Buruk Rupa?

Buruk Rupa?
Menawarkan bantuan


__ADS_3

Hari-hari berlalu dan kini Heera sudah dinyatakan sembuh dan boleh pulang.


Heera tengah berada di kamarnya yang berada dikontrakan Charlie,wajahnya yang cantik Ia tutupi kembali dengan bekas luka palsu.


Heera keluar dari kamarnya, dan Charlie yang tengah mengerjakan sesuatu di ruang tamu menatap Heera heran.


"Kau, mau kemana?" Tanya Charlie.


"Olahraga, aku harus secepatnya menurunkan berat badanku." Jawab Heera kemudian hendak keluar, namun dicegah Charlie.


"Kau tidak boleh olahraga dulu, untuk sekarang! kondisimu belum pulih sepenuhnya!"


"Kau tidak berhak melarangku." ketus Heera. Ia hendak melangkah, namun lagi-lagi Charlie menghalanginya.


"Apa lagi?" Tanya Heera kesal.


"Kau, masih marah padaku?" Tanya Charlie.


"Menurutmu?" Ketus Heera.


"Minggir!" Ucap Heera sambil mendorong Charlie. Charlie pun menyingkir dari hadapan Heera.


"Heera!! Heera! tunggu!! kau masih harus istirahat! ayolah!kau bisa drop lagi, Heera!" Ucap Charlie sambil mengimbangi langkah Heera.


"Itu urusanku! bukan urusanmu!" Jawab Heera.


Heera berolahraga tanpa mempedulikan Charlie, beberapa kali Ia terjatuh bahkan terlihat lelah, Charlie bisa melihat itu.


Dia sangat keras kepala!! Batin Charlie.


"Heera!!" Teriak Charlie kala Heera hendak pingsan.


"Ck! lihatkan! mengapa kau tidak mematuhi ucapanku!" Gerutu Charlie sambil menopang tubuh Heera.


"Heera! kau boleh olahraga nanti, aku akan membantumu!" Ucap Charlie lagi.


Heera menepis tubuh Charlie. "Menyingkirlah! aku masih kuat!aku tidak butuh bantuanmu!"Ketus Heera.


Charlie mengehela nafasnya.


"Kau, boleh marah padaku! tapi tolong jangan menyakiti dirimu sendiri!" Ucap Charlie memelas.


Heera menatap Charlie "Menyakiti dirimu sendiri? bukankah, itu yang kau inginkan? kau ingin aku menderita bukan? kau ingin aku pergi dari hidupmu, hah? bukankah itu kemauanmu?" Tanya Heera berapi-api.


"Heera, tolonglah! kemarin itu aku tidak sengaja."


"Tidak sengaja katamu? kau mengerjaiku habis-habisan sampai mengetesku, kau bilang tidak sengaja? Hah!? itu kau bilang tidak sengaja? Aku tahu kau sengaja, bukan?" Ketus Heera.


"Aku bersumpah aku tidak sengaja, Heera!" Bentak Charlie.


"Kau, kembali membentakku! kau memang seperti itu! itulah dirimu! kau tidak menginginkan aku bukan? bahkan pernikahan ini karena terpaksa! lebih baik kau ceraikan saja aku! lagipula aku juga terpaksa dengan pernikahan ini!!" Teriak Heera.


"Heera!!" Bentak Charlie, kemudian Ia memegang tangan Heera dan menyeret Heera.


"Hei! apa yang kau lakukan?"Tanya Heera.


"Ikut aku! kau ingin tahu, alasanku, melakukan itu padamu, kemarin bukan?"Ucap Charlie menatap tajam Heera.


" Naiklah!"Ucap Charlie pada Heera. Heera hanya diam dan enggan naik ke atas motor Charlie.


Charlie menghela nafasnya. Ia memegang pinggang Heera dari belakang, kemudian mengangkatnya.

__ADS_1


"Hei! apa yang kau lakukan? Charlie? turunkan aku!" Ronta Heera.


"Diamlah! kau ingin jatuh? badanmu ini berat tau!" Ketus Charlie.


Ia menundukan Heera di atas motornya.


"Kau tau aku gendut dan berat, lalu kenapa kau masih nekat mengangkatku?" Ketus Heera.


"Apa kau akan naik jika aku tidak mengangkatmu?" Tanya Charlie datar, kemudian Ia naik ke atas motornya.


"Jangan berani-berani turun!" Ucap Charlie saat dirasa Heera hendak turun.


Charlie melajukan motornya, hingga mereka sampai di sebuah rumah mewah.


Heera melihat rumah itu.


Ini rumah mewah milik Charlie Kai Harish, bukan? Tanya Heera dalam hati.


"Turunlah!" Ucap Charlie. Heera turun dari atas motor Charlie.


"Untuk apa kita kemari?" Tanya Heera ketus.


"Bukankah kau ingin tahu alasanku?" Tanya Charlie.


"Cepat ikutlah!"Ajak Charlie dan mau tak mau, Heera pun mengikuti Charlie.


