Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 74: LISTIA DAN LIONEL HARISH (REVISI)


__ADS_3

Telinga Heera panas sekali sekarang, rasanya Heera ingin menyumpal mulut Kai yang mendadak cerewet seperti kaleng rombeng. Tapi, itu tidak bisa dilakukan Heera. Karena tangan dan kakinya terikat di kursi.


"Kau itu seharusnya tidak melawan mereka tadi, ah jadi begini, 'kan?"gerutu Kai yang sekarang tengah duduk dengan kaki dan tangan terikat di kursi yang memunggungi kursi Heera.


Heera memutar bola matanya malas, sudah berapa kali ucapan itu keluar dari mulut Kai.


"Sudah aku bilang, aku tidak tahu! Kalau kau memberitahu aku sebelumnya, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya!"sanggah Heera.


"Tetap saja, seharusnya kau ti–


"Hei,Kenapa dari tadi kalian berantem terus??"


Kai dan Heera mengalihkan pandangan ke arah pintu di mana Listia dan Lionel tengah berdiri.


Listia berkacak pinggang menatap mereka, sedangkan Lionel berdiri dengan tangan disimpan di belakang membuat Kai memutar bola matanya malas.


"Cepat jawab! Kenapa kalian tidak berhenti bertengkar??"tanya Listia lagi, kali ini matanya melotot.


Heera tersenyum canggung pada orang yang menjadi mertua nya itu. Dia sangat malu tadi karena sudah menyerang orang yang menjadi mertuanya. Heera kira orang yang berpakaian serba hitam itu adalah orang jahat, nyatanya bukan.


Mereka adalah Lionel dan Listia yang merupakan orang tua kandung Kai. Mereka beralasan menyamar dan menyerang Heera dan Kai karena ingin mengetes mereka. Dan karena itulah Kai kesal padanya. Karena mereka jadi tertangkap dan diikat oleh Listia dan Lionel. Tapi Heera tidak mau disalahkan, siapa suruh mereka menyamar dengan pakaian serba hitam seperti itu? Bukankah orang yang dihadang dengan orang yang berpakaian serba hitam dan mencurigakan akan khawatir dan refleks mempertahankan diri? Dia hanya mempertahankan diri, ingatkan itu pada Kai.


“Apa kalian bisu?” tanya Listia.


Huft


“Tentu saja tidak!” sanggah Kai dengan nada ketus.


“Aduh…sakit…mam…,” ringis Kai saat Listia menjewer kupingnya.


“Awas…kau yah! Berani bicara ketus lagi pada mam?” Listia makin mengeratkan jewerannya dikuping Kai.


“Mam…sakit…! Kau KDRT pada anakmu! Kau juga menganiaya anak dan menantumu, mam…,” ringis Kai.


“Jangan lebai…!” cibir Lionel.


“Iyah, kau itu lebai sekali…Kai,” ucap Listia, tangannya masih setia di kuping Kai.


Kai hanya memutar bola matanya, memangnya dia punya jiwa lebai itu dari siapa? Kalo bukan dari mama dan papa nya?


Heera hanya bisa tersenyum tipis, keluarga ini begitu hangat. Tapi, mengapa begitu aneh sampai anak dan menantunya mereka ikat seperti ini?


“Mam,Pah? Kenapa kalian malah mengikat kami seperti ini?? Tidakkah kalian melepaskan kami??” tanya Kai.


Listia melepaskan jewerannya di kuping Kai,lantas menatap Kai dan Heera bergantian.


Huft


“Tidak sebelum kalian berbaikan!” tegas Listia.

__ADS_1


“Kalian itu suami istri, kenapa malah bertengkar? Meski pernikahan karena urgent,alisan darurat dan karena digre—


“Mam…? Kenapa harus sejelas itu? Lagi pula, aku dan Heera tidak seperti itu? Kami bahkan tidak saling mengenal,” ketus Kai.


Listia memutar bola matanya.


“Bukankah, mam tadi bilang begitu? Tadi mam bilang kalian menikah karena urgent,’kan?” sanggah Listia karena tidak ingin disalahkan.


“Ya,ya,ya, terserah mam saja!”


Kai malas mendebat mamnya itu.


“Baguslah kalau kau mengerti!” ucap Listia, kemudian menggamit tangan Lionel dan mengajaknya keluar dari ruangan mereka menyekap Heera dan Kai.


“Hei? Kalian mau kemana? Lepaskan kami! Mam…?” teriak Kai.


“Selesaikan dulu pertengkaran kalian! Baru setelahnya mam dan papa bakalan bukain ikatan kalian!” teriak Listia sambil menutup pintu ruangan dimana Heera dan Kai disekap.


Ck


Kai berdecak,kesal sekali dia…kapan sifat mamnya tidak berubah- berubah? Dari dulu,dia selalu saja menggunakan cara yang aneh hanya untuk membuatnya mengerti dan memahami sesuatu.


