
Heera masuk ke L' Cafe, Ia kemudian menanyakan ruang yang sebelumnya sudah direservasi oleh Nathan.
Setelah berterimakasih pada pelayan yang mengantarnya, Heera lantas masuk dan terlihat Nathan tengah duduk dengan bertumpang kaki, wajahnya tersenyum menyeringai.
"Duduklah!" perintahnya.
Heera lantas duduk "Katakan!" ucap Heera cepat.
Nathan tersenyum sinis, "Sabarlah! lebih baik kau minum atau makan terlebih dahulu!"
"Aku datang kemari bukan untuk makan ataupun minum," ketus Heera.
"Oh, ayolah Heera! kenapa sekarang Kau begitu ketus padaku!?" tanya Nathan, tangannya hendak menyentuh wajah Heera, namun dengan cepat Heera menepisnya.
"Jangan menyentuhku!" bentak Heera sambil berdiri.
Nathan terlihat terkejut dengan reaksi Heera, namun detik berikutnya Ia tersenyum tipis.
"Kau juga lebih galak sekarang! tapi itu malah membuatku kembali tertarik padamu!" Nathan kembali hendak menyentuh Heera,
"Berhenti di sana! jangan macam-macam! lebih baik cepat katakan!" ketus Heera.
Namun, Nathan tidak mendengarkan dan malah terus mendekat pada Heera.
"Mundur! lebih baik cepat kau katakan!"Heera mundur kebelakang karena takut dengan Nathan.
Nathan menaikkan sebelah bibirnya, "Kenapa? apa kau takut?"
"Mundur...!" teriak Heera, namun kalah cepat dengan Nathan yang tiba-tiba saja mencekik lehernya dengan tangan kanannya.
"Lepaskan!" ucap Heera dengan tersendat, karena cekikan Nathan cukup kuat.
"Kau berjalan keluar dari sini dengan biasa saja, atau peluru ini akan masuk ke dalam kulitmu!" bisik Nathan sembari menodongkan pistol tepat di punggung Heera.
Heera melirik kebelakang dan punggungnya merasakan benda itu tepat berada di sana.
"Jangan melihat kebelakang! cepat jalan!" bentak Nathan dengan suara pelan.
"Oke! oke! Aku ikut denganmu!" jawab Heera cepat dengan mimik ketakutan.
Mereka lantas keluar dari ruangan itu dengan Heera didepan dan Nathan di belakang, sekilas terlihat seperti sepasang kekasih yang tidak ingin berjauhan, namun jika dilihat dari dekat, tangan Nathan menodong punggung Heera dengan pistol.
"Tersenyumlah!" bisik Nathan, karena ada beberapa orang yang melihat aneh pada mereka.
Heera terpaksa tersenyum, meski terlihat kaku.
"Masuk!" ucap Nathan pelan.
Heera lantas masuk ke mobil Nathan, dan Nathan juga ikut masuk.
Bugh
suara pintu mobil yang Nathan tutup. "Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Heera, namun Nathan langsung membekap mulutnya dengan lakban, serta mengikat kedua tangannya dengan tali.
Heera melotot pada Nathan, sambil meronta-ronta.
Plak
Nathan menampar pipi Heera.
__ADS_1
"Diam! atau Aku akan berbuat lebih dari ini!" bentak Nathan.
"Kemarin Kau bisa selamat! tapi, sekarang? Aku akan buat dirimu menderita!"
"Kau ingin tau 'kan, kenapa Aku begitu membencimu? satu-satunya alasanku karena Kau sudah membuat jantung hatiku tiada!"
Perkataan terakhir Nathan membuat Heera bertanya-tanya, apa maksudnya dengan jantung hati? seingat Heera, dirinya tidak pernah berada dalam lingkungan Nathan, selain saat di taman bermain itu, ketika Nathan mulai mendekatinya, sebelumnya Heera sama sekali tidak mengenal siapa itu Nathan.
Lantas? kenapa Nathan mengatakan Ia sudah membuat jantung hatinya tiada? pikir Heera.
"Kenapa wajahmu begitu, heh? Kau ingat dengan dosamu?" cibir Nathan. Ia lantas turun dari mobil untuk pindah ke bagian kemudi.
Mobil Nathan melajukan mobilnya, meninggalkan area parkir L' Cafe.
"Cepat! jalankan mobilnya! mereka sudah melaju!" ucap Daniel tidak sabaran.
"Iyah, ini juga mau jalan!" jawab Mervan sambil menjalankan mobilnya.
'Yap! Mervan dan Daniel sejak tadi mengawasi mereka.
