
BRAK
Daniel, Mervan, Ray dan Kai terlonjak kaget, begitu Ajeng menggebrak meja.
"Si Nathan...!!!si*lan!"Teriaknya sambil berdiri.
Pletak
"Awh!"Ringis Ajeng karena Ray menyentil keningnya.
" Apaan sih Lo? pakek nyentil kening gue segala, perih nih!"Gerutu Ajeng.
"Ajeng......! bikin rusuh! kaget!"Teriak Daniel dan Mervan.
" Nah! Lo denger 'kan? berisik!"ucap Ray pada Ajeng.
"Siapa suruh ngelamun? kaget 'kan?" elak Ajeng, tidak ingin disalahkan.
"K--
" Sudah, diam! lebih baik pikirkan rencana yang harus kita lakukan selanjutnya!"Kai memotong ucapan Ray.
"Tuh, dengerin!" Cibir Ajeng, yang kemudian kembali duduk.
Ray yang kesal pun memilih ikut duduk saja, apalagi Kai sudah memberi perintah.
"Dia bergerak cepat dan bisa meredam berita yang sudah kita sebarkan." ucap Mervan sambil mencari di laman berita lainnya, siapa tahu hanya di laman itu saja yang tidak ada berita tentang Nathan.
"Percuma! kau mencari di laman berita yang lain, Baron dan Nathan sudah membungkam mereka semua! satu lagi, Nathan tidak dipenjara, Dia bebas dengan jaminan."jelas Ray, membuat Mervan mengusap kasar wajahnya.
" Ba*ingan itu bisa bebas secepat ini? bahkan belum 1×24 jam!?"kesal Daniel.
Ray mengangguk mengiyakan pertanyaan Daniel. Ajeng mengepalkan tangannya, susah payah mereka menjebak Nathan, namun berakhir dengan kegagalan.
"Kita harus cari jalan lain, kalo mau ngejebak si Nathan!" ucap Ajeng menggebu.
"Kai! Lo ngomong dong! dari tadi diem-diem bae, sariawan Lu?" tambah Ajeng dengan diselingi nada cibiran. Dia tidak ada takut-takutnya sama sekali pada Kai.
Kai menatap datar pada Ajeng, bisa-bisanya mengatai dia sariawan.
"Dasar, tidak sopan!" cibir Ray.
"Suka-suka gue, lah! orang si Kai laki sahabat gue! benerkan? eh, ngomong-ngomong sahabat, gue jadi inget si Heera udah di kasih tau belum?"
Mervan dan Daniel serempak menggeleng.
"Kasih tau apaan?" Pertanyaan dari Heera itu, membuat mereka membeku.
"Eh, Heera? nggak kok, nggak ada!" jawab Ajeng cepat.
Heera memicingkan matanya, kemudian mengambil kursi plastik yang ada di kamarnya.
Mervan, Daniel, Ray dan Ajeng saling kode, mereka bingung harus mengatakan apa. Mereka masih belum siap.
"Oke, jadi? ada rahasia apa?" Tanya Heera menatap mereka satu persatu.
"Emh... Gimana, yah Heera?" Ajeng menendang kaki Mervan yang memang duduk didekatnya. Mervan malah balas menendang kaki Ajeng.
"Ja--di, gini, emh, Heera...." Daniel juga bingung harus berkata bagaimana. Memang sangat sulit untuk memberitahu seseorang, kalau Ia bukan anak dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Iyah, kenapa? bilang aja? kok ragu?" Tanya Heera.
Mereka kembali saling pandang,saling mengode lewat tatapan mata, seakan berkata "kau saja".Heera memandangi mereka satu persatu, dengan pandangan heran. Hingga pandangan matanya bertemu dengan pandangan Kai.
Heera bertanya pada Kai lewat matanya, namun Kai malah tersenyum.
Mervan, Daniel, Ray dan Ajeng heran, karena Kai malah tersenyum.
" Ada apa ini?"tanya Heera sekali lagi.
Kai bangun dari duduknya.
"Kau berjanji, tidak akan lemah?" tanya Kai.
"Maksudnya? katakan dengan jelas!"Lama-lama Ia jadi kesal, karena dibuat penasaran.
"Satu lagi, Aku tidak selemah dulu!" tambah Heera.
Lagi, Mervan, Daniel, Ray dan Ajeng saling pandang. Mereka yakin Heera sekarang lebih kuat, namun untuk yang satu itu, mereka yakin 100% Heera tidak akan kuat.
Kai menghembuskan nafasnya.
"Kau harus kuat!" peringat Kai.
