
Seorang gadis dengan atasan atasan jaket kulit, serta celana bahan, penampilannya terlihat maskulin dengan sepatu boot ditambah rambut yang diikat kuncir kuda, kacamata hitam betengger indah di matanya.
Pandangannya tegas, ia berjalan dengan dagu terangkat, angkuh. Gadis tersebut adalah Heera, sore ini dia akan menemui Angra di cafe mahkota.
Terlihat Angra tengah duduk di salah satu kursi dengan wajah kesal. Heera menaikkan kembali kacamatanya, ia lantas tersenyum sinis.
Mari bermain, batinnya menyeringai.
Heera berjalan dengan sedikit tergesa, lantas duduk begitu saja di kursi yang berada tepat di depan Angra.
"Katakan apa keinginanmu?" tanya Heera pada Angra.
Angra menatap Heera dengan pandangan tidak percaya, bagaimana bisa Heera bisa berubah jadi seperti ini? Baru beberapa minggu lalu, ia melihat perubahan Heera menjadi cantik kembali dan sekarang ia dikagetkan dengan penampilan Heera yang si*lnya terlihat sangat keren.
"Aku tau pasti kau yang mengirimkan poto-poto dan video itu 'kan?" tanya Angra kesal.
Heera menaikan sebelah alisnya, lantas terkekeh sinis.
"Untuk apa aku buang waktu dengan hal tidak berguna?" Heera meminum - minuman yang ada di sana.
Angra geram dengan jawaban Heera. Ia yakin pasti Heera lah yang berusaha mengadu domba keluarganya, Angra masih percaya Baron tidak memiliki hubungan dengan Ishani. Ia yakin itu, karena Baron adalah orang yang selalu jujur padanya.
__ADS_1
"Jangan berbohong! " bentak Angra sambil mengebrak meja. Membuat pengunjung lain menatap ke arahnya.
"Huh, santai!" ucap Heera sambil berusaha mendudukkan Angra, namun Angra malah menepis dengan kasar tangannya.
"Minumlah dulu!" ucap Heera sambil menyodorkan minuman milik Angra.
BYUURR...
Angra mengambil minuman yang tengah dipegang Heera, lantas menyiramkannya pada wajah Heera. Hal tersebut membuat mereka semakin menjadi pusat perhatian.
"Aku tau kau pasti ingin balas dendam padaku dan Nathan. Tapi, aku tidak akan pernah memberimu celah untuk itu Heera! Camkan itu!" ucap Angra sebelum akhirnya pergi meninggalkan kafe tersebut.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kalau mau makan yah makan saja!" ketus Heera pada para pengunjung kafe yang sejak tadi menjadi penonton setia.
Mereka jadi gelagapan, lantas kembali menjalankan aktivitas mereka tadi.
Di sisi lain, Kai yang melihat rekaman Heera dari CCTV menjadi makin kagum. Ia tidak menyangka Heera bisa bersikap angkuh dan dingin seperti itu.
"Kau memang istriku, " ucap Kai, Ray menatap Kai dari posisinya sekarang.
"Tentu saja istri Anda, Tuan. Bukan istri saya, karena saya masih belum mendapatkan istri, " celetuk Ray.
__ADS_1
Kai menatap tajam pada Ray, bisa-bisanya dia bercanda.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Ray.
"Banyak, salahmu berbicara seperti itu, semua kalimatnya sama sekali tidak berbobot," ketus Kai yang baru saja menyelesaikan pekerjaan.
"Udahlah! Jangan terus menyudutkanku! Aku pasti bisa."
"Bisa apa??"
"Bisa melindungi dan menjadikan Heera sepenuhnya milikku."
Kai membuka laci lemari kerjanya dan terdapat sebuah kotak beludru berwarna biru navy di sana.
"Yakin?" Ray bertanya dengan nada merendahkan dan tidak percaya dengan Kai.
"Kau meragukanku?" kesal Kai.
"Bukan meragukan, tapi butuh bukti! Lagi pula kau belum pernah berpacaran sama sekali, " jawab Ray santai.
Kai geram sendiri dengan ucapan Ray, ia lantas menarik tangan Ray dan membawanya untuk ikut bersamanya.
__ADS_1