
Pagi ini, Ajeng dan Ray tengah menyamar menjadi petugas di rumah sakit. Membuat Ajeng kesal saja, bagaimana bisa Ray mengajaknya menyamar di sebuah rumah sakit dan memintanya untuk mencari arsip tentang pasien yang sudah lama sekali di rumah sakit tersebut? Ajeng ingin menolak, tetapi Ray malah akan membongkar kebohongannya di depan ayahnya. Kebohongan apa? Kebohongannya adalah menyebutkan Ray sebagai pacarnya agar dia tidak dijodohkan oleh ayahnya itu.
“Lo, gimana sih Ray? Mau nyari arsip di rumah sakit, tapi lo nggak pake persiapan dulu?” gerutu Ajeng.
Mereka kini tengah mencari-cari ruangan arsip dengan menyamar menjadi suster. Sudah hampir satu jam mereka mencari ruangan arsip, tetapi tidak kunjung ketemu membuat kekesalan Ajeng makin menumpuk pada Ray.
“Sabar dong Jeng! Lagi nyari juga,” jawab Ray dengan sedikit ketus, memangnya dia tidak capek? Dia juga capek! Beri tahu itu pada Ajeng.
“Nah, itu dia! Buruan!” Ray lekas menarik tangan Ajeng agar dia bisa mengajaknya masuk ke dalam ruang arsip yang sudah dia temukan. Ajeng hanya bisa pasrah saat tangannya Rai tarik-tarik. Dia sudah capek sekarang, dari tadi marah-marah mulu. Ray dan Ajeng akhirnya sampai di dalam ruangan arsip tersebut. Ray lantas menyuruh Ajeng untuk mencari arsip yang dia maksud.
“Ray…nyari arsip entu buat apaan sih? Kagak ada kerjaan banget,lu? Bukannya ini Tindakan illegal, yah?” ucap Ajeng sambil mencari-cari arsip yang Ray maksud di tumpukan arsip yang lumayan banyak.
Hacim
“Gue ampe bersin gini, tanggung jawab Ray!” gerutu Ajeng. Ray mengeram kesal, sejak tadi Ajeng terus saja menggerutu.
__ADS_1
“Diamlah! Kau itu berisik sekali!” ketus Kai.
“Bukan salah gue, kalo gue berisik!” balas Ajeng ketus.
Ray mendengus,dia lebih memilih fokus pada arsip yang berusaha dia cari.
Disisi lain,Kai dan Heera kini tengah berada di dalam mobil dengan di kawal oleh beberapa pengawal. Mereka akan pergi ke taman hiburan atas permintaan yang tidak bisa di bantah dari Listia.
“Kai…? Apa harus sampai seperti ini?” tanya Heera pelan.
“Yah,mau bagaimana lagi?” sahut Kai acuh.
Tok...Tok...
Heera menatap ke jendela yang diketuk oleh seorang pengawal, dia lantas mendengus pelan.
__ADS_1
"Sudah, ikuti saja," ucap Kai, yang langsung turun dari dalam mobil.
Huft
Heera lantas turun dari dalam mobil dan mengikuti Kai. Mereka berjalan bersama tetapi tidak saling berpegangan tangan membuat si pengawal menegur mereka.
"Maaf, nona. Menurut perintah nyonya Listia, Anda diharuskan bergandengan tangan dengan tuan Kai," ucap si pengawal.
Hah?
Heera terperangah, dia menatap tidak percaya pada si pengawal, kemudian pada Kai yang masih santai-santai saja.
Heera mendekatkan tubuhnya pada Kai, lantas berbisik lirih.
"Kai? Apa kita sampai harus berpegangan tangan? Dikeramaian begini? Bagaimana jika ada yang mengenali kita dan mengatakannya pada Angra dan Nathan? Ini pasti akan menjadi bencana!"
__ADS_1
Kai memicingkan matanya menatap Heera, dia lantas makin mengikis jarak di antara mereka,membuat Heera mundur tetapi dengan sigap Kai menahannya.
"Ini di negara H asal kau ingat,Nona!" bisik Kai tepat di samping telinga Heera membuat tubuh Heera merinding dibuatnya.