Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Menggiring Nathan


__ADS_3

Nathan tengah berada di ruang kerjanya, mengepalkan tangannya kala melihat sebuah berita yang memberitakan nama Ishani yang meninggal tiga tahun lalu dan yang paling membuatnya kesal adalah karena dalam berita tersebut dikabarkan kalau Ishani saat itu tengah mengandung.


"Apa-apaan ini? Ishani tidak dalam keadaan mengandung saat itu!" desis Nathan. Ia lantas bangkit dari duduknya.


Nathan keluar dari ruang kerjanya dengan tergesa, ia bahkan mengabaikan panggilan Sekretarisnya.


Nathan melangkah keluar dari gedung perusahaannya, ia tidak sadar tengah diawasi oleh anak buah Kai.


Nathan lantas masuk ke dalam mobil,tujuannya kini adalah untuk pergi ke Rumah Sakit dimana jasad Ishani di autopsi. Tetapi, saat ia hendak menancap gas, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.


Ting


Mata Nathan melotot, saat melihat video wanita yang diblur, wanita tersebut mengatakan kalau Ishani dan pengusaha bernama Baron Candramaya terlibat hubungan dan yang menyebabkan Ishani bunuh diri adalah karena Baron tidak mau bertanggungjawab dengan kehamilannya.


Tangan Nathan mengepal,"Lelucon apa ini?"geram Nathan. Ia lantas melempar ponselnya ke jok sampingnya, ia menancap gas. Amarahnya mencuat, ia mengubah tujuannya.


Setengah jam kemudian Nathan sampai di sebuah gedung agency, ia jelas tau siapa wanita dalam video, meski wajah wanita itu di blur.


Heera dan Ray yang sudah standby di ruang CCTV menyuruh Ajeng untuk bersiap-siap.


Heera menekan tombol earphones, yang tersambung pada Ajeng.


"Bersiap-siaplah, Nathan baru saja masuk!" ucap Heera.


Ajeng yang sudah siap dengan penampilannya yang berubah 180 derajat,kaos oblong, kemeja serta jeans yang selalu melekat di tubuhnya berganti dengan mini dress yang begitu indah di tubuhnya. Wajahnya pun dirubah tak seperti Ajeng biasanya, rambutnya dibiarkan tergerai indah.


"Apa gue bisa?" tanya Ajeng sedikit gugup.


Ray yang memperhatikan dari CCTV tertawa, ia senang bisa menertawakan Ajeng yang gugup setengah mati.


"Si mulut sambel ketawa?" gerutu Ajeng, Heera melotot pada Ray. Membuat Ray mati-matian menahan tawa.


"Tidak, Ajeng! Kak Ray tidak tertawa sama sekali! Ayo, kau pasti bisa seperti yang sudah aku ajarkan. Ingat jangan gue, lo tapi aku, kamu atau Anda,saya.Oke?" tanya Heera.


"Hem ...." Ajeng hanya bergumam, ia sebenarnya sangat malas.


"Bersiap! Nathan mendekat!" ucap Ray cepat, membuat Ajeng buru-buru merapikan penampilan dan Heera mendekat pada kamera CCTV.


Heera dan Ray memperhatikan Nathan yang berjalan dengan tergesa.

__ADS_1


Nathan mengepalkan tangannya, ia hendak menemui sahabat Ishani bernama Rani. Ia tidak akan percaya begitu saja dengan berita yang berseliweran, apalagi itu tentang kekasih tercintanya, Ishaninya. Nathan kini menuduh Rani sengaja memfitnah Ishani.


Bruuukk....


Dengan lihai Ajeng menabrak tubuh Nathan, seakan-akan ia memang tidak sengaja menabrak Nathan. Nathan dengan sigap menahan tubuh Ajeng.


Pandangan mereka bertemu, mata keranjang Nathan tentu saja begitu tergoda melihat wajah cantik Ajeng.Berbeda dengan Ajeng yang gedeg setengah mati melihat tatapan menyebalkan Nathan.


Ray terkekeh melihat ekspresi Ajeng, "Lihat wajahnya seperti hendak memakan Nathan hidup-hidup" ucap Ray. Ajeng yang dapat mendengar tawa Ray lewat earphones merasa sangat kesal, awas kau! Dasar mulut sambel, gerutu Ajeng dalam hati.


Ajeng buru-buru bangun, ia menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Ajeng tersenyum tipis, kepalanya mengangguk pada Nathan. "Terimakasih Tuan," ucapnya dengan suara lembut.


