Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Memutuskan hubungan


__ADS_3

"Anda sudah sangat keterlaluan Tuan Nathan!" Ucap Kai dengan nada tegas.


"Tidak! itu hanya rekaman saat Heera akan dile*ehkan! dan tidak ada indikasi saya terlibat. Lalu, atas dasar apa Anda dan Heera bisa menuduh saya?" Jawab Nathan.


Semua tamu kembali berbisik, benar apa yang dikatakan Nathan, mengapa Heera bisa sampai menuduh Nathan.


"Apa yang diucapkan suamiku itu benar, Heera darimana kau bisa tahu kalau suamiku yang berusaha mele*ehkanmu?" Tanya Angra.


"Atau, ini hanya akal-akalanmu, untuk menjebak suamiku?" tambah Angra sambil melotot pada Heera.


Heera yang menunduk lantas menegakan wajahnya, Ia menggeleng kuat. "Tidak! aku tidak berusaha menuduh Kak Nathan! aku bisa buktikan!" jawab Heera dengan nada suara sedikit bergetar.


"Oh, yah? dengan apa?" Tanya Angra menyeringai.


"Dengan ini! aku mendapatkan rekaman ini."jawab Heera.


"Atau, kalian juga bisa ta-tanya, pada mereka!" ucap Heera lagi, sambil menunjuk para anak buah yang tengah diikat itu.


"Rekaman apa, hah?" bentak Angra.


"Ini."


Heera lantas memutar rekaman itu.


"*Kau harus melayaniku, bod*h! karena aku sudah membayar tubuhmu ini pada Nathan!"


"Ja--


Plak*


Rekaman itu berhenti tepat saat orang itu menampar Heera.


Angra dan Nathan kembali dibuat kaget dengan Heera. Mereka pikir rencana mereka kali ini sudah sangat matang, tetapi kenapa Heera bisa lolos dan bahkan membalikan keadaan.


" Kalian lihat itu? di sana sudah jelas dan Anda Tuan Nathan, Saya memutuskan hubungan kerja sama yang akan terjalin antara perusahaan kita."


Setelah berkata begitu, Kai lantas pergi sambil diikuti para wanita yang menggandeng Heera.


Semua tamu mencibir pada Nathan dan Angra, mereka tidak menyangka kalau Nathan akan berbuat seperti itu pada mantan tunangannya.


Di sisi lain, Mervan dan Daniel saling meninju pelan, mereka senang rencananya berjalan sempurna.


...****************...


Selepas kepergian dua orang yang mengantar Heera,Kai lantas berpindah tempat duduk ke belakang.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Kai pada Heera.


"Tidak, aku baik-baik saja! tenanglah!" jawab Heera.


Namun Kai tidak mendengarkan, Ia mengecek seluruh tubuh Heera mulai depan dan belakang. Kemudian beralih kewajah, Kai meniup pelan luka dikening Heera.


Heera memejamkan matanya, kehangatan ini, sudah lama tidak Ia rasakan. Kehangatan yang Ia rindukan,hatinya berdesir meski hanya dengan perlakuan kecil yang Kai berikan.


"Heeraaaa!? bagaimana luka ini bisa kau dapatkan?" Tanya Kai membuat Heera tersadar dan membuka matanya.

__ADS_1


Apa yang ku pikirkan? Heeraaa, jangan lagi! kau harus kuat! jangan sampai kau terjebak dengan pria lagi.Hanya karena dia memberimu perhatian, bukan berarti dia mencintaimu. Batin Heera


"Kenapa kau menggelengkan kepalamu? apa kepalamu sangat sakit? mengapa kau bisa benar-benar mendapatkan luka ini?"


Mendapatkan pertanyaan beruntun dari Kai, membuat Heera menghela nafasnya.


"Bisakah berhenti bertanya? aku sedikit pusing dan ingin tidur." Heera lebih memilih berpura-pura sakit kepala daripada harus menjawab pertanyaan Kai sekarang.


"Apa? kepalamu sakit? tadi kau bilang tidak sakit sama sekali? kau ini bagaimana?" Gerutu Kai.


"Kai! mengapa kau menjadi sangat cerewet!? berhenti mengoceh dan ayo pulang!" Ucap Heera dengan penuh penekanan, matanya melotot pada Kai yang terus saja bicara.


"Oh, oke!"


"Eh? mengapa kau malah marah padaku?aku hanya khawatir padamu, dan kau malah seperti ini padaku, ak---


" Kaaaiiiiii!!! Berhenti mengoceh kataku!! cepat jalankan mobilnya!!"Heera berteriak karena sudah sangat tidak tahan dengan ocehan Kai.


Kai terkejut mendapatkan teriakan dari Heera, apalagi perkataannya belum selesai dan Heera sudah memotongnya.


"Apa!?" Sewot Heera, karena Kai hendak protes.


Merasa Heera sedang badmood, akhirnya Kai memutuskan kembali duduk di samping kemudi, meski sedikit menggerutu dengan suara pelan.


