Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Heera tengah berjalan di trotoar, hari ini Ia tidak harus ke kantor Kai, karena Kai juga tidak ada. Lagipula Ia tidak benar-benar bekerja sebagai sekretaris Kai,itu hanya tipuan saja untuk Nathan dan Angra.Makanya, Heera putuskan untuk melakukan me time kali ini. Sudah lama Ia tidak berjalan-jalan di trotoar dan membeli jajanan pedagang kaki lima semenjak Ia berpacaran dengan Nathan si pengkhianat itu!! Ia geram sendiri jika mengingat nama orang itu.


Heera melihat pedagang aromanis, Ia lantas berjalan ke tempat pedagang itu berada, Ia sangat suka sekali dengan aromanis.


"Beli, aromanisnya dua!"Ucap Heera dengan seseorang.


Heera dan orang itu saling menatap, " Eh, Tuan Xavier!"sapa Heera.


Benar, orang yang membeli aromanis itu adalah Tuan Xavier. Heera bisa mengenali Tuan Xavier, meski kali ini Tuan Xavier mengubah penampilannya dan berpakaian layaknya orang biasa.


"Kau sekertaris Kai yang baru itu?" Tanya Tuan Xavier memastikan.


Heera lantas tersenyum kemudian mengangguk "Benar Tuan!" jawab Heera.


"Kau cukup cerdik! kau bisa mengenali diriku, meski aku sudah merubah penampilanku! sangat jarang orang mempunyai kemampuan seperti kemampuan yang kau punya!"Puji Tuan Xavier.


"Terimakasih atas pujiannya Tuan, saya benar-benar tersanjung! tetapi, itu terlalu berlebihan bagi saya yang hanya seorang perempuan biasa, Tuan!" Ucap Heera sambil tersenyum. Tuan Xavier mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Anda juga ingin membeli aromanis Tuan?" Tanya Heera


Tuan Xavier terkekeh, "Benar! ini adalah salah satu alasanku berpenampilan seperti ini, kau pasti heran bukan? orang sepertiku bisa menyukai aromanis."


Heera lantas terkekeh "Tidak juga, Tuan! saya rasa setiap orang berhak memilih apa yang mereka suka, apapun itu dan siapapun orangnya berhak memilih apa yang mereka suka, termasuk Anda yang menyukai aromanis meski rambut Anda setengah beruban. Bukan begitu Tuan?" Jawab Heera sambil menaik turunkan alisnya.


Tuan Xavier kembali terkekeh dengan jawaban Heera yang mengingatkan Ia pada seseorang.


"Kau sangat lucu!" Ucap Tuan Xavier sambil mengusap kepala Heera. Heera memejamkan matanya, Ia tiba-tiba merindukan kehangatan seorang ayah, karena perlakuan Tuan Xavier tersebut.


"Tuan, Nona? jadi siapa yang membeli dua aromanis?" Tanya penjual aromanis.


"Saya!" jawab Heera dan Tuan Xavier berbarengan.


Mereka saling pandang kemudian terkekeh.


"Maksudnya, saya dan nona ini masing-masing membeli dua aromanis!" ucap Tuan Xavier.


Si penjual mengangguk lantas membuat empat aromanis.


"Siapa namamu?" Tanya Xavier.

__ADS_1


"Nama yang indah! Kau tau menurut studi numerologi, nama "Heera" mempunyai kepribadian Pemrakarsa, pelopor, pemimpin, bebas, pekerja keras,dan individualis. Orangtuamu sangat pandai memilih nama untukmu! Mereka mungkin ingin kau menjadi seorang wanita yang tegas, bijak, pekerja keras dan mandiri!"


"Benarkah?" Tanya Heera berbinar.


Tuan Xavier lagi-lagi terkekeh, apalagi melihat binar itu di mata Heera.


"Maaf, Tuan! terkadang sifat saya yang seperti ini tidak bisa dikontrol Hehe!" Heera menggaruk tengkuknya, Ia terkadang masih sulit menyembunyikan wataknya yang kadang-kadang suka polos dan menanggapi berlebihan terhadap sesuatu.


"Haha, tidak perlu malu! Kau hebat dengan apa adanya dirimu! yakinlah!"


"Ini aromanisnya Tuan! Nona!" Ucapan si penjual aromanis itu menghentikan obrolan mereka.