Mereka mengambil jarak sepuluh meter dari mobil Nathan, agar tidak ketahuan.
"Apa Kau menyuruh seseorang mengikuti kita?" tanya Nathan menatap Heera tajam.
Heera dengan cepat menggeleng,"Lalu? me--
Belum selesai ucapan Nathan, mobil yang disangka Nathan mengikuti mereka sudah masuk ke sebuah gapura.
"Awas jika kau berani macam-macam!" ancam Nathan.
Di sisi lain......
"Huh! untung nggak ketahuan!" ucap Mervan,beruntung ia sempat menyadari kalau Nathan curiga dengan mobil mereka. Akhirnya Ia berbelol ketika ada sebuah gapura.
"Baiklah!" jawab Mervan sembari menggeleng pelan, Daniel sejak dulu selalu tidak sabaran.
Mereka kembali mengikuti mobil Nathan, hingga mobil Nathan masuk ke area hutan.
"Kemana? mobilnya?" tanya Daniel.
"Entahlah, ayo turun!" jawab Mervan.
Bugh
Bugh
suara pintu yang ditutup oleh Daniel dan Mervan. Mereka menyusuri area itu dengan teliti, siapa tau mobil Nathan terparkir tidak jauh dari mereka.
"Kemana mereka!" gerutu Daniel.
"Niel! lihat ini!"teriak Mervan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Turun!"bentak Nathan dengan menyeret kasar tubuh Heera agar keluar dari mobil.
"Jalan!" perintah Nathan.
Heera dibawa bak tahanan oleh Nathan,penjaga di sana menunduk ketika Nathan berjalan di hadapan mereka.
__ADS_1
Tiba di sebuah ruangan, dengan sengaja Nathan mendorong tubuh Heera.
"Ikat dia! jangan sampai dia bisa kabur dari sini!" perintah Nathan.
Dua orang penjaga mengikat Heera di sebuah kursi. Nathan mendekat pada Heera yang sudah tidak bisa bergerak, mata Heera menatap tajam padanya.
Plak
Plak
"Singkirkan mata tajammu!" bentak Nathan, setelah menampar dua pipi Heera.
"Kau, lihat ini! aku tidak akan pernah melepaskanmu dari sini! aku akan membuatmu menderita! sangat menderita!" ucap Nathan sambil mencapit pipi Heera, sehingga bibirnya mengerucut, meski tertutup lakban.
Nathan memperhatikan dengan seksama wajah Heera, terlihat pipi kanannya membengkak, karena tamparan yang ia berikan, Nathan menyeringai senang, bisa membuat Heera menderita.
Tangannya menengadah, anak buahnya yang paham lantas memberikan sebuah cambuk pada Nathan.
Ceprettt
Ceprettt
"Sssh." Heera hanya bisa meringis saat Nathan memberikan dua cambukan di tubuhnya.
"Menangislah! Hah! kenapa kau tidak menangis juga? aku sangat ingin melihat air matamu!" bentak Nathan.
Bukannya menangis, Nathan malah mendapatkan tatapan meremehkan dari Heera dan itu membuat Nathan sangat kesal.
Ia memegang rambut Heera,membuat wajah Heera mendongak ke atas.
"Kenapa kau tidak menangis juga, Hah?jika dulu, kau pasti akan langsung menangis walau hanya tergores duri kecil! kenapa kau tidak menangi!?" bentak Nathan dengan mata melotot, Heera hanya bisa membalas mata tajam Nathan.
Nathan sangat kesal, karena yang ia inginkan,Heera menangis, kalau bisa sampai bersujud di kakinya.
Heera malah terkekeh melihat ekspresi Nathan dan itu semakin membuat amarah yang ada dalam diri Nathan berkobar.
Ia melepaskan jambakannya, pada rambut Heera.
Ceprettt
Ceprettt
Ceprettt
beberapa kali cambukan Nathan berikan pada Heera, dan itu membuat Heera memejamkan matanya, menahan sakit yang mendera.
Puas melihat Heera kesakitan, Nathan keluar dari ruangan itu.
"Awasi Dia! jangan sampai dia bisa lolos dari sini!" perintah Nathan pada anak buahnya.
"Baik Bos!" jawab mereka.
Heera hanya bisa menatap kepergian Nathan dengan sendu, sungguh sebagian hatinya masih terisi oleh Nathan dan sangat menyakitkan ketika melihat Nathan malah menyiksa dan menyakitinya sampai seperti ini.
Tinggalkan jejak....
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Makasih buat yang udah mau mampir😘