Ray lagi-lagi tertawa,bahkan sampai terbahak. Heera buru-buru membekap mulutnya, ia tidak ingin karena tawa Ray membuat Ajeng terpancing emosi dan menggagalkan semua rencana mereka.


"Kak Ray! Diem!" bisik Heera. Tapi, Ray masih belum bisa menahan tawanya.


Ajeng mengepalkan tangannya, ia tidak suka mendengar tawa Ray, namun sebisa mungkin ia menampilkan wajah manis penuh senyuman.


Nathan memperhatikan Ajeng dengan seksama, ia begitu mengagumi kecantikan Ajeng, apalagi sikapnya mengingatkan ia pada Ishani.


"Nathan!" ucap Nathan ia mengulurkan tangannya.


Ajeng menatap Nathan dengan salah tingkah, bibirnya tersenyum canggung, matanya menatap Nathan. Nathan menganggukkan kepalanya, melihat tingkah malu-malu Ajeng membuat Nathan gemas.


"Siapa namamu manis?" bisik Nathan.


"A--Pramesti, Anda bisa memanggilku Mesti, Tuan," jawab Ajeng sedikit gugup, hampir saja ia keceplosan mengatakan nama aslinya.


"Nama yang indah," bisik Nathan.


cup


Dengan tidak sopan, Nathan mengecup rambut Ajeng yang tergerai dengan indahnya. Hampir saja Ajeng menendang perut Nathan, jika saja Heera tidak memperingatkannya.


Ray terpaku saat Nathan mengecup bahu Ajeng, ia bingung dengan hatinya kini. Namun, bisa ia pastikan, kalau kini ia tengah kesal karena sikap kurang sopan Nathan.


Ajeng buru-buru melepaskan tubuhnya dari pelukan Nathan. Wajahnya menyiratkan kemarahan, namun saat Nathan menatapnya sesegera mungkin Ajeng tersenyum semanis madu.


"Saya permisi Tu--

__ADS_1


" Nathan! Panggil namaku, Nathan."Nathan dengan cepat memotong perkataan Ajeng.


Ajneg tersenyum dengan mengangguk, lantas berkata,"Saya permisi, Nathan!"Ajeng hendak melangkah, namun dengan cepat Nathan memegang tangannya.


"Tunggu, apa kita bisa berganti nomor?" tanya Nathan.


"Bagaimana?" ucap Ajeng pura-pura bodoh.


"Tidak maksudku, siapa tahu nanti aku membutuhkan pekerjaanmu. Apa kau seorang model? " tanya Nathan.


Melihat wajah tidak percaya Ajeng, Nathan lantas kembali berucap. "Untuk pekerjaan? Bisakah?" Ia menyodorkan handphone nya.


"Oh, baiklah!" ucap Ajeng, ia lantas mengambil handphone Nathan.


"Ini nomornya sudah kusimpan di kontak Anda, Tua! Semoga Anda bisa dipercaya yah. Jangan seperti Tuan Baron yang malah menghamili salah satu rekan saya dan membuatnya bunuh diri," ucap Ajeng dengan nada santai, ia seakan tidak tahu kalau Nathan adalah kekasih Ishani.


"Maaf? Apa maksudnya?" tanya Nathan, jelas saja mendengar nama Baron, hamil dan bunuh diri membuat Nathan kembali teringat dengan niat awalnya datang ke agency.


"Apa Anda tidak tahu, Nathan?" tanya Ajeng.


"Tidak, ada apa memangnya? Katakanlah!"


Huft


"Kita tidak bisa bicara disini, Nathan! Disini terlalu sensitif, bisakah Kau mengikutiku?" tawar Ajeng.


"Bisa-bisa, Ayo!" Nathan jelas tidak akan menolak jika ia bisa mendapatkan informasi tentang Ishani.


"Baiklah, ikuti saya."


Mereka lantas keluar dari gedung agency tersebut. Nathan mengekori Ajeng dari belakang.


Melihat Ajeng dan Nathan sudah keluar, Heera dan Ray bertos ria. Satu rencana berhasil.


Kini tinggal tugas Mervan yang mengawasi Nathan dan Ajeng.


Ajeng dan Nathan duduk di sebuah kursi taman. Nathan menatap Ajeng dengan wajah tidak sabar.


"Katakanlah!" ucap Nathan.

__ADS_1


Ajeng berpura-pura gugup, lantas menundukkan kepalanya.


"Jadi, ada satu rekanku, namanya Ishani dia---


__ADS_2