“Apa mereka selalu seperti ini?” tanya Heera.


“Seperti ini bagaimana?” Bukannya menjawab,Kai malah balik bertanya.


“Yah,ini…mereka melakukan ini agar kita berdamai dan menyadari kesalahan kita,bukan?” jawab Heera.


Heera menganggukkan kepalanya paham.


“Kau bisa lepaskan ikatanku?” pinta Kai.


Heera sedikit melirik pada Kai, posisi mereka saling memunggungi seharusnya bisa untuk saling membukakan ikatan.


“Biar kucoba,” ucap Heera. Dia mencoba mendekatkan kursinya pada Kai,setelah itu dia mencoba membuka ikatan tali yang mengikat tangan Kai.


“Bisa tidak…?” gerutu Kai, karena Heera lama sekali hanya untuk membuka ikatan talinya.


“Sabar, ini juga agak susah!” kesal Heera.


“Kau saja yang lelet!” ketus Kai.


Mendengar ucapan Kai,membuat Heera makin kesal dengan sosok yang menyandang gelar sebagai suaminya itu. Sudah dia bilang,dia kesusahan untuk membukanya…kenapa masih saja menggerutu?Mengganggu konsentrasi saja.


“Kau saja yang bukakan kalau begitu!” ketus  Heera yang menyerah membukakan ikatan tali Kai.


“Oke! Aku akan melepaskan ikatanmu dan pasti akan cepat terbuka,tidak seperti dirimu yang lelet!” ucap Kai dengan nada merendahkan Heera, Kai lantas mencoba membukakan ikatan di tangan Heera. Sepuluh menit berlalu tetapi Kai masih belum bisa membuka ikatannya.


“Mana…? Katanya bisa…?” cibir Heera.

__ADS_1


“Ini hanya kesalahan teknis saja!” sanggah Kai yang masih berusaha membuka ikatannya.


“Pasti akan cepat terbuka…tidak seperti dirimu yang lelet…,” cibir Heera lagi dengan suara yang agak dimenye-menye.


“Itu memang benar! Kau memang lelet, aku pasti bisa…ini hanya kesalahan teknis…,” ucap Kai dengan sedikit mengeram,pasalnya kini dia tengah menarik talinya.


“Akh…! Bisa juga,’kan?” ucap Kai saat dia sudah bisa membuka ikatan talinya.


Heera memutar bola matanya,lantas mengusap-usap lengannya yang sedikit sakit. Setelahnya dia melepaskan ikatan di kakinya.


“Oke, terimakasih!” ucap Heera lantas berdiri dan hendak berjalan ke arah pintu,tetapi teriakan Kai menghentikannya.


“Mau kemana kau…? Bantu aku!!” teriak Kai dengan wajah kesalnya.


Heera berbalik dan menatap jengah pada Kai.


“Kalau aku tidak mau?” tanya Heera dengan nada mencibir.


Kai menatap Heera dengan mata melotot dan hidung hampir mengembang sempurna. Mungkin sebentar lagi bisa meledak.


“Cepat kemari kau!! Aku sudah membantumu dan sekarang kau harus membantuku!!” teriak kai.


Heera malah merenggang-renggangkan kaki dan tangannya,setelahnya dia menatap Kai malas.


“Takut lama kalo aku yang bukain,” ucap Heera. Dia lantas hendak berbalik tetapi lagi-lagi teriakan Kai disusul kursi Kai yang terjatuh menghentikan Heera.


“Heera,awas kau…!”


Bruk


Mata Heera membulat sempurna melihat Kai jatuh ke lantai, setelahnya dia malah tertawa keras membuat Kai mendengus.


“Hahaha…Kau sedang apa di bawah sana…Kai??” tawa Heera pecah seketika.


“Bantu aku! Bukannya malah tertawa! Dasar Kau istri durhaka…Heera…!!” teriak Kai dengan marah merah padam.


Dengan sisa tawanya,Heera lantas membantu Kai dengan cara membangunkan kursinya,namun karena bobot Kai yang berat serta Heera yang masih tertawa membuat Kai dan kursinya kembali jatuh.


“Aduh…Heera…! Apa kau tidak bisa melakukannya lebih baik lagi…?” teriak Kai yang harus jatuh untuk kedua kalinya.


Heera hanya meringis,namun masih tertawa lucu dengan apa yang terjadi pada Kai,itulah akibatnya kalau terlalu sombong.


Disisi lain, Lionel dan Listia yang memperhatikan dari kamera CCTV hanya menghela nafas,bukannya berbaikan mereka malah kembali bertengkar.


“Anakmu!” ucap Listia.


“Dia juga anakmu,sayang…,” jawab Lionel tidak terima.


“Kau berani padaku?” ucap Listia dengan mata melotot.

__ADS_1


Lionel memelas,dia lantas memeluk Listia dengan erat.


“Tentu saja tidak…sayang….”


__ADS_2