun.
"Bang tulunin!!" pinta Tasya.
"Ngomongnya yang bener dulu, dong! bukan tulunin, tapi turunin!"
"Iyah, tulunin!"
"Bukan tulunin, tapi turuninn,"ucap Irsyad
" Sucaaahhh!"rengek Tasya membuat Irsyad kembali terbahak.
Melihat kedekatan ketiga saudara tersebut, Kai lantas berbisik pada Heera.
"Apa kita juga akan mendapatkan anak seperti mereka?" bisiknya, membuat bulu kuduk Heera berdiri, karena nafas Kai tepat mengenai pundaknya.
"Katakan?" bisik Kai lagi.
"Nggak tau," jawab Heera asal, karena tubuhnya serasa merinding.
Mendengar jawaban Heera, Kai sebenarnya kurang puas. Namun, ia enggan kembali bertanya apalagi melihat Heera yang begitu antusias melihat Irsyad dan Tasya yang masih belum berhenti bertengkar.
"Maaf, yah Neng! Di sini, pasti berisik. Apalagi kalo Irsyad sama Tasya udah berantem," ucap nek Maya.
"Nggak papa, Nek. Justru Heera seneng, melihat mereka tertawa lepas seperti itu," jawab Heera sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oh, Iyah neng, karena ini hampir malam, kalian menginap di sini saja, bagaimana?"tawar Nek Maya.
" Iyah, lagi pula, kamu baru kesini lagi setelah sekian lama, Heera. Sekalian temen sama suami kamu, besok ajak ke kebun, jarang sekali 'kan kalo orang kota bisa main ke kebun. Itung-itung liburan dadakan, haha,"timpal Tina dengan kekehan di ujung ucapannya.
Heera menatap Kai dan Ajeng dan mereka mengangguk.
"Baiklah, kami akan tinggal di sini, untuk malam ini."
Mendengar jawaban Heera, tentu saja mereka merasa sangat senang.
Akhirnya, malam itu Heera menginap di rumah Nek Maya, yang kebetulan rumahnya lumayan besar dan bisa menampung mereka.
Keesokan paginya, Kai, Heera dan Ajeng sudah di ajak ke kebun oleh Arsyad dan Irsyad.
"Wah, indah banget kebunnya, ini kebun teh, 'kan?" tanya Heera.
"Iyah, Teh. Ini kebun teh," jawab Arsyad.
"Jangan panggil Teh, nanti dikiranya si Heera teh itu, yang tanaman,Haha," celetuk Ajeng.
"Ajeng...!" ucap Heera tidak terima.
"Haha, iya, yah! Panggil kakak aja, gimana?" tanya Arsyad.
"Nah, boleh tuh!" ucap Ajeng lagi.
Arsyad tersenyum tipis, melihat kekesalan di wajah Heera dan tawa di wajah Ajeng.
"Syad....!Ajak mereka kesini!" teriak Irsyad yang memang sudah duluan.
Arsyad menengok, ke asal suara Irsyad.
"Ayo, Kakak-kakak, Pak, ikut saya!" ajak Arsyad.
Wajah Kai seketika sangat datar, saat Arsyad memanggilnya Pak, sedangkan kepada Heera dan Ajeng, ia memanggil Kak.
Kai tidak terima,kalaupun ia harus dipanggil Pak, maka Heera harus dipanggil Bu.
"Haha, Pak, Bapak? Kasiaan ...." Tawa Ajeng pecah, saat melihat wajah datar Kai. Arsyad jadi merasa tidak enak, karena sudah memanggil Kai, dengan sebutan Pak. Sebenarnya, ia begitu bingung harus panggil Kai dengan sebutan apa.
Setelah menertawakan Kai, Ajeng malah berlari.
"Eh, maaf Pa-eh, Kak. Ayo, ikut saya." Kali ini Arsyad mengubah panggilannya pada Kai, ia lantas berbalik, untuk memandu mereka.
"Ayo, jalan! Gitu aja marah," goda Heera, ia merangkul tangan Kai lantas mengajaknya berjalan.
Mendapatkan rangkulan dari Heera, amarah Kai seketika menguap.
"Waaa....! Bagus... Banget....!"
Saking kerasnya teriakan Ajeng, bahkan dengan jarak lima meter, Kai dan Heera masih bisa mendengarnya.
"Itu, kenapa Ajeng berteriak, Syad?" tanya Heera.
"Mungkin kagum, Kak. Di sana ada air terjun," jawab Arsyad dengan nada lemah lembut.
__ADS_1
"Waah, aku jadi nggak sabar pengen ke sana! Ayo, Kai! Percepat jalanmu!" Ajak Heera pada Kai.