"Tentu! tapi, apa? Hah?"kesal Heera, Ia begitu penasaran, apalagi melihat wajah tegang mereka.
" Kau, bukan anak kandung kedua orangtuamu!"
Deg!
Satu baris kalimat itu, membuat Heera seperti patung.
Kai, Mervan, Daniel, Ray dan Ajeng menahan nafas mereka. Hingga hal diluar dugaan terjadi, Heera lari keluar begitu saja dari kontrakan.
"Heera!"
Heera tidak mendengarkan, Ia kemudian naik ke motor butut Kai, karena sebelum benar-benar keluar, Ia sempat membawa kunci motornya yang disimpan tepat di meja tamu.
"Heera! tunggu! jangan gegabah!" Kai mencegah Heera yang akan melajukan motornya.
"Minggir!" Heera malah mendorong Kai.Kemudian tancap gas, namun Kai tidak menyerah, Ia berlari dan berdiri menghalangi motor Heera.
"Minggir!! Kai! kamu minggir!" Teriak Heera.
"Tidak! kau tidak bisa seperti ini, Heera!" jawab Kai, dengan berteriak.
Heera tidak punya pilihan, Ia malah menancap gas dan hampir saja Kai tertabrak, jika tidak menghindar.
"Heera! Heera!" teriak Kai.
Mervan, Daniel, Ajeng dan Ray hanya bisa melihat itu, mereka tahu kalau Heera butuh privasi.
"Si*l! Dia bener nggak kuat 'kan!" umpat Ajeng.
"Kenapa kalian tidak mencegahnya?" tanya Kai pada mereka semua.
"Kai! Heera butuh waktu!" jawab Ajeng.
"Butuh waktu? Kau tidak lihat tatapannya? Dia kalap!"
__ADS_1
"Ray! berikan kunci mobilmu!" pinta Kai.
"Ta--tapi--
" Cepat berikan!!!"Bentak Kai, sehingga refleks Ray melempar kunci itu, Kai pun segera menangkapnya dan melajukan mobil itu menyusul Heera.
"Kenapa malah diberikan?" gerutu Daniel.
"Kalian tidak lihat? ucapan Tuan Kai benar! Nona Heera bisa saja kalap! apalagi, masalah yang Ia hadapi selama beberapa bulan ini! keadaan mentalnya tidak sekuat yang kita kira!" jawab Ray.
"Bagaimana Kau bisa sangat yakin?" tanya Mervan.
"Karena kakak Tuan Kai, pernah mengalaminya." jawab Ray lirih.
Di sisi lain, Kai mengimbangi motor yang Heera kendarai.
"Heera! hentikan motornya!" Teriak Kai, namun Heera tidak mendengarkan.
"Heera! kita bisa bicarakan ini! Kau bisa berbagi denganku!" Teriak Kai lagi.
Heera malah semakin mempercepat laju motornya, matanya menatap datar kedepan dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
"Si*l!" umpat Kai, Ia pun ikut mempercepat laju mobilnya.
Motor Heera masih berada di depannya, hingga di sebuah tikungan, Ia kehilangan Heera.
Kai panik, Ia lantas memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, turun dari mobilnya, melihat kesana kemari, namun Heera tidak ada.
"Heera!"
"Heera! kau dimana!?" Teriak Kai.
Kai berlari ke dekat pepohonan dan ternyata motornya terparkir asal di sana.
"Heera...!?" Teriak Kai.
"Kemana Dia?" Gumam Kai.
Ia lantas melihat sebuah jalan dan karena jalan itu basah, sehingga jejak kaki orang yang berjalan kesana akan terlihat.
"Apa Dia kesana?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Kai pun memutuskan menelusuri jalan itu. Jalan yang basah dan penuh lumpur.
"Heera, jangan sampai kau melakukan hal bodoh."Gumam Kai sambil menghindar dari kubangan lumpur.
" Aku tidak akan memafakanmu Heera! awas saja, jika kau berbuat yang tidak-tidak."
Samar-samar Kai mendengar suara teriakan.
"Kenapa harus seperti ini....!"
"Apa itu Heera?"
Kai pun mempercepat jalannya, Ia pun bisa melihat Heera yang tengah berdiri sambil berteriak - teriak.
"Siapa aku...!"
"Kenapa harus seperti ini...!?"
__ADS_1
"Ini tidak adil!!"
Kai melipat tangannya di dada, Ia akan membiarkan Heera sampai puas. Seingatnya Heera tidak meluapkan semua masalahnya dengan cara ini sebelumnya.