Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Gawat Darurat


__ADS_3

"Dokter! siapkan ruangan untuk Heera..!" teriak Kai, mereka kini sudah berada di Harish Hospital, yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian.


"Selamatkan dia!" teriaknya lagi, sambil menggendong Heera, karena ia enggan menunggu petugas yang tadi sedang mengambil bangsal.


Dokter dan beberapa suster, berlari ke arah Kai dengan membawa bangsa.


"Letakkan dia di sini, Tuan!kami akan melakukan tindakan," ucap si dokter.


Tanpa berlama-lama, Kai menaruh Heera di bangsal itu. Ia menatap sendu pada Heera yang berlumuran darah, sama seperti dirinya yang harus terkena darah Heera.Karena tadi Ia berusaha memberikan pertolongan pertama, dengan mengehentikan pendarahan pada luka tembak Heera.


"Bawa pasien ke ruang ICU!"


Heera yang setengah sadar, sempat tersenyum pada Kai,sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu ICU itu.


Kai tertunduk lesu, air matanya berusaha ia tahan. Sungguh, melihat Heera seperti itu, membuat hatinya sakit, ingin rasanya menggantikan posisi Heera.


Kai mengepalkan tangannya, ia berjanji akan membalas Nathan secepatnya.


"Tuan Kai! bagaimana Nona?" tanya Ray dengan suara terengah.


"Dia sedang ditangani! apa Nathan berhasil kalian tangkap?" tanya Kai datar.


"Maaf, Tuan!" ucap Ray sambil tertunduk, ia tidak mengeluarkan banyak alasan, cukup hanya dengan mengakui bahwa ia lalai, sehingga Nathan bisa kabur. Meski, pada kenyataannya, Nathan sudah menyiapkan rencana cadangan jika terjadi hal yang tidak diinginkan dan karena itulah, Ray gagal menangkap Nathan.


Kai berusaha menahan amarahnya, ia tidak boleh kehilangan kesabaran dan membuat semuanya kacau.


"Kau jaga Heera disini! aku akan bertindak!" ucap Kai dan tanpa menunggu jawaban dari Ray, Kai bergegas pergi.


"Tuan sebentar!" ucap Ray, mencegah kepergian Kai.


"Kau berani melarangku, Ray?" tanya Kai datar.


"Bukan seperti itu, Tuan! tapi, sebaiknya Anda mengganti pakaian Anda terlebih dahulu!"


"Tidak perlu! ini bisa jadi sebuah bukti!" jawab Kai sambil berbalik,dan melanjutkan langkahnya.


Ray hanya bisa menghela nafas melihat kepergian Kai.


Ray berjalan menuju kursi tunggu di depan ruang ICU, dalam hati Ia berdo'a supaya nona Heera cepat sembuh, apalagi Ray sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri, mungkin terdengar lancang, seorang bawahan menganggap istri bosnya sebagai adiknya, namun Ray terlanjur menyayangi Heera.


Kai turun dari mobilnya,kini Ia tengah berada di parkiran kantor polisi dan ia bertemu dengan Mervan, Daniel dan Ajeng.


"Lo mau kemana??" tanya Ajeng mencegah Kai.


"Melaporkan! apalagi?" ucap Kai datar.


"Kita nggak bisa jeblosin Nathan kepenjara!" ucap Mervan.


Kai menaikan sebelah alisnya "Apa maksudnya?" kesal Kai.


"Nathan bergerak cepat, dia membayar seseorang untuk mengaku sebagai pelaku penculikan dan penembakan pada Heera!"


Mendengar itu, amarah Kai, makin berkobar. Ia lantas masuk ke dalam kantor polisi.


"Yah,Yah! Kai!" teriak Ajeng, namun Kai tidak

__ADS_1


Kai menemui petugas di sana.


"Saya ingin bertemu dengan pelaku penculikan dan penembakan terhadap istri saya!"


"Anda bisa bicara dengan pengacara saya," tambah Kai dan persis saat Kai, mengatakan itu, pengacaranya sudah datang ke sana.


"Kau urus semuanya!" perintah Kai pada pengacaranya.


"Baik Tuan!" jawab pengacara itu.


Kai pun membiarkan pengacaranya berdiskusi dengan petugas polisi itu. Hingga akhirnya Kai diperbolehkan untuk menemui orang yang mengaku penculik Heera.


"Katakan! berapa Nathan membayarmu?"tanya Kai, iya dan pengacaranya kini tengah menemui orang suruhan Nathan itu.


" Tidak! memang saya yang menculik dan menembak Heera!"jawab orang itu cepat.