Mobilpun melaju meninggalkan area hotel.


Tut....


Kai mendapatkan telpon, Ia lantas menyambungkannya pada earphones.


"Yah, sudah! semua beres, Kita tinggal menunggu berita itu meledak besok."


"Baguslah!"


Tut.....


Kai malah langsung menutup sambungannya, padahal orang diseberang masih ingin berbicara.


Kai melihat kebelakang lewat kaca spion dan terlihat Heera menyender sambil memejamkan matanya. Kai lantas menghembuskan nafasnya kasar.


Beres juga. Batinnya.


Keesokan paginya, Heera terbangun dari tidurnya saat mendengar ribut-ribut di luar.


"Siapa sih?" Gerutu Heera sambil bangun dengan rambut acak-acakan.


Ia lantas keluar dari kamarnya dan betapa terkejutnya Ia saat ada beberapa tubuh yang langsung memeluknya begitu saja, hampir saja Ia terjungkal karena tidak siap, apalalgu nyawanya belum terkumpul sempurna.


"Heeraaaa! Lo baik-baik aja, 'kan?" Tanya Ajeng sambil memeluk Heera.


"Ak--


" Ish! Daniel minggir dong lo! ngalangin aja! lagian lo cowok! kenapa ikutan meluk!?"Gerutu Ajeng yang memotong perkataan Heera.


"Eh, eleh! si Mervan juga ikutan kali bukan gue doang laki yang meluk Heera!" sewot Daniel.

__ADS_1


'Yah! yang memeluk Heera secara tiba-tiba adalah Mervan, Daniel dan Ajeng.


"Ekhem!" Dehem Kai, sambil menjepit bagian kerah kemeja Daniel dan Mervan, agar mereka mundur dan tidak memeluk Heera.


Daniel lantas mendelik pada Kai, yang memperlakukannya bagaikan kucing. Berbeda dengan Mervan yang malah mesem-mesem.


Kai tidak peduli dengan reaksi mereka, yang Ia pedulikan, mereka tidak boleh sembarangan menyentuh miliknya.


"Lah, kan! lakinya datang! tau ra---


Belum sempat perkataannya beres, kerah kemeja Ajeng juga ikut di jepit Kai, agar Ajeng tidak semakin lama memeluk Heera.


" Eeh!eh! kok gue juga!?"Protes Ajeng.


Kai tidak menjawab, Ia hanya menggelengkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Ajeng.


Heera menggeleng pelan, karena tingkah mereka, yang pagi-pagi begini namun sudah ribut. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, daripada harus mendengarkan perdebatan mereka.


"Yang nggak boleh tuh yang laki-laki, kalau yang cewek yah bolehlah!" Protes Ajeng.


"Yah, 'kan Hee--


" Eh? kemana tuh anak?"Heran Ajeng, karena Heera sudah tidak ada.


"Dia ke kamar mandi!" jawab Ray yang tiba-tiba sudah duduk di kursi ruang tamu sambil memakan kuaci.


"Lah, mulut sambel, tau-tau nongol aja, lu! kaya jailangkung aja lu!" sewot Ajeng.


"Alah, sok ngatain gue jailangkung, situ sendiri juga Tukti! Tukang tipu!" cibir Ray.


Mervan dan Daniel begitu heran, kenapa jika Ray dan Ajeng bertemu pasti bertengkar.


"Eh, ngatain gue lu!" kesal Ajeng.


Pletak


"Lo juga ngatain dia duluan tadi, Ajeng! Ajeng!"Daniel menyentil kening Ajeng pelan, lantas ikut duduk di samping Ray.


" Lo, malah ikutan, Niel! rempong lu! kayak emak-emak."cibir Ajeng, yang kemudian juga malah ikut duduk, karena Mervan dan Kai sudah duluan duduk.


"Waahhh! jangan ngehina emak-emak, lo Jeng! lu juga bakal jadi emak-emak! dan asal lo tau yah! emak-emak bakal bisa lakuin hal luar biasa!"


Mendengar kata emak-emak, Ray jadi merinding teringat kejadian saat Ia dikejar emak-emak tempo hari, saat mencari bukti.


"Apaan coba?"


"Sudah! sudah! kalian ini malah berdebat! lebih baik kita lihat berita besar hari ini!" Ucap Mervan menghentikan kerusuhan mereka.


"Bukan debat, cuman ngebacot doang!" jawab Ajeng.


Daniel yang greget dengan jawaban Ajeng, lantas melemparkan kuaci yang sejak tadi dimakan Ray. Ajeng jadi terkekeh karenanya, berbeda dengan Ray yang memandang Ajeng dengan pandangan mencibir.


"Lihat ini!" Ucap Mervan sambil memperlihatkan laman berita yang Ia buka.


Ajeng, Ray, Kai, Daniel, bahkan Mervan yang membuka laman itu membulatkan mata mereka.

__ADS_1


__ADS_2