Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 85: KAI MENEMUI RAY(REVISI)


__ADS_3

DISCLAIMER: TAHAP REVISI!! JANGAN DIBACA!! AF NGGAK TANGGUNG JAWAB KALAU KALIAN KECEWA :)


Pagi yang indah dengan matahari yang bersinar sangat cerah. Suara bising kendaraan terdengar, meramaikan suasana pagi ini. Tak hanya suara bising kendaraan saja, tetapi suara tetangga memotong keramik, mencuci pakaian, ngerumpi di tukang sayur pun turut meramaikan suasana pagi ini.


Heera yang sudah selesai mencuci pakaian pun menjemurnya di luar. Hari ini dia kembali beraktifitas seperti biasanya, sambil menunggu otaknya bekerja membuat rencana selanjutnya. Jangan bilang dia sudah melupakan balas dendamnya, tidak sama sekali. Masih banyak hal yang belum dia ketahui, Heera yakin itu.


“Eh, neng Heera? Kapan pulang neng?” tanya seorang tetangga yang Heera belum ketahui namanya. Heera meringis, sudah hampir beberapa bulan dia berada di lingkungan ini, tetapi dia belum mengetahui nama tetangganya sama sekali.


“Eh, bu. Sudah, kebetulan kemarin saya dan su—pulang,” jawab Heera. Hampir saja dia keceplosan mengatakan kalau dia dan Kai pulang, padahal yang tetangga tau hanya dia yang pergi bekerja.


“Oh, baru kemarin toh? Eh, neng Heera tahu? Kalau suami neng Heera si Charlie, pas neng Heera tidak ada, dia juga tidak ada di kontrakan ini, lho neng Heera. Euceu curiga, jangan-jangan suami neng Heera selingkuh.”


Heera membulatkan matanya, ada-ada saja ibu-ibu di hadapannya ini. Bagaimana mungkin dia bisa berasumsi seperti itu? Jika saja dia tidak tahu identitas Kai yang sesungguhnya, mungkin dia sudah percaya ucapan si ibu.


“Haha, mana mungkin bu. Suami saya tidak seperti itu, lho.” Heera menyanggah ucapan si ibu.


“Eh, jangan salah. Suami yang kelihatan baik, justru itu suami yang kurang baik, neng. Bisa aja dia pura-pura baik di depan neng, taunya di belakang main apa. Biar ibu kasih tau … nggak jauh dari RT ini, ada lho dari RT sebelah yang kayak gitu,” bisiknya sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


Heera tersenyum canggung. Apa lagi ini? Kenapa pemikirannya sudah jauh sekali begitu? Dia saja belum tentu kenal baik dengan Kai, tapi sudah berani berkata seperti itu.


“Heera …!” teriak Kai, membuat Heera dan si ibu kaget. Wajah si ibu langsung memerah, dia takut Kai mendengar ucapannya.


“Eh, neng ibu pergi dulu, yah.” Si ibu buru-buru ngacir pergi, tanpa mendengarkan jawaban Heera.


Kai menghembuskan nafasnya lega. Dia berjalan menuju Heera, jangan sampai istri kesayangannya itu terpengaruh dengan ucapan-ucapan tidak bermutu yang keluar dari mulut tetangganya.

__ADS_1


“Kau tidak apa-apa?” tanya Kai.


Heera menatap heran pada Kai. “Memang aku kenapa? Aku hanya menjemur dan mengobrol dengan tetangga. Yah aku pasti baik-baik aja, lah. Masa iya cuman karena jemur baju sama ngobrol bareng tetangga aku kenapa-napa, kau ini ada-ada saja, Kai!” Heera menggelengkan kepalanya dengan sedikit mencibir Kai.


“Kau malah seperti itu. Biar ku beri tahu, kau harus sedikit menjauh dengan ibu-ibu tadi. Asal kau tau, dia itu salah satu biang gosip di daerah ini. Bu Ratih namanya, ingat! Jauhi dia, jika kau ingin pernikahan kita tetap berjalan.” Setelah berkata seperti itu, Kai pun pergi dan memutuskan masuk kembali ke dalam kontrakan.