Kai tersenyum sinis, lantas terkekeh "Benarkah? di bagian mana kau menembak Heera? apa tujuanmu menculik dan menembak Heera, heh? ada siapa saja saat peristiwa penembakan itu? apa kau bisa menjawab semuanya??" tanya Kai beruntun.


Orang itu terlihat mengepalkan tangannya, ia kemudian berkata, "Aku menembak Heera tepat dibahunya, tujuanku menculik Heera, tentu saja karena ingin menjualnya! saat penembakan bukanlah kalian juga ada?"


Brak


" Jangan berbohong!"bentak Kai


"Tuan, tenangkan diri Anda! jika tidak kita bisa dituduh mendikte pelaku untuk melakukan hal yang kita mau! kita harus persiapkan ini dengan matang,"


Mendengar bisikan pengacaranya, Kai lantas kembali duduk.


"Cepat katakan sejujurnya! agar pelaku sebenarnya dapat ditangkap!"


Orang suruhan Nathan masih keukeuh dengan pendirinya.


"Berapa uang yang kau inginkan??" tanya Kai.


"Kau, bisa melakukan apapun yang kau mau, Tuan! tapi tidak untuk memaksaku! jika Anda masih memaksa saya, saya akan melaporkannya pada petugas!" jawab orang itu santai.


"Cepat! katakan yang sebenarnya!" ucap Kai sambil memegang kerah orang itu dan bersiap memukulnya, namun petugas polisi dan pengacaranya menahan tangan yang hendak memukul orang suruhan Nathan.


"Anda tidak boleh melakukan keributan di sini, Tuan! apalagi sampai memukul tahanan kami!" ucap polisi itu.


"Kau!" kesal Kai


"Sudahlah Tuan! Anda tidak bisa berbuat banyak, ini dikantor polisi!" bisik si pengacara.


Akhirnya, Kai hanya bisa keluar dengan tangan kosong.


"Gimana? bisa? lo bisa buktiin tuh orang cuman ngaku-ngaku?" tanya Ajeng cepat, begitu Kai sampai di parkiran.


Ajeng, Mervan dan Daniel sengaja tidak pulang tadi dan memilih menunggu Kai.


"Gimana?" tanya Ajeng lagi.


"Tidak bisa! kita harus cari jalan keluar lain!"jawab Kai, mata Kai lantas beralih pada pengacaranya.


"Tuan Pram! terimakasih sudah datang cepat dan mendampingi saya barusan!"

__ADS_1


"Tidak masalah, Tuan! itu sudah menjadi tugas saya!"


"Kalau begitu saya pamit!" ucap Pram


"Silahkan!"


Kai lantas hendak memasuki mobilnya, namun Ajeng kembali mencegahnya.


"Lo mau kemana?" tanya Ajeng


"Menemui Heera, kemana lagi?"


Tanpa mendengarkan jawaban Ajeng, Kai lantas pergi.


"Ajeng! buruan!" teriak Daniel yang sudah berada di dalam mobil.


Ajeng lantas ikut naik, mereka pun pergi meninggalkan kantor polisi.


Di sisi lain, Nathan menyeringai senang karena setidaknya Ia bisa mencelakai Heera, walau tidak bisa menyekap dan menyiksanya setiap hari, setidaknya Ia bisa membuat Heera kesakitan.


"Kau bisa lolos kali ini, Heera! tapi, untuk kedepannya, jangan harap!" ucap Nathan, sambil melihat sebuah poto milik Heera.


"Balas dendamku belum beres! akan kupastikan Kau menderita Heera!"


Brak....


...****************...


"Ray!" panggil Kai.


Ray yang masih setia menunggu, lantas melihat ke asal suara.


"Tuan!"


"Bagaimana? apa sudah selesai?" tanya Kai


"Masih belum Tuan!"


Kai hanya bisa melemaskan kakinya, kemudian duduk di sebelah Ray.


Ajeng, Mervan dan Daniel yang baru tiba,langsung duduk bersama Ray dan Kai.


"Bagimana keadaan Heera?" tanya Daniel.


"Masih ditangani, Dokter!"


Daniel mengusap kasar wajahnya, mengapa masih lama? pikirnya Ia ingin segera bertemu Heera.


Tut...


Ponsel Kai berbunyi, Kai lantas melihat si penelpon.


"Halo, Ma?" tanya Kai


"Kai! bagaimana keadaan Heera?" tanya orang di seberang yang tidak lain adalah Listia.

__ADS_1


"Tenanglah Ma! Kai akan berusaha sekuat tenaga, agar Heera bisa sehat kembali!"


__ADS_2