Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Nyaman


__ADS_3

Heera lantas berlari dan masuk ke dalam rumah pohon itu.


Ini impiannya sejak dulu, Ia bisa bermain di sebuah rumah pohon.


Ray kembali terkekeh, ternyata Heera begitu antusias. Padahal, Ia hanya membawa Heera ke hutan.


"Kak Ray!!! lihat ini!! kemarilah!!!" teriak Heera dari atas rumah pohon.


Ray lantas ikut naik ke rumah pohon itu. Ia mendekat pada Heera yang sepertinya menemukan sesuatu yang menarik.


"Kak Ray!! ini indah sekaliiii!!!" Ucap Heera berbinar, melihat pemandangan yang begitu indah. Ditangannya terdapat seekor kupu-kupu yang hinggap.


"Kau suka?"Tanya Ray, kali ini Ia berbicara santai, tak terlalu formal.


" Tentu saja!"Jawab Heera antusias, matanya fokus pada kupu-kupu yang hinggap ditangannya.


Kupu-kupu itu lantas terbang, Heera melihat ke arah mana kupu-kupu itu pergi. Ia tersenyum senang.


Heera merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya.


Ray memperhatikan Heera dengan seksama dari arah samping. Ia tersenyum senang, tak salah Ia mengajak Heera kemari.


"Kau mau ini?" Tawar Ray dan seketika membuat Heera yang sejak tadi menikmati suasana tersentak.


"Waaaah, apa ini kelapa sungguhan?" Tanya Heera polos.


"Kenapa bertanya begitu?" Ray tak menjawab pertanyaan Heera, Ia malah balik bertanya.


"Hehe, karena ku kira tidak mungkin di hutan ada yang berjualan kelapa seperti ini." Jawab Heera kikuk.


"Haha, kau bisa saja! tentu saja ini adalah kelapa asli dan berasal dari pohon kelapa yang ada di sebelah sana! bukan dari pedagang!" Ray menunjuk salah satu pohon kelapa yang ada di sebelah kiri rumah pohon itu.


"Ohhh, kirain! hehe." Heera makin kikuk saja.


"Ini, lebih baik minumlah! pasti sangat segar!" Ray menyodorkan kembali kelapa itu.


Heera lantas menerimanya dan meneguknya.


"Segarnyaaaa." Ucapnya ketika air kelapa itu berhasil masuk ke kerongkongan, kemudian masuk ke lambungnya.


Ray reflek mengacak rambut Heera, Ia begitu gemas dengan tingkah Heera.


"Jangan dirusak!!" Kesal Heera.

__ADS_1


"Maaf!" Ucap Ray pura-pura merasa bersalah, Ray lantas memasang wajah sangat imut dan itu membuat Heera kembali tersenyum bahkan terkekeh.


"Oh, yah! apa Kak Ray sudah sering kemari?" Tanya Heera.


"Sesekali ketika ingin menyendiri, atau sekedar melakukan merefresh sejenak pikiran dari banyaknya pekerjaan." Jawab Ray sambil menatap lurus ke depan.


"Ooh." Heera menganggukan kepalanya.


"Ceritakan sedikit tentang diri Kakak, tapi jika kakak tidak keberatan hehe!" Heera meneguk kembali air kelapanya.


"Tentu saja, aku akan ceritakan sedikit tentang diriku. Aku hidup sebatang kara, pria penuh ambisi, sampai aku bisa berada diposisi ini." Jawab Ray singkat menceritakan dirinya.


"Oh, berarti kita sama!" Ucap Heera sambil tersenyum.


Ray menatap Heera dengan sedikit heran, namun juga senang. Karena biasanya orang akan lebih menanggapi berlebihan dan merasa iba tentang nasibnya, dan Ia tidak suka dikasihani, Ia cukup senang dengan respon Heera.


"Kenapa kakak bisa menemukan tempat ini, maksudku jarak dari sini ke kota lumayan jauh dan ini daerah hutan, jadi agak heran ketika kakak bisa menemukan tempat indah ini."


"Aku menemukannya saat umurku 13 tahun. Saat itu aku hidup luntang lantung, hidup katakanlah nomaden dari satu tempat ke tempat lain, hingga aku menemukan tempat ini, dan aku pernah berjanji jika aku sukses aku akan membuat tempat ini lebih indah, kalau perlu aku membeli tanah di hutan ini." Jelas Ray.