Alis Heera terangkat, apa dia marah? Begitu saja marah. Padahal, dia hanya berkata yang sebenarnya bukan?


Apa-apaan lagi sampai bilang jauhi dia, jika kau ingin pernikahan kita tetap berjalan, yah kali? Memangnya bu Ratih itu akan menjadi pelakor di antara hubungannya dan Kai? Masa sih? Masa iya Kai yang masih muda suka sama ibu-ibu tua yang bahkan gigi depannya saja sudah ompong. Iyah, ompong … dia melihatnya sendiri tadi.


Heera masuk ke dalam kontrakan, karena dia sudah selesai dengan acara menjemurnya. Dia melihat Kai berpakaian rapi. “Apa kau akan ke bengkel?” tanya Heera.


Kai hanya diam saja dan tidak menjawab perkataan Heera. Dia kesal dengan tingkah Heera tadi. Heera menunggu jawaban Kai, tetapi Kai tak kunjung menjawab, membuat Heera sadar kalau Kai masih marah kepadanya.


“Apa kau marah?” tanya Heera.


“Kau benar-benar marah karena hal sepele tadi, Kai? Yang benar saja? Kau sudah dewasa Kai. Apa kau tidak malu? Kau marah hanya karena aku tidak menanggapi dengan serius perkataanmu?” ucap Heera yang menurut pandangan Kai, Heera tengah menyudutkannya.


“Kalau kau merasa aku kekanakkan, yah sudah tidak apa-apa. Kau memang tidak peka!” ketus Kai, sembari menepis tangan Heera. Dia pun buru-buru pergi dengan wajah masam.


Bugh


Kai menutup pintu rumah dengan sangat keras, membuat Heera kaget.


“Ada-ada saja!” kesal Heera. Dia pun memilih mengabaikan Kai, sudahlah. Tidak penting mengurusi orang yang

__ADS_1


kekanakan seperti itu. Nanti dia sendiri yang menyadari kesalahannya dan meminta maaf, kira-kira begitulah pemikiran sederhana Heera.


Kai yang berada di atas motornya, mendengus beberapa kali. Kenapa dia punya istri tidak peka sama sekali?


Bukankah apa yang dia peringatkan adalah untuk kebaikannya? Kenapa dia malah mencibirnya dan mempermainkannya? Padahal jika tadi dia tidak berteriak, mungkin bu Ratih itu akan makin banyak bicara yang tidak-tidak tentangnya dan membuat Heera bernasib seperti tetangganya dulu. Karena terlalu mendengarkan tetangga yang julidnya minta ampun, hubungan pernikahan mereka pun hancur dan Kai tidak ingin itu sampai terjadi.


Tut…Tut…Tut…


Kai menepikan motornya sembarang, dia tidak ingin kecelakaan hanya karena mengangkat panggilan telepon saat berkendara.


“Hal—


“Kai! Kenapa kau belum juga sampai? Kau ingin kabar ini atau tidak? Kau ini lama sekali?” gerutu Ray dari


seberang. Dia ini memang asisten tidak tahu diri pikir Kai, berani sekali dia memotong ucapannya. Tapi, Kai juga tidak akan bisa terlalu memarahi Ray, karena yang ada Ray malah melawannya balik. Hubungan mereka memang sudah seperti saudara.


“Ck, kau sangat tidak sopan Ray! Aku akan menemuimu, tunggu saja.”


Tut


Setelah berkata seperti itu, Kai pun menutup sambungan teleponnya. Dia kembali melajukan motornya. Jangan terlalu pedulikan ucapan Ray. Orang dia tidak buru-buru dan tidak ada pekerjaan lain kenapa haru buru-buru?


Tiga puluh menit kemudian, Kai sampai di apartemen milik Ray. Dia memarkirkan motornya, kemudian masuk ke dalam lift. Kebetulan unit apartemen milik Ray ada di lantai dua.


Ting

__ADS_1


Kai keluar dari dalam lift. Dia pun mencari pintu unit apartemen Ray. Setelah ketemu, Kai memasukan passcode yang sudah dia ketahui.


__ADS_2