Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 76: SOFA ROBOH, LISTIA HEBOH (REVISI)


__ADS_3

Heera dan Kai sekarang tengah berada di kamar milik Kai yang ada di mansion ini. Mereka berdiri dengan tangan saling menunjuk satu sama lain. Mereka kini tengah bersitegang karena satu pun dari mereka tidak ada yang mau mengalah.


Sebenarnya di sini Heera yang mencari masalah, dia enggan untuk tidur seranjang dengan Kai dan dia menyuruh Kai tidur di atas sofa. Kai sebenarnya bisa saja tidur di atas sofa, namun menurutnya lebih baik mencari masalah lagi dengan Heera. Lumayan dia bisa dekat lagi dengan Heera,bukan? Dengan berdebat dengan Heera, dia juga bisa memenangkan pertengkaran dan tidur seranjang dengan Heera, bukan…? Rencana bagus, Kai…sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Begitulah kira-kira pemikiran Kai sekarang.


“Kai! Kau tidur di kursi!” Heera menunjuk sofa panjang yang terdapat tidak jauh dari posisi mereka berdiri sekarang.


Kai melihat sofa yang Heera tunjuk, lantas menatap Heera. Dia kemudian mengangkat telunjuknya dan menebas telunjuk Heera.


“Enak saja! Kau yang tidur di sana! Ini kamarku dan aku adalah rajanya!” ucap Kai tidak mau kalah.


“Kau!” Heera kembali memberikan telunjuknya, membuat Kai memelototkan matanya dan kembali menebas telunjuk Heera. Kai memetik jarinya dua kali kemudian menyuruh Heera minggat dan tidur di kursi.


Mulut Heera misuh-misuh, dia tidak ingin tidur bersama Kai. Dia masih marah pada Kai, ingatkan Heera tentang hal itu.Kai melipat tangan di dadanya, dia yakin dialah yang akan menang kali ini dan Heera akan tidur seranjang dengannya, tetapi dugaan Kai salah. Heera kini malah mengambil bantal dan selimut lantas berbaring di atas sofa panjang itu, tubuh Heera memunggungi Kai dengan selimut hampir menutupi seluruh tubuhnya. Heera pura-pura memejamkan matanya, dia senang pasti sekarang Kai sedang kesal sekali padanya dan itu membuat Heera bahagia. Di pikir dia tidak tahu apa,kalau Kai hanya ingin membuatnya kesal saja? Haha, rasakan itu batin Heera.


Heera merasa senang dan menang sekarang, tapi dia salah. Kai tidak segampang itu menyerah, karena sekarang Kai malah ikut membaringkan tubuhnya di sofa dan berdempetan dengan tubuhnya. Tangan Kai kini melingkar sempurna di tubuhnya membuat Heera risi saja.


“Kai…? Apa yang kau lakukan…?” kesal Heera, dia hendak bangun tetapi Kai malah makin mengeratkatangannya, tidak hanya tangan tapi kakinya pun Kai lingkarkan pada tubuh Heera, membuat Heera pengap saja.


“Kau bangun kita jatuh berdua!” ancam Kai dengan mata terpejam. Kai bisa rasakan sekarang tubuh Heera tidak banyak bergerak lagi dan itu membuatnya tersenyum tipis,namun dugaan Kai salah Heera terdiam karena dia tengah mengambil ancang-ancang dan….


Bugh


Bruk


“TUBUHKU…!” ringis Kai saat Heera menendang tubuhnya dan membuat tubuhnya terjatuh ke lantai. Kai mengusap-usap bokongnya yang terasa nyeri sekali sekarang.


“Hahaha…rasakan itu.” Tawa Heera pecah, lucu sekali melihat Kai terjatuh seperti itu.

__ADS_1


“Kau KDRT, Heera!”


Kai menatap penuh kesal pada Heera, dia dengan sengaja malah menendangnya. Kai pikir kenapa sekarang Heera menjadi sangat berani sekali padanya? Dulu dia rasa Heera itu bak kucing penurut yang takut padanya, tapi sekarang…? Dia bagai kucing liar.


Kai lantas bangun dan hendak menyerang Heera, tetapi Heera malah berlari. Akhirnya, mereka berlarian di kamar itu. Heera begitu licin membuat Kai tidak dapat mengejarnya.


“Kejar kalau bisa, Kai…!” teriak Heera dengan lidah menjulur membuat Kai sangat kesal. Kai berlari secepat mungkin, dia lantas meloncat dan menerjang tubuh Heera.


“Kyaaa…Kaii---


Bruk


Kreket…


BRAAAKK


“Kai…? Heera…? Suara apa itu?” teriak Listia dari luar kamar.


Kai dan Heera saling tatap, posisi mereka sekarang begitu pas sekali untuk dijadikan bahan tertawaan. Kai dan Heera persis berada di dalam sofa,maksudnya…saat Kai menerjangnya tadi, Kai membuat tubuh dirinya dan tubuh Kai terjatuh di atas sofa, parahnya sekarang sofa tersebut roboh dan mereka berdua berada di dalamnya.


“Kau sih, Kai…! Ini salahmu!” ucap Heera begitu kesal pada Kai,mana sekarang punggungnya terasa begitu sakit.


“Jangan menyalahkanku! Kau juga salah jika kau tidak membuatku jatuh da—


Ceklek


“Kai? Heera? Kalian dimana?” ucap Listia yang baru saja masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Mata Kai dan Heera membulat sempurna, mereka tidak ingin sampai  Listia melihat posisi mereka, bisa dikira mereka sedang apa nanti. “Ya ampun…? Heera…? Kai…? Kalian sedang apa…?” ucap Listia dengan sedikit menahan tawa. "kalian benar-benar membuat mam gemas...," ucap Listia dengan heboh.


Kai dan Heera memejamkan mata mereka, telat deh. “Apa setidak sabar itu kalian ingin memberikan cucu pada kami?” tanya Listia.


Kai dan Heera mengernyit,kami? Jangan bilang…jika Lionel juga melihat posisi tidak enak dipandang mereka?


Heera dan Kai menatap kea rah Listia dan bahu mereka lemas seketika saat melihat di sana ada Lionel pula. Listia terlihat menahan tawanya.


Ekhem


“Apa kalian akan terus berada di posisi itu?” tanya Lionel tegas, tetapi Kai bisa melihat tatapan mencibir yang ayahnya itu lontarkan. Ditanya seperti itu oleh ayah mertua membuat Heera merasa


sangat malu sekarang. Dia lekas hendak bangun, tetapi perkataan Listia malah kembali membuatnya malu.


“Ah…tidak apa-apa,tidak apa-apa…lanjutkan lagi saja! Kami akan pergi dari sini,” ucap Listia, kemudian buru-buru membawa Lionel keluar dari ruangan tersebut.


Plak


“Ini semua gara-gara dirimu Kai!” kesal Heera pada Kai.


“Sudah kukatakan, ini bukan salahku!” sanggah Kai.


Heera ingin bangun lagi tetapi, tidak bisa karena tubuh Kai berada di atas tubuhnya.


“Kai…?” Heera mengeram kesal pada Kai.


“Apa? Bukannya mam bilang lanjutkan saja?”

__ADS_1


Bugh


__ADS_2