Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Hampir tertabrak


__ADS_3

Kai berlari mengejar Heera yang kini berjalan tergesa di trotoar.


"Heera..!?" teriak Kai, tetapi tak dihiraukan Heera.


Kau mempercepat larinya dan akhirnya dia bisa mencekal tangan Heera.


Heera menatap malas pada Kai. Kai menatap tajam pada Heera, "Kau dengarkan aku dulu!"


"Heem?" Heera menaikkan dagunya, mencoba bertanya apa keinginan Kai.


"Maafkan aku, tolong bukan maksudku seperti itu," pinta Kai dengan memelas.


"Hem...." Heera melepaskan tangan Kai yang mencekal tangannya, dia berdecak lantas hendak menyebrang jalan.


"Heera, tunggu!" Kai kembali mencekal tangan Heera membuat Heera menyentak kasar tangan Kai.


"Lepaskan! Sudah kubilang aku memafkanmu! Tapi, tolong biarkan aku sendiri!" bentak Heera.


Heera pun kembali berjalan, tepat saat berada di tengah - tengah suara klakson membuat mata Kai dan Heera membulat sempurna.


Tin - Tin...


Sebuah mobil sedan berwarna putih melaju dengan kencang dan hampir menabrak Heera.

__ADS_1


"Heera...!" Tepat saat mobil sedan itu hampir menabrak tubuh Heera, Kai langsung memeluk tubuh Heera dan menariknya kesamping. Mereka berdua terjatuh dengan posisi tubuh Kai yang mencium aspal.


"Shh...." Keduanya meringis.


Kai memperhatikan Heera yang kini terlihat meringis. Kai buru-buru membangunkan tubuhnya dan membuat Heera ikut bangun.


Dengan penuh perhatian Kai mengecek seluruh tubuh Heera, dari depan samping belakang, semua bagian tubuh Heera di ceknya. Bahkan Kai sampai memutar-mutar tubuh Heera membuat Heera sangat jengah.


"Kai, berhenti!!" ucap Heera dengan sedikit berteriak.


"Ups, maaf!" ucap Kai, dia lantas melepaskan tubuh Heera.


Heera menggeleng pelan, dia lantas melihat sikunya yang sedikit lecet.


"Shh...." Heera merasakan sakit saat dia meluruskan tangannya.


"Ini pasti sakit?" ucap Kai, dia lantas membawa Heera untuk menepi, takut ada mobil lagi.Kai memperhatikan luka di siku Heera, kemudian meniup-niup luka tersebut.


Heera menatap Kai dengan seksama, Kai itu sebenarnya sangat baik. Dia juga tampan, mapan, dan yang paling penting sangat bertanggungjawab.


Tapi, entah kenapa dia masih belum bisa membuka hati untuk Kai, atau mungkin dia yang belum siap? Atau bahkan enggan mengakui? Entahlah, yang jelas Heera kini tengah bingung dengan semua rasa yang ada di hatinya.


Hatinya sedikit membeku ketika mendapatkan pengkhianatan dari Nathan. Dia sudah sangat percaya pada Nathan, bahkan memberikan semua hatinya untuk Nathan.

__ADS_1


Tetapi, apa yang dilakukan Nathan? Dia malah mengkhianati Heera, parahnya dia berkhianat dengan sepupunya sendiri.


Rasanya begitu sulit bagi Heera sekarang, jika harus kembali memberikan hatinya. Perlu diketahui, jika Heera sudah memberikan hatinya, itu berarti Heera sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk laki-laki itu dan Heera masih belum siap untuk itu, apalagi untuk kembali dikecewakan.


Heera menarik tangannya yang masih ditiupi Kai.


"Terimakasih, tapi aku harus pergi sekarang," ucap Heera sembari kembali berjalan meninggalkan Kai.


Kai mengusap kasar wajahnya, dia masih menyesali apa yang tadi dia lakukan.


Sama halnya dengan yang terjadi pada Heera dan Kai, begitu pula yang terjadi pada Ray dan Ajeng. Mereka bertengkar, karena Ray terus mengganggu Ajeng.


"Bisa nggak lo jangan ngikutin gue mulu?" bentak Ajeng.


Ray menghentikan langkahnya lantas menutup matanya, karena kaget dengan bentakan Ajeng.


Galak banget, nih cewek. Kalo aja nggak butuh udah kumasukin kekarung terus buang ke sungai amazon, batin Ray menggerutu.


Ray tersenyum menatap Ajeng. "Ajeng yang baik, pinter, sholehah... Mau yah, bantuin aku?" ucap Ray dengan nada dibuat semanis mungkin membuat Ajeng ingin muntah.


"Lo nggak cocok ngomong gitu Ray!" ucap Ajeng dengan nada mencibir.


Ray menatap datar pada Ajeng. "Terus harus gimana, biar lo mau nurutin kemauan gue?" bentak Ray.

__ADS_1


Ajeng tersentak, lantas menaikkan alisnya, dia yang butuh dia yang sewot, batin Ajeng heran.


"Bantuin apaan?" ketus Ajeng


__ADS_2