
Di ruang kerja Kai yang ada di rumah milik Kai di negara H, Kai dan Heera tengah mencoba meretas data seseorang yang diduga berkaitan dengan ibu kandung Heera. Mereka mencoba mencari tahu lebih dalam, siapa tahu ibu kandung Heera itu ada di negara ini.
“Apa kau yakin kita akan menemukan datanya?” tanya Heera dengan jari-jari lentiknya yang sibuk menari nari di atas papan ketik.
“Tentu saja, kita akan berhasil. Coba saja dulu, kita belum tahu seperti apa hasilnya jika kita belum mencoba,” jawab Kai yang tengah
berdiri di samping kursi yang Heera duduki dengan tangan yang sengaja Kai simpan di sandaran kursi.
“Kau benar,” ucap Heera. Mata Heera begitu fokus pada layar di depannya. Dia tidak ingin kehilangan apapun, jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun.
Kening Heera menyatu dengan wajah yang perlahan terlihat kesal. “Apa yang? Kai? Apa-apaan ini?” tanya Heera dengan raut wajah kesal.
Kai menggaruk belakang kepalanya, bagaimana informasi yang dia dapat tidak akurat seperti itu?
__ADS_1
“Tunggu dulu, bagaimana bisa informasi yang aku terima tidak akurat begini? Kau minggir sebentar!” Kai mengambil alih dan dia coba untuk meretas kembali, tetapi data yang dia dapat sama dengan data yang Heera dapat.
Heera menatap datar pada Kai, apa-apaan ini? Kenapa merekamalah meretas data orang gila yang menjadi pasien rumah sakit jiwa? Benar-benar membuang waktu, pikir Heera. Kai meringis menatap Heera, yah mana dia tahu kalau info yang dia dapat tidak akurat?
“Aku yakin ada kesalahan disini. Aku akan memanggil anak buahku yang memberikan info tidak akurat ini,” ucap Kai sambil memencet tombol intercom yang ada di ruangannya. Kai tersenyum manis pada Heera yang memasang wajah datar. Kai berharap anak buahnya segera masuk kemari dan dia bisa memarahi mereka sepuasnya. Baru saja Heera dan dirinya berbaikan, masa sekarang harus kembali bertengkar hanya karena masalah ini?
Tok…tok…
“Masuk!” perintah Kai.
Pintu terbuka dan terlihat dua anak buah Kai masuk ke dalam, mereka mengangguk sopan pada Kai dan Heera.
“Katakan, bagaimana bisa data ini tidak akurat? Bagaimana bisa kalian malah memberikan data orang gila pada kami dan bukannya data orang yang kemungkinan mempunyai hubungan darah dengan Heera?” tanya Kai tegas dan tatapan tajam.
__ADS_1
Kedua anak buah Kai menunduk. “Tapi, data yang kami kumpulkan itu sudah akurat Tuan,” ucap salah satu dari anak buah itu.
“Akurat bagaimana? Kalian lihat itu!”
Kedua anak buah Kai menatap data yang ada di dalam computer, kemudian mereka saling menatap.
“Memang itu datanya, Tuan.”
Kai dan Heera menatap tidak percaya pada kedua anak buahnya. Bagaimana bisa mereka bilang itu datanya? Bagaimana bisa orang yang sering di temui mami dan papinya adalah orang gila itu?
“Jangan bermain – main dengan kami!” tegas Heera membuat kedua anak buah Kai sedikit segan. Mereka tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana, mereka hanya melakukan apa yang diperintahkan.
“Kami tidak bermain-main, Tuan.” Akhirnya hanya kata itu saja yang bisa kedua anak buah itu katakan.
__ADS_1
Kai dan Heera saling menatap. Ada yang harus mereka pecahkan di sini.
Di sisi lain, Ajeng dengan penyamarannya kembali menyamar menjadi Mesti karena Nathan agency dan mencari-cari dirinya. Ajeng perlahan masuk ke dalam restoran yang Nathan pesan. Dia harus pura-pura menjadi Wanita yang lembut dan penuh keanggunan. Sungguh susah sekali.