Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
BAB 86: Diskusi Ray dan Kai (Revisi)


__ADS_3

DISCLAIMER: JANGAN BACA DULU!! TAHAP REVISI!!!


"Apa kau yakin?" tanya Kai dengan mata menatap lurus ke layar laptop yang menampilkan beberapa gambar.


"Tentu saja! Aku sudah mencoba memastikannya beberapa kali, tak mungkin aku salah!" sahut Ray yang terlihat santai memegang minuman boba.


Srooott


Kai melirik sinis pada Ray, bagaimana bisa pria itu dengan santainya meminum minuman, sedangkan dia tengah berusaha mengolah informasi yang didapat.


Sssruuuttt....


Rai menatap Kai yang masih melirik sinis padanya sambil berusaha menyedot boba yang begitu sulit dia sedot.


Kai mendengkus, "Bisakah kau serius sedikit?"


Alis Ray terangkat sebelah. Serius? Dia juga tengah serius sekarang.


Srrrooutttt


Ray kembali menyedot minumannya, kemudian mengklik tombol enter di laptop.


"Aku juga serius, Kai! Lihatlah itu! Itu bukti kalau Tuan Xavier tak bersalah dalam kebakaran dan ledakan hotel beberapa tahun silam yang menyebabkan kakak Nona Heera menghilang," jelas Ray menunjuk layar, tetapi tangannya yang lain masih sibuk memegangi cup Boba.


"Simpan dulu, minuman berisikmu itu! Sangat mengganggu konsentrasiku!" ketus Kai sambil merebut minuman milik Ray.


"Akh, tidak! Bobaku--


Ray menghela nafasnya saat Kai melemparkan minuman bobanya yang tinggal setengah ke dalam tong sampah.


"Kenapa kau begitu tega padaku? Hiks, hiks." Ray menatap Kai dengan memelas, hidungnya dia hirup-hirup, agar terlihat sangat sedih.


Kai menatap datar pada Ray, sangat menjijikan menurutnya, "Hentikan tingkahmu itu! Kau pria! Jangan merengek seperti itu!"


Ray memutar bola matany, "Oh ayolah, Kai! Kenapa kau begitu tegang dan serius begitu? Kita nikmati waktu bersama seperti dulu, lagi pula info ini sudah akurat. Kita tinggal mencari bukti siapa dalang sebenarnya!"

__ADS_1


Kai menepis tangan Ray yang sengaja disimpan di pundaknya.


"Seriuslah, Ray! Ini masalah serius, aku yakin ini juga berhubungan dengan kecelakaan dua tahun lalu." Kai menyerah berkata keras dengan Ray, karena pria itu pasti akan lebih menjengkelkan jika dia lawan.


"Bruh, tenang! Aku juga menyadarinya, ini memang berhubungan. Apa kau tau, Kai? Aku sudah curiga ini sedari dulu dan tebak siapa yang paling aku curigai?" Ray menaik turunkan alisnya menatap Kai, membuat Kai muak.


"Itu juga sudah Kutau, siapa lagi kalau bukan Baron? Pria itu kandidat terbaik untuk semua masalah yang terjadi, hanya saja kita perlu bukti untuk membuktikan semuanya. Lagi pula, info yang kau berikan ini tidak lengkap! Hanya foto-foto hotel, kemudian foto Tuan Xavier dan anak buahnya yang jelas tak ada di hotel, melainkan di negara Z! Apa itu bisa jadi bukti? Tentu tidak! Polisi tak akan mempercayai ini!" jelas Kai dengan nada jengah plus kesal dengan Ray.


Kai kesal dengan Ray, karena info yang diberikan ternyata tak sepenting dan segenting yang dia perkirakan. Dia sudah rela pulang jauh-jauh dari negara H dan Ray dengan santainya memberikan dia info setengah-setengah begini. Tetap saja, dia harus bekerja keras agar kedok Baron bisa dia bongkar.


"Kai, ayolah! Sudah kubilang, jangan terlalu dipusingkan! Heera juga belum tau, jadi? Kau masih am--


Ray menghentikan ucapannya, saat dia melihat Heera ada tepat di pintu masuk.