Pertama yang Heera lihat saat memasuki rumah Charlie adalah sebuah ruangan yang begitu megah, dengan desain ala - ala kerajaan. Furniture bernuansa gold makin menampakan kemewahan rumah ini, hingga Ia terpaku melihat sebuah poto di belakang tubuh Charlie.


Heera melihat Charlie dan poto itu bergantian. Semakin diperhatikan, semakin miriplah Charlie dengan poto itu.


"Apa kau menyadarinya?" Tanya Charlie.


"Kau, kau, adalah Tuan Kai?Kau Charlie Kai Harish?" Tanya Heera shock.


"Kau, menipuku?" Tanya Heera


"Kau bisa menganggapnya seperti itu! Tapi, perlu kau tau, aku sama sekali tidak berniat menipumu sama sekali."


"Lantas?"


"Bukankah kau bertemu denganku saat aku sedang menjadi Charlie?" Tanya Charlie


"Apa hubungannya?"


"Ikuti Aku! aku akan menjelaskan semuanya!" Ucap Charlie kemudian berjalan menuju sebuah ruangan, Heera pun mengikutinya.


"Duduklah!" Ucap Charlie dan Heera pun duduk di depan Charlie. Heera menatap intens Charlie.


"Jangan melihatku seperti itu, Heera!"Ucap Charlie, sambil duduk di atas meja tepat di depan Heera, Charlie menjatuhkan kedua tangannya pada sandaran kursi milik Heera, sehingga Heera terkurung dibawah Charlie.


" Apa yang kau lakukan?"Tanya Heera takut.


Charlie menyeringai, Ia mendekatkan wajahnya pada Heera, membuat Heera memalingkan wajahnya.


Charlie menegakkan tubuhnya. "Aku akan memberitahumu semuanya." Ucap Charlie Ia kemudian bangun dan membuka laptopnya yang berada di ruangan itu.


"Lihatlah ini!" Ucap Charlie.


"Poto?" Tanya Heera mendongak pada Charlie


"Yah, poto!"jawab Charlie sambil mengangguk, Heera memperhatikan poto itu dengan seksama. Hingga matanya membulat.

__ADS_1


"Seorang wanita? apa kau ingin menunjukan padaku kalau kau sudah mempunyai istri dan aku adalah istri keduamu?" Tuduh Heera.


Pletak


Charlie menyentil kepala Heera.


"Awh!" Ringis Heera.


"Otakmu itu, berpikir terlalu jauh."


"Lalu, apa maksudnya dengan poto itu?" Tanya Heera sambil menggosok keningnya, rasanya masih panas.


"Dia kakakku! dia alasanku menyamar menjadi orang miskin---


" Maksudnya?"Tanya Heera.


"Bisakah, kau tidak memotong ucapanku?" Ketus Charlie.


"Lanjutkan!"


Huft


"Kakakku meninggal bunuh diri karena depresi--


" Hah!? benarkah? bagaimana bisa??"Heera kembali memotong ucapan Charlie.


"Heeraaaa?" Ucap Charlie penuh penekanan.


"Baiklah, lanjutkan!"


"Hah, kau selalu memotong! aku lupa sampai mana tadi?" Tanya Charlie.


"Dasar pikun." Ucap Heera pelan.


"Hah? apa? sampai apa?" Tanya Charlie karena tidak mendengar ucapan Heera.


"Budeg lagi." Ucap Heera lagi tambah pelan


"Apa?sampai mana?"


"Kau bilang kalau kakakmu meninggal karena bunuh diri." Ucap Heera


"Ah, yah! Kakakku depresi, karena dia ditipu dan dikhianati habis-habisan oleh kekasihnya. Kakakku begitu mencintai laki-laki itu, namun laki-laki itu malah berselingkuh dan membawa kabur harta kakakku dan karena itu Kakak depresi dan akhirnya bunuh diri." Jelas Charlie dengan tatapan tajam serta tangan mengepal, teringat kakaknya yang bunuh diri dan Ia sama sekali tidak bisa membantunya.


Heera menutup mulutnya tak percaya, "Aku turut berduka. Tapi, aku ingin bertanya, hubungannya apa dengan kau yang pura-pura miskin?" Tanya Heera lagi.


"Bodoh! apa kau tidak bisa menyimpulkannya?" Tanya Charlie.


"Menyimpulkan gimana?"


Huft


"Kau bisa simpulkan bukan, kalau Kakakku meninggal karena dikhianati kekasih dan otomatis aku nggak ingin mengalami hal yang sama sepertinya, maka dari itu aku berpura-pura miskin."


"Ooh." Jawab Heera mengangguk-anggukan kepalanya.


"Hanya itu, tanggapanmu?" Tanya Charlie tak suka.


"Lalu? apalagi?"


"Hah! sudahlah! tidak ada yang bisa kuharapkan darimu." Ucap Charlie pelan.

__ADS_1


"Apa?" ucap Heera karena tidak mendengar ucapan Charlie.


"Jadi, bagaimana? kau masih marah padaku?"


__ADS_2