"Waw, dan kakak berhasil mewujudkannya!" Heera jelas suka dengan orang yang bisa memegang komitmennya.


"Hehe, katakanlah begitu!"


Ray meluruskan pandangannya ke depan "Masih ada yang harus aku capai." Jawab Ray kemudian tersenyum pada Heera.


"Terbaik!"Ucap Heera menirukan salah satu tokoh kartun.


" Haha, kau! ada - ada saja!"Ucap Ray.


Tut.......


Ray melihat siapa yang menelponnya, Ia lantas buru-buru mengangkatnya.


"Ha---


" Kau kemana saja, Ray!? dan dimana Heera!!!?"Kai memotong sapaan Ray dengan nada keras membuat Ray menjauhkan handphonenya.


Heera terkekeh, melihat Ray menjauhkan handphonenya. Ia bisa tebak kalau Kai lah yang menelpon.


"Maaf, Tuan! saya mengajak Nona Heera jalan-jalan sebentar." Jawab Ray


"Jalan-jalan katamu? ini sudah lebih dari tiga jam terhitung sejak kalian meninggalkan kantor!! Kau jangan membawa kabur Heeraku, Ray!!" Teriak Kai.

__ADS_1


Ray lantas kembali menjauhkan handphonenya. Bisa budeg lama-lama batinnya.


"Heeraku." cibir Ray pelan.


"Hah? Kau bilang apa, Ray??" Tanya Kai.


"Tidak ada, Tuan! saya ingin mengatakan kalau saya tidak akan menculik Nona Heera! saya tidak akan berani berbuat seperti itu, Tuan!"


Heera kembali terkekeh mendengar perkataan Ray pada Kai. Apa tadi katanya? menculik? yang benar saja, Ray tidak akan berani berbuat seperti itu, Heera percaya pada Ray.


"Kalau begitu, cepat bawa Heera pulang!! awas kalau kau berbuat macam-macam padanya Ray!" Ancam Kai.


"Tidak akan macam-macam, Tuan! mungkin hanya satu macam saja!" Ucap Ray menjahili Kai.


"Awas, kau Rai---


Tut......


Dengan begitu tidak sopan, Ray menutup sambungan teleponnya.


Huft


Ray lantas mengorek - ngorek telinganya, siapa tau tidak berfungsi lagi, karena sering mendengar teriakan Kai.


Heera terkekeh dengan tingkah Ray yang sepertinya pasrah dengan sikap Kai yang memang kadang semena-mena.


"Nona, pawang Anda sudah menelpon! jadi, ayo kita pulang sekarang!" Ucap Ray sambil menbungkukan badannya sembilan puluh derajat, membuat Heera kembali terkekeh.


"Baiklah, Mari kita menemui baginda, ajudan!" Jawab Heera yang malah ikut-ikutan dalam drama Ray. Ia pun juga membungkukan badannya sembilan puluh derajat.


Mereka lantas tertawa bersama, merasa lucu sekaligus konyol dengan tingkah mereka.


Di sisi lain, Kai terus mondar mandir di ruangannya. Sudah ada beberapa karyawan yang kena marahnya karena Heera dan Ray menghilang bersama-sama dan baik ponsel Heera maupun Ray berada di luar jangkauan, hingga satu panggilan pun berhasil dilakukan.


Ia cemas jika saja Heera dalam bahaya, karena Nathan sudah mulai menyusun rencana, Itu yang Ia tahu dari Mervan dan anak buahnya yang Ia tugaskan memata-matai Nathan.


Sesampainya di perusahaan, Ray dan Heera lantas segera masuk ke dalam dan naik ke lift menuju lantai tempat ruangan Kai berada.


Heera membuka pintu ruangan Kai dan tiba-tiba saja sebuah pelukan menyambutnya. Pelukan itu begitu erat sekali, Heera bisa rasakan jantung orang itu bergerak lebih cepat.


Ray yang tadinya hendak ikut masuk, mengurungkan niatnya kala melihat Kai yang langsung memeluk Heera.


"Kau, membuatku khawatir Heera!" Gerutu Kai.

__ADS_1


"Tapi, itu salahmu sendiri!! kenapa kau pergi begitu lama dan membuatku bosan! akhirnya Ray membawaku ke suatu tempat agar aku tidak bosan!!" Balas Heera, Ia juga menggerutu seperti Kai.


__ADS_2