
"Heera ...! Liat nih! Keren, 'kan?" teriak Ajeng, ia dengan tidak sabaran langsung berdiri di bawah kucuran air terjun.
Heera begitu takjub saat melihat air terjun tersebut, begitu indah dan jernih.
"Kau suka?" tanya Kai. Heera menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya antusias.
Kai jadi gemas melihat tingkah Heera. Ingin rasanya ia menguyel-uyel wajahnya itu.
"Mari, kak! Di sana ada saung khusus kalo kamu mau istirahat," ajak Arshad. Pemuda ini memiliki tutur kata yang lembut dan sopan.
"Wah? Ada saung juga? Dimana?" tanya Heera tak sabar.
"Sebelah sini, Kak!"
Mereka bertiga pun berjalan menuju saung yang berada beberapa meter dari air terjun.
Heera dan Kai serta Arshad duduk di saung, melihat Ajeng dan Irsyad yang terlihat berenang di air terjun.
"Wiih, seger banget Shad!Lo ngajaknya kenapa nggak dari kemarin?" tanya Ajeng sambil mengusap wajahnya yang penuh air.
"Yeeh,kemarin 'kan udah hampir maghrib! Kakak nggak takut, kalo ada makhluk halus nyulik kakak?" jawab Irsyad sambil berteriak, karena ia kini tengah berdiri di atas batu dan hendak meloncat.
Brussshhh.......
Suara tubuh Irsyad yang jatuh ke air.
"Shad...! Kalau ke Ajeng, bukan makhluk halusnya yang nyulik Ajeng, tapi malah Ajeng yang nyulik makhluk halusnya, haha!" Heera balas mengejek Ajeng.
"Ngejek gua lu yah!" teriak Ajeng, karena jaraknya lumayan jauh.
"Haha, tapi kayaknya bener kata Kak Heera, nanti makhluk halus nya yang takut sama kakak. Kak Ajeng 'kan makhluk jadi-jadian."
Irshad malah ikut mengejek Ajeng, membuat Ajeng berenang mengejarnya.
Heera dan Arshad tertawa-tawa melihat tingkah mereka.
"Kau ingin berenang juga?" ajak Kai.
Heera menatap Kai,"Tapi, bajuku?"
"Udah nggak papa, ayo!"
Mereka akhirnya berenang bersama dan lumayan lama, bahkan sampai satu jam lamanya mereka bermain di air.
Setelah di rasa mereka puas bermain air, lantas pulang karena Arkan sudah memanggil mereka untuk makan.
Dengan tubuh basah kuyup, mereka berjalan melewati kebun. Hawa dingin begitu menusuk kulit mereka. Kai dengan sengaja malah menggandeng Heera dan itu membuat Ajeng mencibirnya.
"Eh, eleh. Mentang-mentang udah halal, di depan umum main mesra-mesraan!" cibirnya.
"Iri? Makanya cari pasangan!" cibir Kai balik.
__ADS_1
Heera yang awalnya malu, malah terkekeh, melihat ekspresi Ajeng yang balik kesal pada Kai.
"Cari pa---Akhh ...!"
Bruk
Karena sibuk melihat dan berbicara dengan Kai, Ajeng tidak melihat di depannya ada sebuah tanah yang bertingkat, alhasil ia jatuh ke dasar.
Kai, Irshad, Arshad, Arkan dan Heera tertawa melihat itu.
"Makanya, liat itu ke depan, Kak. Bukan ke samping, haha,"ucap Irshad dengan tawanya.
" Aduhhh, sakit banget...!"ringis Ajeng. Ia bangun, namun tangannya serasa memegang sesuatu yang basah. Ajeng melihat tangannya.
"Iyyuhhh....! Jorok banget!" teriak Ajeng, saat melihat di tangannya sebuah benda warna hitam yang bulat-bulat.
"Ahahahaa, kotoran domba."
Mendengar itu kotoran domba, makin jijik lah Ajeng, ia buru-buru berdiri dan dengan sekali gerakan ia bisa naik kembali, dimana yang lainnya berdiri. Dengan sengaja ia mengusapkan tangannya itu pada Irsyad, namun Irsyad bisa mengelak dan berlari.
Akhirnya perjalanan pulang mereka diiringi kegiatan Ajeng dan Irsyad yang saling kejar-kejaran.
Mereka kemudian sampai di rumah, setelah itu membersihkan diri dan kemudian mereka makan bersama.