"Waahhh!! Terimakasih, Paman!" Ucap Heera berbinar senang, Ia sampai begitu lahap memakan aromanis itu, sampai - sampai melupakan Tuan Xavier yang berdiri terpaku melihat Heera.


Heera menikmati aromanis itu dengan mata tertutup kemudian terbuka, menikmati manisnya aromanis itu. Hingga matanya bertemu dengan mata Tuan Xavier dan Heera seketika berdiri kaku,karena Ia lupa masih ada Tuan Xavier di sana.


"Eh, Tuan! maaf! saya lupa kalau masih ada Tuan disini!" Ucap Heera gelagapan.


"Kau, tipe pelupa ketika melihat makanan rupanya, yah?" Goda Tuan Xavier.


"Hehe! bisa dikatakan begitu, Tuan!" jawab Heera kikuk.


"Heera, aku harus pergi sekarang, karena ada pekerjaan mendesak! semoga kita bisa bertemu lain waktu, oke? Kau sangat menggemaskan!"


"Hehe, Tentu Tuan!"


Tuan Xavier pun pergi meninggalkan Heera. Heera kemudian kembali menikmati aromanisnya.


Tanpa Heera sadari, seseorang sejak tadi mengikuti dan memperhatikan apa yang dilakukannya.


"Kenapa Heera bisa kenal dengan Xavier?" Tanya orang itu pada dirinya sendiri.


"Aku harus terus mengikuti Heera." Gumam orang tersebut,lantas cepat-cepat bergerak karena Heera juga sudah mulai kembali berjalan.


Heera berjalan dengan santai, Ia masih memakan aromanisnya yang tinggal satu lagi. Mata Heera terus mengawasi orang yang sejak tadi mengawasinya,lewat handphone yang sengaja Heera mainkan tepat di depan wajahnya.Untuk mengetes orang itu, Heera berjalan dengan irama pelan dan cepat, sesekali Heera menghentikan jalannya dan orang itu mengikuti apa yang Heera lakukan.


Heera bukannya tidak tahu jika sejak tadi ada yang terus mengikutinya, namun Ia menunggu saat yang tepat untuk memergoki orang itu.


Heera membuang stik bekas aromanisnya yang telah habis kedalam tong sampah, Ia lantas menengokkan kepalanya pada pedagang buah dan tepat, orang yang mengikuti Heera itu bersembunyi di antara pedagang buah, berpura-pura memilih buah.

__ADS_1


Heera menyeringai "Kita lihat sampai mana kau akan terus mengikutiku." Gumamnya.


Heera menegakkan kembali tubuhnya, kemudian berjalan dengan santai sambil menyapa orang-orang.


Orang yang sejak tadi mengikuti Heera masih terus mengikutinya.


Saat ada jalan menuju gang, Heera pun masuk ke gang itu.


Orang yang mengikuti Heera memelototkan matanya, karena Heera masuk ke gang itu.


"Untuk apa dia masuk ke gang itu? jangan sampai aku kehilangan jejaknya." Gumam orang itu lantas masuk ke gang itu, namun Ia tidak melihat Heera dimanapun.


Orang itu berjalan ke cepat ke sana kemari, namun nihil, Heera sama sekali tidak ada.


"Si*l aku kehilangan jejaknya!" Umpat orang itu.


Bruk


Heera menerjang orang itu, membuat tubuh orang itu sedikit mundur.


Heera memandang tajam orang itu, namun Heera tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, karena tertutupi Hoody yang orang itu pakai, serta pencahayaan yang minim di gang itu.


"Siapa kau?" Tanya Heera dingin.


Orang itu menyeringai, "Kau tidak perlu tahu siapa aku!" Setelah berkata begitu, orang itu lantas menyerang Heera balik, namun Heera dapat menghindar.


"Kau cukup cekatan juga!" Puji orang itu, melayangkan pukulan pada perut Heera, namun Heera menangkis dan balik menyerang orang itu.


Duel pun terjadi, mereka saling menyerang dan melindungi diri.


Heera berhasil menyudutkan orang itu, dan mengurungnya di dinding, posisi orang itu persis menghadap dinding, sehingga Heera mengunci tangan dan leher belakang orang itu.


"Katakan, siapa dirimu?" Ucap Heera penuh penekanan.


"Apa itu begitu penting?" Tanya orang itu sinis.


Heera semakin menekan tangannya yang berada di leher orang itu.


"Cepat, katakan siapa kau!! dan siapa yang menyuruhmu?"

__ADS_1


__ADS_2