Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Hubungan Yang Kembali Dingin


__ADS_3

Heera menatap Kai dengan pandangan tidak percaya.


Kai mengecup punggung tangan Heera, membuat Heera tersenyum tipis menatapnya. Kai tersenyum lebar, dalam hati dia akan menjadikan Heera sebagai miliknya seutuhnya.


Kai mengajak Heera berdansa, diiringi lagu romantis. Selama berdansa, mata Kai tak hentinya menatap mata indah Heera. Tatapannya begitu dalam, ia bahagia ternyata menikah dengan Heera tak seburuk yang ia kira. Bahkan sekarang ia yang jatuh cinta pada Heera.


Kai menuntun Heera menuju sebuah meja yang khusus hanya untuk mereka berdua. Kai menarik kursi yang Heera duduki, Heera lantas duduk di kursi.


Heera menatap makanan kesukaannya yang sudah tersedia di sana.


"Semoga kau suka," ucap Kai dan Heera menganggukkan kepalanya.


Mereka lantas menyantap makanan milik masing-masing.


Setelah selesai, Kai mengeluarkan kotak yang sejak tadi dipegangnya.


Sebuah cincin yang mempunyai bentuk sederhana bertahtakan berlian.


"Apa kau mau mendampingiku? Sepanjang hidupku? Saat ini dan nanti, sampai kita mempunyai anak dan menua bersama? Sampai maut yang memisahkan kita?" tanya Kai, tangannya mengambil tangan Heera.


Heera menatap mata Kai dalam, lantas ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Kai senang bukan main, ia langsung memasukkan cincin itu ke jari Heera. Ia dengan gampangnya mengangkat tubuh Heera dan memutarnya.

__ADS_1


Ray, Mervan, Daniel dan Ajeng yang mengintip dari kejauhan tersenyum lebar. Mereka senang dengan kemajuan hubungan Kai dan Heera.


Heera tertawa, begitu juga Kai. Hingga sebuah kata dari Kai, membuat Heera terdiam.


"Apa kau juga mencintaiku Heera? Katakan? Kau mencintaiku? Aku ingin mendengar kalimat itu dari bibir indahmu!"


Heera menggigit bibir bawahnya, ia belum mencintai Kai sama sekali. Ia hanya bisa menerima Kak, karena Kai sudah menjadi suaminya.


Kai berhenti memutar tubuh Heera, pandangannya menatap heran pada Heera. Ia kira apa Heera tidak mencintainya? Lalu, kenapa tadi ia mengiyakan ajakannya untuk hidup bersama?


Ray, Mervan, Daniel dan Ajeng merasa heran. Kenapa sepertinya Kai dan Heera tidak sedang baik-baik saja?


Kai menurunkan tubuh Heera. Matanya menatap tajam pada Heera.


"Katakan, apa kau mencintaiku?" tanya Kai datar.


"Maaf--


" Tidak perlu diteruskan!"ucap Kai datar, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Heera.


"Kai! Tunggu!" teriak Heera, tetapi Kai tidak mengindahkan teriakannya.


Heera jadi merasa bersalah, bukan itu maksudnya. Ia memang belum mencintai Kai, tapi dia tidak berbohong kalau ia bisa hidup menua bersama Kai.

__ADS_1


Ray, Mervan, Daniel dang Ajeng saling menatap.


"Lho, itu kok si Kai malah pergi?" ucap Ajeng panik.


"Entahlah, ada apa dengan mereka?" timpal Mervan.


Heera berlari mengejar Kai, ia memegang tangan Kai.


"Kai! Tunggu, aku bisa je--


" Sudahlah, tidak perlu diteruskan!"jawab Kai datar, ia mempercepat jalannya membuat Heera kesusahan untuk mengimbangi.


"Kai! Dengarkan aku dulu." Heera berteriak, karena ia sudah tidak bisa mengejar langkah besar Kai.


Heera berkacak pinggang dengan sebelah tangan memegang kepalanya.


"Gimana ini? Bukan maksudku begitu," ucap Heera panik.


"Heera?" teriak Ajeng, membuat Heera mengalihkan pandangannya.


"Ini, kenapa? Kok si Kai malah pergi?" tanya Ajeng.


"Ini, ini karena aku bilang nggak cinta sama Kai!" jawab Heera dengan wajah khawatir.

__ADS_1


Ajeng, Ray, Mervan dan Daniel membulatkan mata mereka. Heera tidak mencintai Kai? Pantas saja Kai marah, batin mereka.


"Gimana dong? Itu sebenarnya bukan maksudku," ucap Heera lagi.


__ADS_2