Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Mengadu domba Nathan dan Baron


__ADS_3

"Jadi, ada salah satu rekanku, namanya Ishani. Kami kenal hanya beberapa hari saja. Tapi, aku begitu nyaman bersamanya, apalagi Ishani itu gadis yang begitu anggun, lembut dan nyambung ketika di ajak berbicara," ucap Ajeng dengan gelagat seperti orang gugup. Nathan dengan sengaja menggenggam tangan Ajeng dengan kedua tangannya.


"Katakanlah!" ucap Nathan, sambil menatap dalam mata Ajeng. Seakan-akan ia tengah berusaha menguatkan Ajeng dan berusaha membuat Ajeng terpesona padanya. Tapi, bukannya terpesona, atau merasa dikuatkan. Ajeng malah merasa mual dan merasa tubuhnya tidak aman bila didekat Nathan.


Jika saja ia tengah menjadi Ajeng dan bukannya menjadi Mesti, sudah habis Nathan ia pukuli.


Ajeng kembali saling meremas kedua tangannya. Kepalanya ia tundukan,"Tapi, tolong jangan beritahukan ini pada siapapun?"pinta Ajeng.


"Janji," jawab Nathan cepat.


Huft


"Aku mengetahui ini dari Ishani, dia--dia awalnya--


" Jangan gugup, santai saja!"ucap Nathan saat melihat Ajeng malah tergagap.


"Aku, aku masih merasa kehilangan dengan kematian Ishani." Ajeng berpura-pura menangis, bahkan air matanya pun bisa keluar.

__ADS_1


Sungguh akting yang sangat totalitas dari yang pernah lo lakuin Jeng, batin Mervan yang kini tengah mengawasi Ajeng dan Nathan.


"Baiklah, aku tidak akan gugup sekarang!" ucap Ajeng.


Huft


"Jadi, Ishani ... dia, dia mengkhianati kekasihnya, sebenarnya dia hanya bermain-main saja. Tapi, siapa yang tau ia malah terlibat ONS dengan, dengan Tuan Baron dan setelah hal itu mereka malah sering melakukannya dan akhirnya Ishani mengandung. Ia berbicara padaku kalau dia akan meminta pertanggungjawaban Baron, namun aku tidak tahu, kalau---Kalau ... hiks, hiks."Ajeng malah mengeluarkan air matanya, ia menangis sesenggukan.


Nathan langsung memeluk Ajeng, sebelah tangannya mengepal. Ia tidak bisa percaya kalau Ishani tega mengkhianatinya."


"Hiks... Ishani, dia wanita yang sangat baik. Aku senang bisa me--mengenalnya." Ajeng masih sesenggukan, tangisnya tidak berhenti sama sekali.


Nathan melepaskan pelukannya. Ia menatap Ajeng lama.


"Apa omonganmu bisa dipercaya?"


"Anda tidak percaya padaku Tuan?" tanya balik Ajeng dan itu membuat Nathan gelagapan.

__ADS_1


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan saja," ucap Nathan.


Ajeng lantas menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya terlibat sedikit obrolan. Lebih tepatnya Nathan selalu membawakan topik untuk bisa dibahas.


"Ck, Ajeng! Ajeng! Kalo aja dulu tampil kayak gini, uda mau nikah mungkin lo sekarang," gumam Merc.


Di sisi lainnya, Heera dan Ray buru-buru keluar dari gedung agency lantas naik ke dalam mobil untuk menemui Kai. Mereka akan merencanakan rencana selanjutnya.


Çeklek


Ray dan Heera membuka pintu ruangan Kai. Terlihat Kau sedang berkutat dengan pekerjaannya.


"Bagaimana? Sudah selesai?" tanya Kai, tetapi matanya masih menatap tumpukan pekerjaannya.


"Sudah, biar tugasku kali ini!" ucap Ray. Ia lantas membuka laptopnya untuk mengirim sebuah berita lagi. Kali ini bukan pengakuan, namun sebuah poto dan penggalan rekaman CCTV yang memperlihatkan adegan panas antara Baron dan Ishani.


Jari- jari Ray bergerak lincah di atas papan ketik tersebut.Beberapa menit berkutat dan akhirnya selesai.

__ADS_1


"Done! Kita lihat, apakah bensin ini dapat membuat api yang sudah kita nyalakan makin menyala?" ucap Ray.


"Tentu saja, itu akan membuat mereka kebakaran jenggot,biar giliranku!" ucap Heera. Ia lantas mengganti pakaiannya.


__ADS_2