Mampus, batin Ray berucap.


Kening Kai mengerut saat Ray menghentikan ucapannya, dia kemudian berbalik dan tatapannya berubah datar saat ada Heera di sana.


Ray si***n! kesal Kai dalam hati.


"Kenapa kalian menatapku begitu?" tanya Heera yang kini duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.


Alis Kai terangkat sebelah, dia ikut duduk di samping Heera. Tangannya dengan sengaja memegang kening Heera, membuat Heera lekas menepisnya.


"Apa yang kau lakukan?"tanya Heera yang kesal dengan Kai.


"Kau masih sehat, kenapa kau memakai pakaian seperti itu?" Kai bangkit dari duduknya dan menjauh dari Heera, dia merasa jantungnya tak sehat jika berada di dekat Heera.


Alis Heera terlihat menyatu, dia melihat pada Kai, kemudian pada Ray. Memutar bola matanya, sekarang Heera tau, kenapa dari sejak dia datang kedua pria ini terus saja menatapnya. Tentu saja, karena pakaiannya ini!


"Aku masih sehat dan sangat sehat! Satu-satunya alasanku memakai ini, karena aku baru selesai latihan bersama Mam Listi--


"APA!?" ucap Kai dan Ray bersamaan, membuat Heera terjengkit dan menghentikan ucapannya.


Kai kembali duduk di dekat Heera, dia melihat Heera dengan seksama. "Kau tidak berbohong, bukan?" tanyanya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


Heera merasa tidak nyaman dengan yang dilakukan Kai ini, dia hendak menjauh, tetapi Kai malah kembali membuatnya dekat.


"Jelaskan dulu! Baru kau bisa pergi!" kesal Kai.


Heera memutar bola matanya, bisa kan dengan nada biasa saja? Kenapa ngegas.


"Nona, jelaskan! Apa ucapan Nona barusan memang benar?"


Heera ingin pergi dari sana sekarang juga, saat Ray juga ikut menanyainya dan bahkan duduk di sampingnya juga.


"Sebenarnya kenapa dengan kalian? Memangnya kenapa jika aku berlatih dengan Mam Listia? Lagi pula, dia dan Papa ternyata memutuskan ikut pulang ke negara ini! Jadi? Tak ada yang aneh bukan, jika aku dan Mam berlatih?" Heera menatap Kai dan Ray bergantian, tetapi wajah keduanya masih saja sama.


"TETAP SAJA! SAMA!!"


Heera menutup kupingnya saat Kai dan Ray berteriak tepat di samping telinganya. Hei! Dia tidak budeg!


"Bisa kalian jelaskan apa masalahnya? Kenapa malah berteriak di telingaku?" kesal Heera.


Ray menatap pada Kai, dia meminta Kai yang menjelaskan.


"Apa harus aku?" kesal Kai, dia tak suka disuruh begitu, apalagi harus menjelaskan soal mamnya. Heera melirik aneh pada Kai, apa yang Kai dan Ray bicarakan? Tanyanya dalam hati.


"Tentu saja, Tuan! Nyonya Listia, Ibu Anda. Jadi? Biar Anda saja," jawab Ray sambil nyengir kuda.


"Oh, apalagi ini? Cepat siapa yang mau menjelaskan padaku!?"


Kai menatap Heera, dia membuat Heera mendekat padanya, agar dia bisa berbisik.


"Apa kau tau, Mam sudah tidak ingin beladiri lagi semenjak dia tau sahabatnya meninggal," bisik Kai.


Heera menjauhkan tubuhnya dari Kai, tangannya mengusap-usap telinganya yang terasa geli.


"Kau penipu! Mana mungkin seperti itu! Buktinya, Mam pernah menyerang ku di gang, beberapa bulan lalu," sanggah Heera.


Yah, itu benar. Masih ingat dengan kejadian dia yang bertengkar di gang? Ternyata orang yang menyerangnya adalah Mam Listia, dia juga baru tau saat Mam menjelaskan ketika latihan tadi. Jika tidak? Mungkin selamanya, Di akan mengira Angra atau Nathan lah yang mengirim orang itu.

__ADS_1


__ADS_2