Makan nasi liwet, ikan asin, tumis kangkung, sambal dan kerupuk.Memang sangat enak apalagi setelah selesai berenang.
Ajeng bahkan sampai nambah dua kali, membuat Kai geleng-geleng kepala dengan tingkah Ajeng.
Hampir memasuki waktu sore, mereka akhirnya pamit pulang. Sebelum pulang, nek Maya sempat memberikan sebuah amplop untuk Heera dan memintanya untuk membuka amplop tersebut di jalan. Heera hanya menurut saja apa yang nek Maya katakan.
Mereka kini tengah berada di mobil,sudah setengah jam, sejak mereka pergi meninggalkan desa itu dan Heera belum membuka amplopnya.
"Bentar, aku buka!" jawab Heera. Ia lantas membuka amplopnya dan terlihat sebuah kunci dan surat.
"Apa, ini?" gumam Heera.Ia melihat isi amplop tersebut.
Kai melihat pada Heera, keningnya mengernyit.
"Kunci dan surat? Dari siapa?" tanyanya.
"Di sini tertulis dari papi Karan, coba deh aku buka."
...*Bulan Purnama...
Jika berlian sudah menemukan cahayanya, maka makin bersinar tujuannya. ٣٠٠*
"Bulan purnama, Jika berlian sudah menemukan cahayanya, maka makin bersinar tujuannya,terus ada angka tiga ratus kali, yah?apa artinya?" tanya Heera.
Kai dan Ajeng sama-sama bingung.
"Apaan? Itu tulisannya, Ra?" tanya Ajeng.
__ADS_1
"Iyah, ini disini ditulis gitu, apa maksudnya, yah? Kai kamu tau?" tanya Heera pada Kai.
"Coba kau ulangi!" perintah Kai.
Heera lantas kembali membaca tulisan di surat tersebut, Kai mulai memikirkan arti dari tulisan tersebut.
"Alah, mungkin itu om Karan iseng aja, Heera! Lagian, dia suka bercanda, 'kan?" celetuk Ajeng.
Heera menatap Ajeng, lantas menaikan sebelah alisnya.
"Yakin?" tanyanya tidak percaya.
"Yakin, seratus persen. Mungkin aja, om Karan pengen ngirim surat aja yang puitis gitu, udah ah! Gue mau tidur, ngantuk!"
Ajeng malah berbaring, apalagi ia duduk di jok belakang sendirian, enaknya berbaring terus tidur.
"Ajeng... !?" panggil Heera.
"Ish! Malah tidur lagi?" kesal Heera, saat melihat Ajeng sudah ngorok saja.
Kai menatap Ajeng lewat kaca spion, ia menggeleng pelan.
"Sudah, biarkan saja!" ucap Kai.
"Terus, surat ini?" tanya Heera sambil mengacungkan surat tersebut.
"Biarkan saja, mungkin nanti kita akan tahu jawabannya," jawab Kai,ia mengusap pelan kepala Heera.
Heera tersenyum tipis, lantas menyimpan surat tersebut, karena ia juga tidak tahu artinya.
Setelah menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah Kai saat tengah malam.
Kai mengangkat tubuh Heera, karena dia masih tertidur dan membiarkan Ajeng tidur di mobil.
Bug
Saat suara pintu mobil yang Kai tutup membuat Ajeng bangun dari tidurnya.
Ia bisa melihat Kai yang berjalan menjauh sambil menggotong Heera.
"Dasar, nggak punya adab!" gerutu Ajeng. Ia lantas keluar dari dalam mobil.
Bug
Dengan sangat keras, ia menutup pintu mobil Kai. Rusak-rusak, bukan punya dia pikir Ajeng, masa bodohlah. Ia kesal dengan tingkah Kai, yang meninggalkan dia di dalam mobil, tengah malam pula.
"Kai, si*alan!"
Ajeng melangkahkan kakinya masuk ke rumah Kai.
"Ini, rumah si Kai? Gede banget, lumayan bisa tidur di rumah mewah," ucap Ajeng saat mencapai pintu rumah Kai.
__ADS_1
Dengan tidak sopan, ia main masuk ke dalam, dan lagi-lagi ia terpesona dengan keindahan rumah Kai.
"Ck! Habis berapa, si Kai ngedekor nih rumah? Padahal, cuman dia sendiri di rumah ini, tapi kenapa harus segede gini rumahnya, padahal kalo satu kamar ukuran tiga kali tiga meter,aja udah cukup."